Foto-foto Matahari yang baru dirilis dari gerhana matahari total 12 Agustus 2026 mengungkap atmosfer luar Matahari dengan detail yang belum pernah terlihat sebelumnya. Citra resolusi tinggi itu memperlihatkan sebuah lubang korona raksasa serta struktur langka yang dikenal sebagai cincin asap di dalam korona Matahari.
Foto-foto tersebut diambil dari Gunung Pico Trigaza di Spanyol oleh para peneliti yang tergabung dalam proyek Solar Wind Sherpas, yang dikoordinasikan oleh Universitas Hawaii. Pemrosesan citra dipimpin oleh Miloslav Druckmüller, profesor matematika di Universitas Teknologi Brno, Republik Ceko. Menurut Druckmüller, timnya kali ini berhasil menangkap cincin asap dengan sangat baik, dengan pusaran-pusaran yang terpilin indah dan jumlah yang sangat banyak di korona.
Cincin asap adalah pusaran dalam angin surya yang bentuknya menyerupai lingkaran yang diembuskan perokok. Struktur ini pertama kali dikenali dalam foto gerhana matahari pada 2008. Para peneliti lama kesulitan menjelaskan proses terbentuknya, hingga kini diketahui bahwa cincin tersebut merupakan hasil dari perbedaan suhu dalam plasma korona dan menyebar mengikuti garis magnet Matahari jauh ke ruang antarplanet.
Selain cincin asap, citra dari Spanyol itu juga mengungkap sebuah lubang korona raksasa, yakni bukaan pada garis medan magnet Matahari. Melalui bukaan tersebut, angin surya dapat lolos dengan lebih mudah pada kecepatan sangat tinggi, mencapai 800 kilometer per detik. Lubang korona merupakan wilayah yang lebih dingin di atmosfer Matahari dan tampak lebih gelap dalam citra ultraviolet ekstrem dan sinar-X dari wahana antariksa. Struktur ini terbentuk di wilayah tempat garis medan magnet memanjang keluar ke antariksa, bukan melingkar kembali ke permukaan, sehingga angin surya berkecepatan tinggi dapat melarikan diri. Lubang korona dapat bertahan selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.
Fotografi gerhana memberikan sudut pandang unik terhadap proses yang terjadi di atmosfer atas Matahari, yang tetap tersembunyi bahkan dari observatorium antariksa paling canggih. Wahana antariksa dan teleskop di Bumi mengandalkan instrumen bernama koronagraf untuk melihat korona. Karena korona sejuta kali lebih redup daripada permukaan Matahari, para peneliti harus menutupi piringan Matahari yang tampak dengan alat penutup di dalam teleskop. Penutup itu harus menutupi area yang lebih luas daripada piringan Matahari itu sendiri untuk melindungi citra dari efek difraksi.
Saat gerhana matahari total, Bulan secara alami menutupi piringan Matahari yang terang, sehingga para ilmuwan dapat menangkap pandangan yang sangat detail dari korona bagian dalam yang sulit diperoleh dengan koronagraf konvensional. Inilah alasan mengapa gerhana total tetap menjadi momen penting bagi ilmu Matahari, meskipun teknologi teleskop terus berkembang.
Apa poin penting dari berita ini?
- Foto gerhana matahari total 12 Agustus 2026 yang diambil dari Gunung Pico Trigaza di Spanyol mengungkap lubang korona raksasa dan struktur cincin asap di atmosfer Matahari.
- Cincin asap adalah pusaran angin surya yang terbentuk akibat perbedaan suhu plasma korona dan menyebar mengikuti garis magnet Matahari ke ruang antarplanet.
- Lubang korona adalah bukaan pada garis medan magnet Matahari tempat angin surya lolos dengan kecepatan hingga 800 kilometer per detik.
- Gerhana total memungkinkan ilmuwan melihat korona bagian dalam dengan detail luar biasa karena Bulan menutupi piringan Matahari secara alami.
- Korona sejuta kali lebih redup daripada permukaan Matahari, sehingga pengamatan biasa memerlukan koronagraf yang menutupi piringan Matahari.


