Sunday, 1 November 2026
Olahraga

Dari Stigma Malcriada ke Ring Tinju: Meida Menemukan Arah Hidup di Sasana Prayoga Bogor

Meida berlatih tinju di sasana dengan didampingi pelatihnya

Meida menemukan arah hidup baru lewat tinju. Perempuan muda yang sempat dicap sebagai anak salah didik itu kini berlatih hampir setiap hari di Sasana Prayoga Bogor, menempuh perjalanan berkilo-kilometer dengan angkot demi mengasah kemampuan dan mengejar asa menjadi atlet. Kisahnya dimuat dalam seri Kolong Kota CNN Indonesia.

Jauh sebelum mengenal ring, Meida lebih dulu menerima pukulan dalam bentuk lain: stigma sebagai anak salah didik. Label malcriada, sebutan untuk anak perempuan tanpa aturan, melekat padanya saat itu. Ia dipandang sebagai anak yang tumbuh liar, dan sekolahnya berhenti di kelas 5 SD. “Kalau takut dipukul, enggak usah ikut tinju,” kata Meida enteng, seolah pukulan adalah hal biasa.

Pada 2025, takdir mempertemukannya dengan Coach Dirman, seorang pelatih tinju. Pertemuan itu mengubah arah hidupnya. Dirman mengangkatnya sebagai anak dan membawanya tinggal bersama keluarga barunya. Di sana, Meida bergelut dengan aturan, disiplin, dan tanggung jawab. Perlahan, tinju memberinya arah dan tujuan yang sebelumnya tidak ia punya.

Jadwal latihannya ketat. Ia mulai dengan jogging saat Subuh, berlatih hingga menjelang Magrib, lalu beristirahat tepat waktu tanpa begadang. “Harus tetap latihan dan siap kapan pun kalau mau tanding. Jadi atlet itu bonus, tinju buat sehat,” ujarnya. Ia ingin berlaga di Byon Combat dan mengikuti jejak idolanya, Felmy Sumaehe.

Meski baru sebulan fokus berlatih tinju, ia berkesempatan ikut pertandingan antarsasana. Meida boleh saja kalah atau menang; yang utama, ia berani melangkah ke ring. Sebab pada akhirnya, tinju bukan semata soal melayangkan pukulan. Di atas ring, Meida gigih menghadapi lawan. Di luar ring, ia tegar menghadapi hidup.

Bagi Meida, sasana bukan hanya tempat menempa fisik. Di sana ia menemukan keluarga yang tidak terikat darah, tetapi terjalin lewat perjuangan bersama. Mereka berlatih, saling menjaga, lalu pulang dengan tubuh yang sama-sama letih. Kisah ini menunjukkan bahwa olahraga bisa menjadi jalan keluar dari stigma: disiplin di sasana perlahan menggantikan label yang dulu melekat, dan keberanian melangkah ke ring menjadi awal dari kehidupan yang lebih terarah.

Kisah Meida juga mengingatkan bahwa bakat dan ketekunan bisa tumbuh dari tempat yang tidak terduga. Sasana tinju di pinggiran kota, pelatih yang bersedia membimbing, dan kemauan untuk berlatih setiap hari adalah kombinasi yang mengubah hidup seseorang. Bagi banyak anak muda dengan latar belakang serupa, olahraga dapat menjadi pintu masuk menuju disiplin, kepercayaan diri, dan masa depan yang lebih baik.

Apa poin penting dari berita ini?

  • Meida menemukan arah hidup baru lewat tinju dan berlatih hampir setiap hari di Sasana Prayoga Bogor.
  • Sebelum mengenal ring, ia dicap sebagai anak salah didik dan sekolahnya berhenti di kelas 5 SD.
  • Pada 2025 ia bertemu Coach Dirman, yang mengangkatnya sebagai anak dan membawanya tinggal bersama keluarga barunya.
  • Jadwal latihannya ketat, dari jogging saat Subuh hingga menjelang Magrib, tanpa begadang.
  • Ia ingin berlaga di Byon Combat dan mengikuti jejak idolanya, Felmy Sumaehe, serta telah berkesempatan ikut pertandingan antarsasana.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *