Sekitar 200 peserta dari berbagai pesantren dan lembaga pendidikan di Solo Raya mengikuti pelatihan Santri Matic (Santri Melek Teknologi) di Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan, Surakarta, pada Sabtu, 31 Oktober 2026. Pelatihan yang digelar Kementerian Ekonomi Kreatif ini mengajak para santri mempelajari cara membuat konten, memasarkan produk, hingga mencari peluang penghasilan melalui platform digital.
Di Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan pada hari itu, ratusan santri tampak sibuk mempelajari keterampilan baru di luar kurikulum pesantren. Ada yang mulai menjual parfum, pakaian, hingga sepatu. Ada pula yang sudah merasakan manisnya komisi sebagai afiliator. Telepon genggam yang semula hanya digunakan untuk berkomunikasi dan berselancar di media sosial, kini menjadi alat untuk mencari tahu bagaimana peluang usaha serupa bisa mereka bangun.
Salah satu sesi yang paling menarik perhatian peserta adalah ketika Salmah Haddad, ibu rumah tangga yang berhasil menjadi kreator Golden Tick pada 2024, membagikan pengalamannya. Salmah menceritakan bahwa penghasilannya bisa mencapai sekitar 10 kali upah minimum regional (UMR) Solo. Mendengar angka itu, perhatian para santri seketika tertuju kepadanya, karena sosok yang berbicara bukan pengusaha besar, melainkan ibu rumah tangga yang memulai dari dapur dan gawai di tangannya.
Salah satunya Risyab, pengurus Pondok Pesantren Menara Quran. Pemuda berusia 21 tahun itu bukan orang baru dalam dunia jual-beli digital. Ia sudah lebih dahulu mencoba menjadi afiliator dengan memasarkan berbagai produk fesyen, mulai dari parfum, pakaian, hingga sepatu melalui Instagram, WhatsApp, dan Twitter. Perjalanannya dimulai dari komisi Rp24 ribu pada bulan pertama, dan kini penghasilannya dari aktivitas affiliate tersebut sudah mencapai jutaan rupiah.
Namun, Risyab rupanya tidak berhenti di sana. Ia juga mencoba berjualan telepon genggam yang dibelinya dari penjual lain melalui platform daring. Bermodalkan pemasaran lewat WhatsApp Story, ia berhasil mencatatkan penjualan pertamanya hingga sebesar Rp14 juta. “Aku juga sudah mulai jadi affiliate, tapi baru empat bulan,” ujarnya, merendah tentang capaian yang sebenarnya sudah cukup jauh bagi pemula.
Ke depan, Risyab ingin mengembangkan usahanya lebih serius. Ia bahkan berencana membangun tim kecil yang bisa membantunya menggarap konsep konten hingga proses penyuntingan video. Sebuah langkah yang menunjukkan bahwa bagi sebagian santri, dunia digital bukan lagi sekadar tempat mencari hiburan, melainkan ruang untuk membangun usaha.
Cerita lain datang dari Rohmat Ibnu Albazzar. Berbeda dengan Risyab yang sudah mulai merasakan hasilnya, Rohmat masih berusaha menemukan waktu untuk kembali menekuni bisnis digital. Ia sebenarnya pernah mencoba menjadi afiliator dan sempat memperoleh komisi hingga puluhan ribu rupiah. Namun, kesibukannya sebagai pengurus pondok membuat aktivitas tersebut terhenti.
Pelatihan Santri Matic kemudian membuka kembali ketertarikannya. Setelah mengikuti sejumlah sesi bersama praktisi, Rohmat berencana memulai lagi dengan membagikan tautan produk-produk yang dimilikinya. Menariknya, Rohmat sudah memiliki gambaran tentang apa yang ingin dilakukan dengan penghasilan dari bisnis digital tersebut. Ia ingin mengumpulkan modal untuk membuka usaha kuliner, khususnya pecel lele, makanan yang menjadi salah satu hobinya.
Baginya, menjadi santri dan berwirausaha bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Justru, kemampuan memanfaatkan teknologi dapat menjadi bekal tambahan ketika kelak kembali dan berkontribusi kepada masyarakat. Kisah-kisah seperti inilah yang ingin didorong melalui program Santri Matic.
Menteri Ekonomi Kreatif sekaligus Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, mengatakan pesantren memiliki potensi besar untuk menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi kreatif nasional. Dengan jumlah santri yang besar dan jejaring pesantren yang luas, pesantren dipandang dapat menjadi lahan subur bagi tumbuhnya kreator dan wirausaha digital baru, selama mereka dibekali keterampilan yang tepat.
Apa poin penting dari berita ini?
- Sekitar 200 peserta dari berbagai pesantren dan lembaga pendidikan di Solo Raya mengikuti pelatihan Santri Matic (Santri Melek Teknologi) di Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan, Surakarta, Sabtu, 31 Oktober 2026.
- Pelatihan yang digelar Kementerian Ekonomi Kreatif ini mengajarkan santri membuat konten, memasarkan produk, dan mencari penghasilan melalui platform digital.
- Salmah Haddad, kreator Golden Tick 2024, membagikan pengalamannya dengan penghasilan sekitar 10 kali UMR Solo.
- Risyab, pengurus Pondok Pesantren Menara Quran berusia 21 tahun, memulai sebagai afiliator dari komisi Rp24 ribu hingga kini berpenghasilan jutaan rupiah, dan pernah mencatat penjualan telepon genggam Rp14 juta lewat WhatsApp Story.
- Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengatakan pesantren memiliki potensi besar untuk menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi kreatif nasional.

