Dokumenter Behind the Flickering Light: The Archive, yang dikenal di Indonesia sebagai Anak Sabiran, Di Balik Cahaya Gemerlapan atau Sang Arsip, membawa semangat pelestarian film Indonesia ke panggung internasional. Film itu diputar dalam Tokyo International Film Festival (TIFF) 2026, pada 26 Oktober 2026 di TOHO Cinemas Chanter, Tokyo, sebagai bagian dari program CROSSCUT ASIA+, program kurasi bersama TIFF dan Japan Foundation yang memperkenalkan pilihan sinema Asia Tenggara.
Dokumenter berdurasi 160 menit ini dibuat oleh Fuad Fauji, Hafiz Rancajale, dan Mahardika Yudha bersama Misbach Yusa Biran, sosok yang mendedikasikan hidupnya untuk pelestarian sejarah dan wacana perfilman Indonesia. Film ini mengurai gagasan pengarsipan melalui pemikiran Misbach: bagaimana film disimpan, siapa yang bertanggung jawab menjaga arsip, serta risiko kerusakan material yang dapat menghilangkan jejak sejarah. Pesan yang dibawanya sederhana tetapi mendesak: film bukan sekadar hiburan yang usai saat layar gelap, melainkan warisan audiovisual yang merekam pemikiran, budaya, dan perjalanan masyarakat.
Misbach Yusa Biran mendirikan Sinematek Indonesia pada 1975, lembaga yang disebut sebagai arsip film pertama di Asia Tenggara. Ia mengirim proposal pembentukan lembaga itu kepada Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, yang menyetujuinya. Di dalam film, kondisi pelestarian yang dihadapi Misbach direkam dengan jujur, termasuk memburuknya kondisi fisik seluloid dan fasilitas yang memprihatinkan. Misbach yang saat itu sedang sakit tetap mendukung penyelesaian film, tetapi meninggal dunia di tengah proses pembuatannya, setelah sebelumnya sempat enggan ikut serta karena sejumlah sutradara telah membuat biografi tentang dirinya.
Dalam diskusi di festival, Fuad Fauji berbicara kepada ANTARA di Tokyo pada Rabu, 28 Oktober 2026. Ia mengatakan film tersebut diputar karena temanya sejalan dengan pembahasan festival mengenai pentingnya arsip film sebagai jejak kebudayaan. Fuad juga menyampaikan kenyataan yang kurang menggembirakan: jumlah sineas yang tergerak menitipkan arsip di Sinematek berkurang setelah digitalisasi memudahkan rumah produksi menyimpan arsip sendiri. Di sisi lain, ada kabar baik dari dalam lembaga: Mohammad Fachrizal, staf Sinematek Indonesia yang menangani perawatan dan pemeliharaan film, mengatakan kondisi lembaga itu kini membaik setelah revitalisasi fasilitas dan penataan koleksi.
Diskusi itu juga mempertemukan dua tradisi pengarsipan. Kurator Arsip Film Nasional Jepang, Okada Hidenori, mengenang Misbach sebagai guru, pendidik, sutradara, dan sosok yang mendedikasikan diri untuk film. Okada berbagi cerita mengenai pengarsipan film di Jepang sejak 1970-an, dan mengatakan kisah Fuad serta Fachrizal mengingatkannya pada masa perjuangan arsip film di Jepang. Pertemuan itu menunjukkan bahwa persoalan arsip bukan milik satu negara: di mana pun, film yang tidak dirawat akan hilang, dan ingatan yang hilang bersama film tidak bisa diputar ulang.
TIFF 2026 sendiri berlangsung pada 26 Oktober hingga 4 November 2026 di Tokyo, mengusung tema Connecting: Cinema Connects Us to the World Beyond. Enam film Indonesia tampil dalam berbagai program festival itu, dari kompetisi utama hingga kurasi Asia Tenggara, dan Sang Arsip hadir di antara mereka sebagai pengingat bahwa di balik gemerlap layar, ada pekerjaan sunyi menjaga agar film-film itu tetap bisa ditonton generasi berikutnya.
Kehadiran Sang Arsip di Tokyo menjadi penanda penting bagi perfilman Indonesia. Di saat perhatian publik tertuju pada film-film baru dan bintang-bintang besar, dokumenter ini mengajak penonton menengok ke belakang, ke gudang-gudang arsip tempat sejarah sinema disimpan dalam gulungan seluloid yang rapuh. Tanpa pekerjaan itu, tidak akan ada warisan yang bisa dirayakan, dan tidak akan ada sejarah yang bisa dipelajari.
Apa poin penting dari berita ini?
- Dokumenter Behind the Flickering Light: The Archive atau Sang Arsip diputar dalam Tokyo International Film Festival 2026.
- Film berdurasi 160 menit itu dibuat Fuad Fauji, Hafiz Rancajale, dan Mahardika Yudha bersama Misbach Yusa Biran.
- Misbach Yusa Biran mendirikan Sinematek Indonesia pada 1975, arsip film pertama di Asia Tenggara.
- Film ini mengurai gagasan pengarsipan melalui pemikiran Misbach tentang pentingnya menjaga warisan audiovisual.
- Dalam diskusi di festival, kurator Arsip Film Nasional Jepang mengenang Misbach sebagai guru dan pendidik.


