Santri Film Festival 2026, yang dikenal dengan nama SANFFEST, digelar dengan skala yang jauh lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya. Festival yang diadakan dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional ini mengusung tema The Verses in Motion dan mendorong para santri membuat film berbasis nilai Al-Quran yang dipadukan dengan isu-isu internasional.
Ketua Komite SANFFEST 2026, Neno Warisman, menjelaskan bahwa tema tersebut dipilih setelah melihat besarnya potensi dan bakat para santri pada gelaran tahun lalu. Menurut Neno, film tidak bisa berbicara sendiri, karena film adalah kanvas yang luas. Karena itu, para santri diajak untuk berpikir, bukan sekadar mengambil isu internasional begitu saja, melainkan mengolahnya dengan tetap berpijak pada nilai Al-Quran.
Untuk memperluas wawasan peserta, SANFFEST 2026 secara khusus menghadirkan sineas luar negeri dari Palestina dan Bosnia. Neno berprinsip bahwa langit sangat tinggi, sehingga anak-anak tidak boleh hanya terbang rendah. Kehadiran sineas mancanegara diharapkan memberikan stimulasi dan pembelajaran langsung yang tidak bisa didapatkan hanya dari teori di kelas.
Para sineas tamu itu adalah Ameen Nayfeh, sutradara dan penulis skenario asal Palestina. Karyanya yang berjudul 200 Meters, dirilis pada 2020, tayang perdana di Venice Film Festival melalui program Giornate degli Autori. Ameen juga merupakan peraih BNL People’s Choice Award dan pernah menjadi perwakilan resmi Yordania untuk kategori Film Fitur Internasional di Academy Awards 2021.
Sineas kedua adalah Faruk Loncarevic, sutradara, penulis skenario, dan akademisi asal Bosnia dan Herzegovina. Ia merupakan sutradara film dan teater asal Sarajevo dengan film debut Mum’n’Dad pada 2006, yang meraih Special Jury Prize di Sarajevo Film Festival. Karya lainnya, With Mum pada 2013, terpilih sebagai perwakilan Bosnia dan Herzegovina untuk kategori Film Berbahasa Asing Terbaik di Academy Awards 2015.
Sineas ketiga adalah Ahmed Mansour, sineas dan sutradara film dokumenter asal Palestina. Pria asal Gaza ini menempuh pendidikan News and Documentary di New York University. Film dokumenter panjang debutnya, Brooklyn, Inshallah pada 2019, ditayangkan di Mountainfilm dan DOC NYC. Ia juga terpilih sebagai Mountainfilm Emerging Filmmaker Fellow 2019 serta mendirikan Filistia Films.
Ameen Nayfeh menilai para santri sangat beruntung memiliki festival seperti SANFFEST. Ia mengenang masa ketika masih berstatus pelajar dan berharap ada pembuat film, terutama dari mancanegara, yang datang mengunjungi mereka. Menurutnya, kesempatan mendapatkan pengalaman langsung dari sineas internasional adalah pengalaman yang membuka wawasan tentang dunia perfilman.
Direktur Program SANFFEST 2026, Fadhli Sapawie, menjelaskan bahwa gelaran tahun ini terasa lebih masif berkat dukungan penuh dari pemerintah serta kementerian terkait. Ia menyebut animo peserta sangat besar, dan untuk pertama kalinya pemerintah mendukung penuh festival ini. Program SANFFEST 2026 sendiri resmi didanai oleh Dana Indonesia Raya melalui LPDP dan didukung langsung oleh Kementerian Kebudayaan RI.
Untuk menampung bakat yang beragam, SANFFEST 2026 membagi kompetisi ke dalam tiga kategori utama. Kategori pertama adalah Santri Pelajar, khusus santri tingkat sekolah hingga maksimal SMA atau MA sederajat. Kategori kedua adalah Santri Umum, untuk alumni pesantren hingga jenjang universitas dengan usia maksimal 30 tahun. Kategori ketiga adalah Film Inklusi, jalur khusus yang memberikan afirmasi bagi santri penyandang disabilitas yang wajib melibatkan kru utama disabilitas, serta santri dari daerah 3T, yakni Tertinggal, Terdepan, dan Terluar.
Festival ini memperebutkan total hadiah sebesar Rp415 juta untuk 15 kategori penghargaan. Kursi dewan juri diisi oleh jajaran profesional di industri perfilman Indonesia, seperti sutradara Fajar Bustomi, sinematografer Yudi Datau, aktris senior Niniek L. Karim, hingga sutradara teater Zak Sorga. Rangkaian roadshow SANFFEST 2026 ke berbagai pesantren di Indonesia juga semakin meriah dengan keterlibatan sederet aktor kenamaan, di antaranya Mario Irwinsyah, Arie Untung, Ricky Harun, hingga Syakir Daulay.
Apa poin penting dari berita ini?
- Santri Film Festival 2026 mengusung tema The Verses in Motion dan digelar lebih masif dari tahun sebelumnya.
- Para santri didorong membuat film berbasis nilai Al-Quran yang dipadukan dengan isu-isu internasional.
- Festival menghadirkan sineas tamu dari Palestina dan Bosnia, yakni Ameen Nayfeh, Faruk Loncarevic, dan Ahmed Mansour.
- Kompetisi dibagi ke dalam tiga kategori, yakni Santri Pelajar, Santri Umum, dan Film Inklusi.
- Total hadiah mencapai Rp415 juta untuk 15 kategori, dengan dukungan pemerintah, LPDP, dan Kementerian Kebudayaan RI.


