Angkatan Udara Amerika Serikat memulihkan kargo eksperimental yang diluncurkan dengan kapsul Starfall milik SpaceX, sebuah langkah maju dalam upaya menilai apakah pengiriman cepat dari titik ke titik bisa mengantarkan pasokan ke mana pun di Bumi. Kapsul itu terbang dalam misi tumpangan Bandwagon-5 yang diluncurkan roket Falcon 9 dari Cape Canaveral Space Force Station, Florida, pada 20 Oktober 2026, dan kembali mendarat di Samudra Pasifik dengan parasut. Laboratorium Penelitian Angkatan Udara (AFRL) mengonfirmasi pemulihan kargo tersebut pada 26 Oktober 2026.
Uji ini merupakan bagian dari proyek Rocket Cargo milik AFRL, yang mempelajari apakah roket komersial besar bisa memindahkan material ke seluruh dunia dalam tenggat taktis. Di dalam kapsul Starfall, AFRL menempatkan pod kargo lincah yang dirancang untuk menampung berbagai jenis muatan, lengkap dengan sensor yang merekam suhu, guncangan, dan getaran yang dialami kargo selama peluncuran dan masuk kembali ke atmosfer. Pod-pod itu berisi peralatan perwakilan misi: pelacak berkemampuan komunikasi satelit, baterai, alat desalinasi air dengan osmosis terbalik, perlengkapan bertahan hidup, dan peralatan medis darurat.
Para insinyur juga melakukan uji kesesuaian rakit penyelamat UNI-PAC III di dalam kapsul, untuk melihat apakah rakit itu bisa diterbangkan pada uji berikutnya. Gagasannya adalah suatu hari nanti kapsul seperti Starfall bisa mengantarkan perlengkapan penyelamatan kepada awak pesawat yang jatuh atau pelaut yang terdampar jauh dari pangkalan mana pun. Itulah inti dari pengiriman titik ke titik: bukan sekadar cepat, melainkan mampu menjangkau tempat-tempat tanpa landasan pacu atau jalan.
Starfall sendiri adalah kapsul pendarat ulang tanpa awak buatan SpaceX, berbentuk cakram dengan diameter sekitar 3,1 meter dan berat sekitar 2.100 kilogram, yang mampu membawa pulang muatan hingga 1.000 kilogram dengan parasut. SpaceX menerbangkan demonstrasi pertama Starfall pada Juni 2026, dan dokumen regulasi menggambarkannya sebagai kendaraan untuk pengiriman kargo cepat sekaligus pasar komersial bagi produk yang dibuat di orbit dan dikembalikan ke Bumi.
Ambisi AFRL untuk Rocket Cargo jauh lebih besar dari satu kapsul. Laboratorium itu menyatakan konsep ini berbeda dari upaya pengiriman cepat lainnya karena satu roket besar bisa membawa puluhan ton per peluncuran. Angkatan Udara menyatakan keinginannya agar kargo yang dikirim roket bisa mencapai hampir semua titik di Bumi dalam waktu sekitar satu setengah jam, dan pada akhirnya memindahkan beban yang sebanding dengan pesawat angkut C-17. Pada Juni 2026, AFRL memberikan 4,3 juta dolar kepada Geneva Technologies untuk membantu merancang sistem kargo roket tersebut.
Komandan AFRL, Brigadir Jenderal Douglas Wickert, menyebut peluncuran itu sebagai demonstrasi lain tentang bagaimana AFRL bermitra dengan industri untuk mengurangi risiko, mengumpulkan data keras, dan menghadirkan teknologi bagi pasukan operasional. Direktur Kantor Transisi Teknologi AFRL, Adam Remaly, menyebutnya pencapaian penting untuk menunjukkan potensi pengiriman kargo roket bagi mobilitas global yang cepat bagi pasukan masa depan.
AFRL menyatakan pengujian bertahap akan terus dilakukan untuk menilai teknologi yang dibutuhkan dalam pengiriman kargo yang cepat dan berskala besar, dengan bekerja bersama sejumlah perusahaan komersial, termasuk SpaceX, Blue Origin, Rocket Lab, Sierra Space, Anduril, Inversion Space, dan Outpost Space. Uji Starfall ini belum menjawab semua pertanyaan: laboratorium itu belum membagikan data pengukuran sensornya dan belum menyebutkan berapa pod yang diterbangkan. Namun sebagai pembuktian konsep, kapsul yang meluncur, kembali, dan ditemukan utuh di Pasifik itu sudah memberi satu jawaban penting, bahwa gagasan mengantar kargo lewat roket bukan lagi sekadar teori.
Apa poin penting dari berita ini?
- Angkatan Udara Amerika Serikat memulihkan kargo eksperimental yang diluncurkan dengan kapsul Starfall milik SpaceX.
- Kapsul itu terbang dalam misi Bandwagon-5 yang diluncurkan dari Cape Canaveral pada 20 Oktober 2026.
- Di dalam kapsul, AFRL menempatkan pod kargo dengan sensor suhu, guncangan, dan getaran.
- Starfall adalah kapsul pendarat ulang tanpa awak berdiameter sekitar 3,1 meter yang mampu membawa pulang muatan hingga 1.000 kilogram.
- Angkatan Udara ingin kargo yang dikirim roket bisa mencapai hampir semua titik di Bumi dalam waktu sekitar satu setengah jam.


