Film Empat Musim Pertiwi kembali menjadi perbincangan di Tokyo. Dalam sebuah perbincangan di ibu kota Jepang itu, sutradara Kamila Andini membahas unsur monster hingga UFO yang hadir dalam filmnya. Pembahasan tersebut menjadi sorotan karena unsur-unsur itu bukan sekadar tempelan, melainkan bagian dari cara film ini bercerita tentang trauma, penolakan, dan pengalaman yang sulit dijelaskan dengan kata-kata biasa.
Empat Musim Pertiwi, yang dikenal secara internasional dengan judul Four Seasons in Java, merupakan karya sutradara Kamila Andini. Film ini dibintangi Putri Marino sebagai Pertiwi, bersama Arya Saloka, Christine Hakim, dan Hana Malasan. Film yang diproduseri Ifa Isfansyah melalui Fourcolours Films ini berdurasi 137 menit dan mulai tayang di bioskop Indonesia pada 8 Oktober 2026.
Ceritanya berpusat pada Pertiwi, seorang perempuan yang kembali ke kampung halamannya di lereng Pegunungan Bromo, Jawa Timur, setelah menjalani hukuman penjara selama 20 tahun karena membunuh seorang pria demi membela diri dari kekerasan seksual. Kepulangan itu tidak berlangsung mudah. Pertiwi menghadapi penolakan warga serta pertentangan dengan ayahnya dan sejumlah figur laki-laki berpengaruh di desanya, yakni Fajar, Jonet, dan Pak Sapto.
Alur film bergerak melalui kilas balik yang mengajak penonton menyusun petunjuk mengenai masa lalu Pertiwi secara bertahap. Sinematografer Batara Goempar membangun suasana film melalui lanskap pegunungan yang berkabut dan dingin, sehingga lingkungan terasa menjadi bagian dari pengalaman batin tokoh utama. Di tengah drama yang realistis itu, film ini menyisipkan unsur surealisme berupa fenomena objek terbang tak dikenal dan sosok makhluk yang membayangi Pertiwi.
Unsur monster dan UFO inilah yang dibahas Kamila Andini di Tokyo. Dalam film, kemunculan fenomena ganjil tersebut menggeser cerita dari drama psikologis menuju wilayah yang lebih simbolis. Penonton diajak menafsirkan sendiri berbagai petunjuk dan mempertanyakan batas antara kenyataan, trauma, serta pengalaman yang sulit dijelaskan. Kehadiran unsur tersebut berkaitan pula dengan karakter Mak Ira yang diperankan Christine Hakim, sosok yang menjadi salah satu tempat Pertiwi bersandar.
Perjalanan festival film ini terbilang panjang. Four Seasons in Java sebelumnya meraih penghargaan utama Tokyo Project Award dalam Tokyo Gap Financing Market. Film ini kemudian menjalani pemutaran perdana dunia dalam program Centrepiece di Toronto International Film Festival 2026, lalu berlanjut ke program A Window on Asian Cinema di Busan International Film Festival 2026. Di Tokyo International Film Festival 2026 yang berlangsung 26 Oktober hingga 4 November 2026, film ini menjalani pemutaran perdana di Jepang melalui program CROSSCUT ASIA+, sebuah inisiatif festival bersama Japan Foundation yang tahun ini mengusung tema Side by Side.
Capaian lain yang mengiringi film ini adalah pemilihannya oleh Komite Seleksi Oscar Indonesia sebagai wakil Indonesia untuk kategori Film Fitur Internasional Terbaik pada Academy Awards ke-99 atau Oscar 2027. Pencalonan itu menjadi kesempatan untuk memperkenalkan karya Indonesia kepada industri perfilman dunia, sekaligus menegaskan posisi Kamila Andini sebagai salah satu sutradara Indonesia yang karyanya terus berkeliling festival internasional.
Dengan pembahasan monster dan UFO di Tokyo, Empat Musim Pertiwi menunjukkan bahwa film Indonesia tidak hanya bercerita tentang peristiwa, tetapi juga tentang cara manusia memaknai luka. Unsur ganjil dalam film ini bukan sekadar kejutan visual, melainkan bahasa lain untuk menggambarkan sesuatu yang selama ini sulit diucapkan, termasuk pengalaman kekerasan dan perasaan tidak dipercaya.
Apa poin penting dari berita ini?
- Di Tokyo, sutradara Kamila Andini membahas unsur monster hingga UFO dalam film Empat Musim Pertiwi.
- Film ini dibintangi Putri Marino sebagai Pertiwi, bersama Arya Saloka, Christine Hakim, dan Hana Malasan.
- Ceritanya mengikuti Pertiwi yang pulang ke desa di lereng Bromo setelah 20 tahun dipenjara karena membunuh pria demi membela diri dari kekerasan seksual.
- Alur bergerak lewat kilas balik dengan sinematografi Batara Goempar, diselingi unsur surealisme berupa fenomena objek terbang tak dikenal dan sosok makhluk.
- Film berdurasi 137 menit ini tayang di bioskop Indonesia mulai 8 Oktober 2026 dan diproduseri Ifa Isfansyah melalui Fourcolours Films.
- Film ini pernah meraih Tokyo Project Award, tayang perdana dunia di Toronto, tampil di Busan, menjalani pemutaran perdana di Jepang lewat program CROSSCUT ASIA+ di Tokyo, dan terpilih sebagai wakil Indonesia untuk Oscar 2027.


