Saturday, 31 October 2026
Bollywood

Desainer Efek Visual Ramayana Minta Publik Dukung Filmnya, Kritik Sah tapi Perundungan Melemahkan Sineas

Poster epik film Ramayana yang menampilkan sosok bermahkota emas di atas para tokoh berpakaian oranye

Perdebatan soal efek visual film Ramayana yang dibintangi Ranbir Kapoor mendapat pembelaan dari dua praktisi yang memahami dapur produksinya. Supervisor efek visual Yashoda Parthasarthy dan Vijesh Rajan, yang pernah mengerjakan proyek seperti Sacred Games, Farzi, dan Gangs of Wasseypur, menyerukan agar publik mendukung film tersebut, apa pun kekurangannya, karena skala dan jangkauan globalnya bisa membuka pintu bagi sineas India lainnya.

Ramayana dijadwalkan rilis di seluruh dunia pada 5 November, dan kritik atas efek visualnya ramai beredar di internet menjelang penayangan. Dalam percakapan dengan media, kedua supervisor itu mengingatkan bahwa membuat efek visual tampak fotorealistis membutuhkan kerja yang sangat besar, serta menggemakan pernyataan aktor sekaligus ko-produser film, Yash, bahwa film seperti Ramayana harus didukung agar sineas India lain bisa menjangkau penonton global.

Vijesh Rajan bercerita bahwa ketika menempuh pendidikan magister film di Australia, ide tesisnya adalah apakah epik seperti Ramayana atau Mahabharata bisa dibuat dalam skala The Lord of the Rings atau Chronicles of Narnia. Ia mengaku selalu memimpikan film seperti itu benar-benar dibuat. Sebagai penonton India, menurutnya, usaha semacam ini layak didukung, apalagi film ini dipasang dengan anggaran masif dan dirilis secara global dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan kolaborasi dari Hans Zimmer, AR Rahman, dan teknisi-teknisi papan atas. Menurutnya, selain Toxic, tidak ada film lain yang mendapatkan rilis seluas ini.

Vijesh menekankan bahwa kritik itu sendiri perlu, tetapi perundungan dan komentar pedas bisa meninggalkan rasa tidak enak bagi para pembuat film. Ia menilai ada semacam kampanye melawan film ini dan mempertanyakan alasannya, sebab film yang dipasang dalam skala sebesar ini justru seharusnya didukung. Dukungannya bukan berarti menutup mata terhadap kekurangan: kekurangan tetap boleh dibahas, tetapi ada cara menyampaikan yang tidak mematikan semangat sineas. Jika film seperti ini didukung, menurutnya, pintu bagi sineas India lain untuk menjangkau penonton internasional akan semakin terbuka, dan itu merupakan langkah besar.

Yashoda Parthasarthy yang juga pernah mengerjakan Raman Raghav 2.0 dan Ghoul menambahkan perspektif dari sisi pekerja efek visual. Ia mengingat masa studinya ketika animasi tiga dimensi sendiri sudah merupakan proses yang sangat sulit, dan dalam satu dekade terakhir proses itu memang berkembang pesat. Namun demikian, tetap ada kerja yang sangat besar di balik apa pun yang tampak fotorealistis. Ia menilai membandingkan film-film India dengan film Marvel atau Avengers tidak adil, karena film-film itu memiliki anggaran sepuluh kali lipat lebih besar.

Menurut Yashoda, ada kekurangan riset, empati, dan pemahaman tentang cara kerja efek visual di balik komentar-komentar yang dilontarkan. Ia menyebut seni dan desain kurang didukung, dan pernyataan yang dilemparkan begitu saja terasa menyakitkan karena sekitar 10.000 orang telah bekerja untuk film ini. Karena itulah, menurutnya, film seperti Ramayana jelas perlu didukung.

Perdebatan ini pada akhirnya bukan sekadar soal bagus atau tidaknya satu adegan, melainkan soal bagaimana publik bersikap terhadap karya berskala besar dari industrinya sendiri. Kritik yang tajam dan berbasis pemahaman tetap dibutuhkan agar kualitas terus naik, tetapi dukungan terhadap keberanian memproduksi epik dalam skala global juga menjadi bagian dari ekosistem yang sehat. Ramayana akan diuji penonton mulai 5 November, dan sambutan penontonlah yang kelak menentukan apakah pembelaan para supervisor efek visual ini terbukti di box office.

Apa poin penting dari berita ini?

  • Supervisor efek visual Yashoda Parthasarthy dan Vijesh Rajan menyerukan dukungan untuk film Ramayana yang dibintangi Ranbir Kapoor, yang dijadwalkan rilis di seluruh dunia pada 5 November.
  • Vijesh Rajan menilai film ini layak didukung karena dipasang dengan anggaran masif dan dirilis global dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan kolaborasi Hans Zimmer, AR Rahman, dan teknisi papan atas.
  • Menurut Vijesh, kritik tetap perlu, tetapi perundungan dan komentar pedas bisa meninggalkan rasa tidak enak bagi pembuat film, dan kekurangan tetap boleh dibahas dengan cara yang baik.
  • Yashoda Parthasarthy menilai perbandingan dengan film Marvel atau Avengers tidak adil karena anggarannya sepuluh kali lipat lebih besar, dan menyebut sekitar 10.000 orang telah bekerja untuk film ini.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *