Sunday, 1 November 2026
Antariksa

Chip Kaca Sekecil Telapak Tangan Gabungkan Dua Teleskop Jadi Satu Alat Super

Diagram meja instrumen CHARIOT dan foto peralatan optik laboratorium dengan label kamera dan lensa

Sebuah chip kaca mungil yang muat di telapak tangan berhasil menghubungkan dua teleskop sehingga keduanya bekerja seolah-olah menjadi satu instrumen yang jauh lebih kuat. Terobosan ini menandai langkah penting menuju generasi baru teknologi astronomi yang lebih ringkas, tetapi mampu melihat alam semesta dengan detail yang menakjubkan.

Chip tersebut dikembangkan oleh para peneliti di Universitas Heriot-Watt, Skotlandia, dan untuk pertama kalinya berhasil dipakai dalam pengamatan langit nyata di CHARA Array, California. CHARA Array adalah salah satu fasilitas astronomi resolusi tinggi terkemuka di dunia yang terdiri atas enam teleskop yang dapat dihubungkan satu sama lain untuk mempelajari objek langit dengan detail luar biasa.

Selama ini, menggabungkan cahaya dari beberapa teleskop sekaligus membutuhkan sistem optik yang besar dan rumit. Para astronom melakukan teknik yang disebut interferometri, yaitu memadukan cahaya dari teleskop-teleskop terpisah agar diperoleh ketajaman yang setara dengan teleskop raksasa. Teknik ini ampuh, tetapi perangkat kerasnya selama ini berat, mahal, dan sulit dioperasikan.

Chip fotonik dari Heriot-Watt menawarkan jalan pintas yang elegan. Di dalam chip kaca itu terdapat saluran-saluran tipis yang memandu cahaya, mirip dengan cara sirkuit terpadu memandu elektron. Saluran-saluran itu ditulis langsung ke dalam kaca dengan teknik ukiran laser ultrarcepat, lalu bertugas menggabungkan cahaya yang masuk sehingga teleskop-teleskop yang terpisah dapat bekerja sebagai satu teleskop tunggal.

Chip ini menjadi jantung instrumen bernama CHARIOT, yang dirancang sebagai tempat uji teknologi fotonik baru. Dalam kampanye pengamatan pada 2024 dan 2025, CHARIOT berhasil menggabungkan cahaya dari teleskop-teleskop di CHARA Array dan merekam sinyal dari berbagai bintang, membuktikan ketepatan yang dibutuhkan untuk penelitian astronomi tingkat lanjut.

Proyek ini bersifat internasional. Para peneliti dari Inggris, Jerman, dan Amerika Serikat terlibat, dengan chip fotoniknya dikembangkan di Institut Fotonika dan Ilmu Kuantum Universitas Heriot-Watt oleh Profesor Robert Thomson dan Dr Aurélien Benoît. Hasil penelitian ini dimuat dalam jurnal Monthly Notices of the Royal Astronomical Society.

Mengapa temuan ini penting? Dengan alat yang jauh lebih kecil dan sederhana, para astronom dapat memperoleh citra bintang yang lebih tajam, mendeteksi bintang yang lebih redup daripada sistem sebelumnya, dan membuka peluang mempelajari objek langit yang selama ini sulit diamati. Teknologi yang sama juga berpotensi dipakai pada teleskop-teleskop masa depan yang lebih besar dan lebih peka.

Bagi dunia astronomi, chip mungil ini adalah bukti bahwa kemajuan tidak selalu datang dari alat yang semakin besar. Kadang, lompatan terbesar justru datang dari komponen yang semakin kecil, tetapi semakin cerdas dalam mengolah cahaya yang datang dari kedalaman alam semesta.

Apa poin penting dari berita ini?

  • Sebuah chip kaca seukuran telapak tangan berhasil menghubungkan dua teleskop agar bekerja sebagai satu instrumen.
  • Chip itu dikembangkan peneliti Universitas Heriot-Watt dan pertama kali dipakai dalam pengamatan nyata di CHARA Array, California.
  • Saluran tipis di dalam chip kaca memandu dan menggabungkan cahaya, menggantikan sistem optik yang jauh lebih besar dan rumit.
  • Chip tersebut menjadi jantung instrumen CHARIOT yang diuji pada kampanye pengamatan 2024 dan 2025.
  • Teknologi ini memungkinkan citra bintang yang lebih tajam dan berpotensi dipakai pada teleskop masa depan.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *