Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional mencatat harga cabai rawit merah di tingkat pedagang eceran nasional turun menjadi Rp96.200 per kilogram, sementara telur ayam ras segar tercatat Rp29.350 per kilogram. Data tersebut diperbarui pada Jumat, 30 Oktober 2026, pukul 14.15 WIB, dan dihimpun dari pasar eceran di berbagai daerah sebagai gambaran rata-rata nasional.
Penurunan terbesar terjadi pada cabai rawit merah, yang berkurang Rp6.750 atau 6,56 persen dibandingkan pencatatan sebelumnya. Cabai rawit hijau ikut melemah Rp1.050 atau 1,32 persen menjadi Rp78.350 per kilogram, sedangkan cabai merah besar tercatat Rp71.600 per kilogram. Pada kelompok protein hewani, daging ayam ras segar turun Rp950 atau 2,38 persen menjadi Rp39.000 per kilogram, dan telur ayam ras segar turun Rp200 atau 0,68 persen menjadi Rp29.350 per kilogram.
PIHPS Nasional dikelola oleh Bank Indonesia dan menjadi acuan pemantauan harga pangan strategis di seluruh Indonesia. Data yang ditampilkan merupakan harga rata-rata nasional di tingkat pedagang eceran, sehingga harga di pasar tertentu bisa berbeda tergantung pasokan, biaya distribusi, dan kondisi setempat. Karena itu, angka nasional sebaiknya dibaca sebagai arah pergerakan harga, bukan patokan harga yang sama di setiap pasar.
Pergerakan kali ini melanjutkan tren penurunan cabai rawit merah dalam beberapa hari terakhir. Sehari sebelumnya, pada Kamis, 29 Oktober 2026, cabai rawit merah masih tercatat Rp96.500 per kilogram, setelah sebelumnya sempat berada di level Rp98.950 per kilogram pada Rabu, 28 Oktober 2026, dan Rp111.600 per kilogram pada Selasa, 27 Oktober 2026. Pola ini menunjukkan pasokan cabai yang berangsur membaik setelah sempat melonjak, meski harganya tetap tinggi bagi sebagian rumah tangga.
Sebaliknya, harga telur ayam ras segar relatif stabil di kisaran Rp29.350 per kilogram selama beberapa hari terakhir. Pada 29 Oktober 2026, telur ayam ras juga tercatat Rp29.350 per kilogram, setelah sempat berada di Rp29.500 per kilogram pada 28 Oktober 2026. Stabilitas ini memberi sedikit kelegaan bagi konsumen, karena telur merupakan salah satu sumber protein hewani yang paling sering dibeli harian.
Bagi pedagang dan konsumen, penurunan harga cabai memberi ruang bernapas setelah harga sempat menekan biaya belanja dapur. Bagi petani dan pedagang, pergerakan harga yang cepat juga menjadi pengingat bahwa harga pangan sangat dipengaruhi musim panen, kelancaran distribusi, dan permintaan pasar. Pemantauan harga secara berkala membantu semua pihak menyesuaikan keputusan belanja dan penjualan tanpa harus berspekulasi.
Ke depan, yang perlu diperhatikan adalah apakah penurunan harga cabai ini bertahan atau kembali berbalik seiring perubahan pasokan. Konsumen dianjurkan membandingkan harga di beberapa pasar sebelum berbelanja, sementara data PIHPS dapat terus dipantau sebagai rujukan pergerakan harga pangan nasional dari hari ke hari.
Apa poin penting dari berita ini?
- PIHPS Nasional mencatat harga cabai rawit merah di tingkat pedagang eceran nasional turun menjadi Rp96.200 per kilogram, sementara telur ayam ras segar tercatat Rp29.350 per kilogram.
- Penurunan terbesar terjadi pada cabai rawit merah, yang berkurang Rp6.750 atau 6,56 persen dibandingkan pencatatan sebelumnya.
- Data yang ditampilkan merupakan harga rata-rata nasional di tingkat pedagang eceran, sehingga harga di pasar tertentu bisa berbeda tergantung pasokan, biaya distribusi, dan kondisi setempat.
- Stabilitas ini memberi sedikit kelegaan bagi konsumen, karena telur merupakan salah satu sumber protein hewani yang paling sering dibeli harian.


