Sebanyak 400 pelajar dari sekitar 30 sekolah belajar mengenai konsep carbon offset atau tebus karbon dalam sarasehan yang diselenggarakan Forum Alumni Siswa Pecinta Alam (Fasta) di wilayah Jakarta, Sabtu (31/10/2026). Kegiatan bertajuk “Sarasehan Lingkungan; Learning from the Wild, Moving for the Earth” itu menjadi ruang belajar bersama bagi siswa pecinta alam dari berbagai sekolah.
Ketua Dewan Pengarah Fasta, Rudi Nurcahyo, mengatakan konsep carbon offset mendorong para siswa untuk memberikan kompensasi kepada lingkungan atas setiap karbon yang dihasilkan per individu. “Jadi karbon offset itu bagaimana kita memperhitungkan pembakaran atau pun karbon yang kita keluarkan, misalnya dia pakai transportasi, menggunakan bahan bakar, itu kita hitung. Itu ditotal, lalu kita offset, kita perhitungkan untuk menanam pohon sebagai kompensasinya,” kata Rudi di Jakarta, Sabtu.
Rudi menjelaskan kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai implementasi kode etik lingkungan yang menjadi salah satu prinsip organisasi tersebut. “Bahwa alam itu ada tidak hanya untuk dieksploitasi, tapi juga untuk dilestarikan, diamankan,” kata Rudi.
Dalam kegiatan tersebut, para siswa juga diajak untuk ikut menyoroti insiden kebakaran hutan dan lahan (karhutla), salah satunya sebagai dampak dari minimnya tindakan pencegahan. “Kegiatan ini sesuai dengan kondisi saat ini, terjadinya kebakaran hutan, lahan. Ini menjadi tantangan dan motivasi terlibatnya siswa pencinta alam dalam aksi pencegahan dan perawatan alam,” kata Rudi.
Selain itu, solidaritas siswa pecinta alam juga dinilai efektif menjauhkan para pelajar dari kebiasaan-kebiasaan negatif seperti tawuran dan perundungan. Kegiatan bersama lintas sekolah itu sekaligus mempertemukan siswa dengan pengalaman dan kepedulian yang serupa terhadap lingkungan.
Sementara itu, Kepala Suku Dinas Pendidikan Wilayah II Jakarta Selatan Sarwoko menilai kegiatan itu dapat menumbuhkan kepedulian siswa terhadap lingkungan, khususnya dalam pengelolaan sampah di sekolah. Ia menjelaskan kegiatan tersebut sejalan dengan program Jaga Olah Sampah Sekolah (JOSS) yang menjadi salah satu program Gubernur DKI Jakarta dalam mendorong pengelolaan sampah sejak dari lingkungan pendidikan.
“Saya menyambut positif kegiatan yang dilaksanakan oleh siswa ini. Mudah-mudahan memberikan dampak positif bagi para siswa. Anak-anak yang tergabung dalam kelompok pecinta alam tentu memiliki kepedulian dan kecintaan terhadap lingkungan,” ujarnya. Ia menjelaskan program JOSS telah dilaksanakan di berbagai sekolah di Jakarta.
Puncak kegiatan tersebut direncanakan berlangsung di Lapangan Banteng pada 19 Desember mendatang dan diharapkan dibuka langsung oleh Gubernur DKI Jakarta. Sarwoko berharap gerakan peduli lingkungan di sekolah tidak hanya berfokus pada pengurangan dan pengolahan sampah, tetapi juga diikuti dengan upaya penghijauan, termasuk menanam dan merawat pohon di lingkungan sekolah agar suasana menjadi lebih hijau dan rindang serta sirkulasi udaranya lebih baik.
Salah satu siswa pecinta alam dari SMA Negeri 54 Jakarta, Angelica Refalina Sitorus, mengaku belajar banyak tentang pelestarian lingkungan saat mengikuti kegiatan sarasehan tersebut. “Banyak wawasan yang didapat tentang perlunya menjaga dan melestarikan lingkungan. Kita juga bisa bertemu, menambah kawan, dan berbagi pengalaman dengan siswa pecinta alam dari sekolah lain,” kata siswi kelas XI itu. Sarwoko berharap kegiatan yang melibatkan siswa pecinta alam tersebut dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak sekolah, sehingga para siswa dapat menjadi penggerak sekaligus agen edukasi bagi teman-temannya.
Apa poin penting dari berita ini?
- Sebanyak 400 pelajar dari sekitar 30 sekolah belajar konsep carbon offset atau tebus karbon dalam sarasehan Forum Alumni Siswa Pecinta Alam (Fasta) di Jakarta, Sabtu (31/10/2026), bertajuk “Sarasehan Lingkungan; Learning from the Wild, Moving for the Earth”.
- Ketua Dewan Pengarah Fasta Rudi Nurcahyo menjelaskan carbon offset adalah menghitung karbon yang dikeluarkan individu, misalnya dari transportasi dan bahan bakar, lalu mengimbanginya dengan menanam pohon.
- Kegiatan itu merupakan implementasi kode etik lingkungan Fasta, bahwa alam tidak hanya untuk dieksploitasi tetapi juga untuk dilestarikan dan diamankan, serta mengajak siswa menyoroti karhutla akibat minimnya pencegahan.
- Kepala Suku Dinas Pendidikan Wilayah II Jakarta Selatan Sarwoko menilai kegiatan itu menumbuhkan kepedulian lingkungan dan sejalan dengan program Jaga Olah Sampah Sekolah (JOSS) dari Gubernur DKI Jakarta.
- Puncak kegiatan direncanakan di Lapangan Banteng pada 19 Desember mendatang dan diharapkan dibuka Gubernur DKI Jakarta, dengan harapan gerakan peduli lingkungan sekolah berlanjut, menjangkau lebih banyak sekolah, dan diikuti penghijauan.


