Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia pada Jumat, 30 Oktober 2026, pagi dibuka melemah di tengah kekhawatiran investor terhadap kredibilitas pasar modal domestik serta ketidakpastian arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed. IHSG dibuka melemah 31,12 poin atau 0,61 persen ke posisi 5.066.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, dalam kajiannya di Jakarta pada Jumat menilai persoalan MSCI masih membayangi kepercayaan pelaku pasar dan investor. Tekanan tersebut sebelumnya tercermin dari penurunan IHSG sebesar 3,49 persen, sementara imbal hasil obligasi juga mengalami kenaikan hingga 7,64 persen.
Sentimen pasar keuangan domestik juga tercermin dari kekhawatiran mengenai potensi arus modal asing keluar yang dapat memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Kekhawatiran ini menguat setelah Ketua Dewan Penasihat Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Hashim Djojohadikusumo, sebelumnya memperingatkan bahwa rupiah berpotensi melemah hingga Rp20.000 hingga Rp22.000 per dolar AS apabila persoalan pasar modal terkait evaluasi MSCI tidak segera diselesaikan.
Maximilianus menilai pernyataan Hashim mengenai potensi pelemahan rupiah hingga Rp22.000 per dolar AS mencerminkan besarnya risiko kepercayaan investor terhadap pasar keuangan domestik, khususnya di tengah ketidakpastian status Indonesia dalam indeks MSCI. Selama persoalan transparansi dan tata kelola pasar modal belum tuntas, investor asing cenderung menahan diri.
Meski Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menanggapi dengan menyatakan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih relatif baik, para investor tetap mewaspadai pelemahan rupiah lebih lanjut. Maximilianus memperkirakan upaya BI menjaga rupiah akan tetap menjadi prioritas, dengan mengoptimalkan intervensi pasar dan instrumen moneter tanpa harus langsung menaikkan suku bunga acuan.
Maximilianus memandang efektivitas kebijakan tersebut juga bergantung pada penyelesaian persoalan transparansi dan tata kelola pasar modal guna memulihkan kepercayaan investor asing. Oleh karena itu, risiko pelemahan rupiah bukan hanya ditentukan oleh faktor eksternal, melainkan juga oleh kredibilitas reformasi pasar keuangan domestik.
Selain sentimen domestik, pergerakan pasar juga dibayangi perkembangan ekonomi AS, terutama kenaikan inflasi yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter The Fed. Pilarmas mencatat indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi AS meningkat dari 3,4 persen menjadi 3,6 persen secara tahunan, sementara pertumbuhan belanja konsumen melambat dari 0,9 persen menjadi 0,5 persen.
Kombinasi sentimen domestik dan eksternal itu membuat pelaku pasar bersikap hati-hati pada perdagangan Jumat pagi. Di satu sisi, persoalan MSCI menekan kepercayaan terhadap pasar modal Indonesia; di sisi lain, ketidakpastian kebijakan The Fed menambah kehati-hatian investor global terhadap aset-aset pasar berkembang, termasuk Indonesia.
Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada langkah konkret penyelesaian persoalan tata kelola pasar modal serta arah kebijakan moneter AS. Selama kedua ketidakpastian itu belum mereda, fluktuasi IHSG dan rupiah diperkirakan masih akan dipengaruhi sentimen yang sama.
Apa poin penting dari berita ini?
Ringkasan singkat dari isi artikel di atas:
- IHSG dibuka melemah 31,12 poin atau 0,61 persen ke posisi 5.066 pada Jumat, 30 Oktober 2026, pagi.
- Pelemahan terjadi di tengah kekhawatiran investor terhadap kredibilitas pasar modal domestik dan ketidakpastian suku bunga The Fed.
- Persoalan MSCI masih membayangi kepercayaan pelaku pasar, setelah sebelumnya IHSG turun 3,49 persen dan imbal hasil obligasi naik hingga 7,64 persen.
- Hashim Djojohadikusumo memperingatkan rupiah berpotensi melemah hingga Rp22.000 per dolar AS bila persoalan MSCI tidak segera diselesaikan.
- Bank Indonesia diperkirakan mengoptimalkan intervensi pasar dan instrumen moneter tanpa langsung menaikkan suku bunga acuan.


