Saturday, 31 October 2026
Lingkungan

BRIN dan YKAN Perkuat Restorasi Gambut dengan Pendekatan Sains

Lahan basah hijau dengan vegetasi yang sedang dipulihkan dalam program restorasi ekosistem

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) berkolaborasi memperkuat restorasi gambut berbasis sains. Kerja sama ini menegaskan bahwa pemulihan ekosistem gambut tidak bisa dilakukan sembarangan, melainkan harus berpijak pada data, penelitian, dan pemahaman mendalam tentang kondisi lahan.

Gambut adalah ekosistem yang sangat penting sekaligus sangat rapuh. Lahan gambut menyimpan cadangan air dan karbon dalam jumlah besar. Ketika terjaga basah dan utuh, gambut membantu mengatur tata air, menahan banjir, dan menyimpan karbon agar tidak terlepas ke atmosfer. Namun, ketika gambut mengering dan rusak, ia menjadi mudah terbakar dan melepaskan emisi dalam jumlah besar.

Karena itu, restorasi gambut berbasis sains menjadi pendekatan yang tepat. Pendekatan ini dimulai dari pemetaan kondisi lahan, pengukuran tinggi muka air, hingga identifikasi jenis vegetasi yang cocok untuk ditanam kembali. Setiap langkah didasarkan pada bukti, bukan sekadar menanam lalu berharap tumbuh. Dengan cara ini, peluang keberhasilan pemulihan menjadi jauh lebih besar.

Kolaborasi antara lembaga riset dan organisasi konservasi juga memberi kekuatan tersendiri. BRIN membawa kapasitas penelitian, data, dan teknologi. YKAN membawa pengalaman lapangan dalam konservasi dan pemberdayaan masyarakat. Perpaduan keduanya memungkinkan hasil riset tidak berhenti di atas kertas, melainkan diterapkan langsung di lapangan dan diuji keberhasilannya.

Aspek masyarakat tidak kalah penting dalam restorasi gambut. Warga yang tinggal di sekitar gambut adalah pihak yang paling merasakan dampak kerusakan sekaligus manfaat pemulihan. Jika masyarakat dilibatkan dan memperoleh manfaat ekonomi dari lahan yang pulih, misalnya melalui usaha yang ramah gambut, maka upaya restorasi akan lebih berkelanjutan. Pemulihan yang mengabaikan masyarakat justru berisiko gagal karena tidak ada yang menjaga hasilnya.

Tantangan restorasi gambut memang tidak ringan. Lahan yang sudah rusak membutuhkan waktu lama untuk pulih. Kanal-kanal lama perlu dikelola agar air kembali terjaga. Kebakaran yang berulang dapat menghapus capaian dalam waktu singkat. Karena itu, restorasi harus dibarengi dengan pencegahan kebakaran, pemantauan rutin, dan penegakan aturan.

Kerja sama BRIN dan YKAN ini menjadi contoh bagaimana sains dan aksi konservasi dapat berjalan beriringan. Gambut yang pulih bukan hanya soal lingkungan. Ia berarti udara yang lebih bersih, air yang lebih terjaga, dan masyarakat yang lebih terlindungi dari bencana kebakaran. Jika pendekatan berbasis sains ini konsisten dijalankan, manfaatnya akan dirasakan jauh melampaui batas kawasan yang direstorasi.

Apa poin penting dari berita ini?

  • BRIN dan YKAN berkolaborasi memperkuat restorasi gambut berbasis sains.
  • Gambut yang terjaga membantu mengatur tata air, menahan banjir, dan menyimpan karbon.
  • Restorasi berbasis sains berpijak pada pemetaan lahan, pengukuran muka air, dan pemilihan vegetasi yang cocok.
  • Keterlibatan masyarakat dan pencegahan kebakaran menjadi kunci agar hasil restorasi berkelanjutan.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *