Banjir yang melanda Kota Subulussalam, Aceh, berdampak pada 1.985 kepala keluarga (KK). Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) menyampaikan data tersebut pada Rabu malam, 28 Oktober 2026, ketika sebagian wilayah kota itu masih tergenang dan air belum surut.
Pelaksana Tugas Kepala BPBA, Bahron Bakti, melaporkan situasi tersebut dari Banda Aceh. Ia menjelaskan bahwa jumlah jiwa terdampak masih terus didata, dan sejauh ini tidak ada korban jiwa. Hanya tiga KK yang mengungsi, yakni di Desa Sibuasan, sementara warga lainnya masih bertahan di rumah masing-masing meski lingkungannya terendam.
Mengapa banjir ini terjadi? Kota Subulussalam diguyur hujan berintensitas tinggi sejak Sabtu, 24 Oktober 2026. Curah hujan yang terus-menerus itu membuat Sungai Lae Souraya dan Sungai Rikit meluap. Luapan kedua sungai tersebut merendam wilayah di Kecamatan Sultan Daulat dan Kecamatan Rundeng.
Wilayah terdampak mencakup tiga desa di Kecamatan Sultan Daulat dan 18 desa di Kecamatan Rundeng. Banjir merendam 2.013 rumah, jalan desa, lahan perkebunan dan pertanian, sekolah, serta tempat ibadah. Luasnya sebaran genangan membuat pendataan masih berjalan dan jumlah warga terdampak diperkirakan masih bisa berubah.
Bagaimana penanganannya? BPBD Kota Subulussalam melakukan pengkajian cepat di lapangan dan mengerahkan anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) untuk penilaian, pendataan, dan pemantauan lanjutan. Kehadiran petugas di lokasi menjadi penting karena air belum surut dan warga masih membutuhkan kepastian mengenai kondisi lingkungannya.
Banjir yang bertahan berhari-hari membawa beban tersendiri bagi warga. Aktivitas harian terganggu, akses jalan desa terendam, dan lahan pertanian serta perkebunan ikut terdampak. Bagi keluarga yang rumahnya terendam, genangan yang tidak kunjung surut berarti pekerjaan rumah tangga dan kegiatan ekonomi harus dijalani di tengah air.
BPBA mengingatkan bahwa situasi masih berkembang selama hujan belum reda dan sungai masih meluap. Warga diimbau tetap waspada, memantau informasi dari aparat setempat, dan segera melapor bila kondisi di lingkungannya memburuk atau ada warga yang membutuhkan evakuasi.
Apa poin penting dari berita ini?
- Banjir di Kota Subulussalam berdampak pada 1.985 KK dan merendam 2.013 rumah.
- Pemicunya adalah hujan intensitas tinggi sejak 24 Oktober 2026 yang membuat Sungai Lae Souraya dan Sungai Rikit meluap.
- Wilayah terdampak meliputi tiga desa di Kecamatan Sultan Daulat dan 18 desa di Kecamatan Rundeng.
- Tidak ada korban jiwa, tiga KK mengungsi di Desa Sibuasan, dan BPBD masih melakukan pendataan karena air belum surut.


