Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Kepala BKKBN Wihaji menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk menekan prevalensi stunting di Indonesia. Hal itu disampaikan dalam kunjungan media di Jakarta, Selasa, 27 Oktober 2026.
Saat ini prevalensi stunting di Indonesia masih 19,8 persen, atau sekitar 2 dari 10 balita terdampak. Pemerintah menargetkan angka itu turun hingga 4 persen pada 2045.
“Harus kita akui di Indonesia, prevalensi stunting kita masih 19,8 persen,” ujar Wihaji.
Menurut Wihaji, stunting tidak bisa ditangani secara parsial. Penanganannya membutuhkan kementerian dan lembaga, penyuluhan yang intensif, pencegahan pernikahan dini, serta infrastruktur hunian yang lebih sehat.
Karena itu, pemerintah menggerakkan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) dan menyinergikannya dengan Badan Gizi Nasional melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Peran swasta juga dibuka lewat orang tua asuh dari kalangan dunia usaha, disertai bantuan gizi dan edukasi yang berkelanjutan bagi keluarga sasaran.
Ke depan, program pemerintah pusat, lembaga, dan swasta akan diintegrasikan agar target prevalensi 4 persen pada 2045 dapat dicapai.


