Wednesday, 28 October 2026
Pendidikan

Mendikdasmen Tegaskan TKA Bukan Penentu Kelulusan Siswa

Mendikdasmen Tegaskan TKA Bukan Penentu Kelulusan Siswa

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan bahwa Tes Kemampuan Akademik (TKA) bukan merupakan penentu kelulusan murid. Penegasan itu disampaikan saat meninjau pelaksanaan TKA di SMA Negeri 3 Kota Tangerang Selatan, Banten, pada Senin, 26 Oktober 2026.

Menurut Mu’ti, TKA adalah salah satu instrumen untuk memetakan kemampuan akademik dan menjadi bahan evaluasi pembelajaran. Hasilnya nanti akan menggambarkan bagaimana kemampuan dari murid-murid, dan ini bukan soal gagal atau berhasil, karena tujuan TKA adalah memetakan mutu pendidikan.

Sebanyak 3.864.195 murid SMA, MA, dan sekolah sederajat mendaftar TKA 2026. Jumlah peserta tahun ini melampaui pelaksanaan TKA SMA dan sederajat pada 2025 yang diikuti sekitar 3,4 juta murid. Tingginya jumlah pendaftar muncul di tengah kekhawatiran sebagian orang tua dan kecemasan murid dalam mempersiapkan diri menghadapi tes.

Di SMA Negeri 3 Kota Tangerang Selatan sendiri, 303 murid mengikuti TKA dalam satu gelombang dengan tiga sesi, setelah tiga bulan persiapan yang meliputi sosialisasi kepada orang tua, pendalaman materi bersama guru, dan latihan soal. Seorang murid, Abiyyu Desain Nagari, menuturkan soal-soal TKA menuntut pemahaman yang mendalam dan kecermatan, terutama pemahaman teks berbahasa Indonesia pada hari pertama, serta manajemen waktu dan latihan soal yang cukup. Ia berharap hasil TKA yang baik dapat mendukung validasi nilai rapor bila memenuhi syarat Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) ke perguruan tinggi negeri.

Mengapa penegasan ini penting? Karena tidak sedikit murid dan orang tua yang mengira TKA menentukan lulus atau tidaknya seorang murid dari sekolah. Padahal, hasil TKA perlu dipahami sebagai bahan evaluasi, bukan sebagai akhir dari proses belajar murid. Pemahaman yang keliru bisa menimbulkan tekanan yang tidak perlu bagi murid.

Bagaimana TKA dirancang? Mu’ti menjelaskan bahwa soal TKA disusun dengan standar yang memperhatikan validitas dan reliabilitas. Bentuk soal juga dirancang untuk mengukur kemampuan berpikir murid, termasuk melalui pertanyaan kontekstual yang mendorong penalaran dan tidak semata-mata mengandalkan hafalan atau perhitungan langsung.

Pelaksanaan TKA pada pertengahan tahun ajaran juga memberi kesempatan bagi murid untuk memperbaiki kemampuan sebelum menyelesaikan pendidikan di jenjang SMA. Setelah hasil tes diketahui, kekurangan yang ditemukan bisa diperbaiki, karena murid masih akan belajar satu semester lagi untuk memperdalam materi yang belum dikuasai dan aspek yang perlu diperbaiki.

Ke depan, hasil TKA diharapkan menjadi peta perbaikan pembelajaran bagi sekolah dan murid, sekaligus bahan pendukung validasi nilai rapor sesuai ketentuan yang berlaku. Dengan begitu, TKA berfungsi sebagai cermin kemampuan, bukan sebagai vonis kelulusan.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *