Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Selasa, 27 Oktober 2026, bergerak melemah 21 poin atau 0,12 persen menjadi Rp18.156 per dolar AS. Pada penutupan sebelumnya, rupiah berada di level Rp18.135 per dolar AS, sementara kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia melemah ke Rp18.139 dari Rp18.116 per dolar AS.
Pelemahan pada perdagangan Selasa itu dipengaruhi konversi simpanan ke valuta asing dan tekanan di pasar saham serta obligasi. Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, mengatakan peningkatan konversi simpanan masyarakat dari rupiah ke valuta asing di sektor perbankan turut menekan rupiah, dengan kenaikan simpanan valas mencapai 20 persen.
Mengapa konversi simpanan ke valas menekan rupiah? Karena ketika semakin banyak simpanan diubah dari rupiah ke dolar AS, permintaan terhadap dolar meningkat. Menurut Rully, kenaikan itu mengindikasikan preferensi masyarakat untuk memegang dolar AS sebagai antisipasi kemungkinan pelemahan rupiah berlanjut, dan kondisi tersebut berisiko memicu kelangkaan likuiditas dolar AS di pasar domestik.
Tekanan lain datang dari pasar saham, dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terkoreksi hingga menembus kisaran 5.300 dan ditutup melemah 1,99 persen ke level 5.266. Di pasar obligasi, terjadi inversi kurva imbal hasil, yaitu imbal hasil obligasi pemerintah bertenor acuan 10 tahun lebih rendah daripada tenor 8 hingga 9 tahun.
Bagaimana gambaran pasar regional pada hari yang sama? Sejumlah mata uang Asia juga melemah terhadap dolar AS, antara lain peso Filipina, yen Jepang, won Korea Selatan, dan dolar Singapura. Sementara itu, ringgit Malaysia dan dolar Hong Kong menguat tipis, dan yuan China relatif stagnan. Artinya, tekanan terhadap rupiah terjadi bersamaan dengan pelemahan sejumlah mata uang kawasan.
Di sisi lain, sejumlah faktor global dinilai berpotensi menahan pelemahan rupiah, termasuk penurunan harga minyak dan imbal hasil obligasi Pemerintah AS yang turun 1,8 basis poin menjadi 4,97 persen. Ekspektasi kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS, Federal Reserve, juga mereda.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati apakah konversi simpanan ke valas terus berlanjut dan bagaimana otoritas moneter menjaga stabilitas nilai tukar. Bagi masyarakat, pelemahan rupiah patut dicermati karena dapat merambat ke biaya barang impor dan daya beli, meski dampaknya tidak selalu terasa seketika.


