Kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Lawu dan Gunung Sumbing dinyatakan sudah padam. Luas areal yang terdampak di masing-masing gunung mencapai lebih dari 900 hektare, sehingga totalnya lebih dari 1.800 hektare. Hal itu disampaikan Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Jawa Tengah Heru Djatmika dalam wawancara pada Selasa, 27 Oktober 2026.
Untuk Gunung Sumbing, areal terdampak tersebar di tiga kabupaten, yakni Wonosobo lebih dari 400 hektare, Temanggung 392 hektare, dan Magelang lebih dari 200 hektare. Sementara Gunung Lawu terdampak lebih dari 900 hektare dan seluruhnya berada di satu kabupaten, yakni Karanganyar.
Titik api berada di ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut. Di ketinggian itu, sebagian besar lahan yang terdampak berupa sabana dan hanya jenis pohon tertentu yang tumbuh. Di Gunung Sumbing misalnya terdapat pohon puspa dan rasamala, sedangkan di Gunung Lawu terdapat pohon beringin.
Api di Gunung Sumbing padam pada Sabtu malam, 24 Oktober 2026, sedangkan api di Gunung Lawu padam pada Minggu malam, 25 Oktober 2026. Pada Senin, 26 Oktober 2026, sempat terdeteksi lagi titik api di Gunung Lawu akibat tunggul pohon yang masih menyala, namun api itu berhasil dipadamkan pada siang harinya.
Hujan yang turun di kedua kawasan gunung turut membantu upaya pemadaman. Meski api sudah padam, posko dan relawan di Gunung Sumbing dan Gunung Lawu tetap siaga karena api dikhawatirkan bisa muncul kembali sewaktu-waktu.
DLHK Jawa Tengah merencanakan rehabilitasi dan penanaman kembali di areal terdampak pada kedua gunung tersebut, dengan memilih jenis pohon yang sesuai ketinggian dan sudah ada di lokasi itu.


