LEBAK — Surutnya air Bendungan Karian di Lebak, Banten, pada musim kemarau 2026 kembali memperlihatkan sisa permukiman Kampung Somang yang telah ditinggalkan penduduknya sejak 2023. Air waduk surut akibat kekeringan di tengah fenomena El Nino, dan sisa rumah serta Masjid Al Mujahiddin di Desa Somang kembali terlihat.
Kampung Somang menjadi kampung mati setelah penduduknya pergi meninggalkan kampung halaman demi memberi jalan kepada proyek Bendungan Karian, salah satu bendungan terbesar di Indonesia yang dibangun untuk irigasi, air baku, dan pengendali banjir. Sejumlah kampung lain di sekitar area bendungan mengalami nasib serupa, termasuk Kampung Sinday yang lebih dulu tenggelam.
Ketika air menyusut, tanah di sekitar bekas permukiman tampak semakin kering dan retak akibat kekeringan berkepanjangan. Kondisi itu memperlihatkan perubahan lanskap kawasan sejak pembangunan bendungan, sekaligus menjadi pengingat bahwa di balik infrastruktur besar terdapat kampung-kampung yang pernah dihuni.
Kampung Somang juga pernah menjadi perhatian karena digunakan sebagai lokasi pengambilan gambar film horor berjudul Jembatan Shiratal Mustaqim. Kegiatan syuting itu berlangsung ketika sebagian rumah di kawasan tersebut sudah terendam bendungan, pada akhir 2024 atau awal 2025. Menurut warga sekitar, permukaan air bendungan sempat diturunkan untuk mendukung proses produksi film, dan warga di sekitar danau, khususnya di Kecamatan Sajira, ikut bekerja dalam produksi tersebut, mulai dari figuran hingga bagian teknis.
Proses pembangunan bendungan turut mencakup relokasi fasilitas di kawasan itu, termasuk 29 tapak tower PLN serta tanah milik pemerintah dan BUMN. Kemunculan kembali Kampung Somang kini menjadi pengingat sekaligus daya tarik bagi warga yang ingin menyaksikan langsung sisa permukiman yang pernah tenggelam tersebut.
Foto ilustrasi: Detik


