Penulis Lima Wilayah Gayo Rangkum Optimisme Pascabencana dalam Buku Puisi Dua Bahasa
TAKENGON — Para penulis dari lima wilayah Gayo menuangkan kesaksian mereka atas bencana yang melanda Aceh dalam sebuah buku antologi puisi dua bahasa. Buku berjudul “Gayo Teger” itu menghimpun karya 39 penulis dari Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues, Aceh Tenggara, dan Lokop Serbejadi, dan direncanakan diluncurkan pada November 2026 di beberapa tempat dan kota.
Buku setebal 226 halaman ini diterbitkan oleh The Gayo Institute (TGI) dan sedang dalam proses pengajuan Nomor Buku Standar Internasional (ISBN). Karya-karya di dalamnya ditulis dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Gayo, sehingga menjadi ruang ekspresi yang sekaligus merawat bahasa daerah.
Inisiator buku ini, Salman Yoga S, mengatakan di Takengon pada Jumat, 23 Oktober 2026, bahwa “Gayo Teger” lahir dari keresahan melihat banjir bandang, longsor, dan perubahan iklim ekstrem yang terjadi di kawasan Gayo dan Aceh secara umum. Menurutnya, bencana itu tidak hanya soal alam, tetapi juga soal kemanusiaan dan kebijakan.
“Kami tidak hanya melihat ini sebagai bencana alam, tapi bencana kemanusiaan dan kebijakan. Hutan digunduli, Danau Lut Tawar mendangkal, sungai-sungai meluap. Ketika berita hanya jadi angka korban, kami memilih menulis puisi agar optimisme masyarakat muncul sebagai bentuk ketegaran jiwa dalam menghadapi bencana,” ujar Salman.
Konteks yang melatarbelakangi buku ini cukup berat. Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) mencatat lebih dari 70 kejadian banjir dan longsor di wilayah tengah Aceh dalam kurun November 2025 hingga Oktober 2026. Ribuan rumah terimbas, ratusan hektare lahan kopi Gayo dan persawahan terdampak, belum lagi jalan, masjid, dan sarana publik lainnya.
Di tengah data-data itu, antologi ini menawarkan sudut pandang yang berbeda: duka, kritik ekologis, sekaligus ketegaran masyarakat. Puisi menjadi cara para penulis merekam apa yang tidak tertangkap angka korban, yakni rasa kehilangan, ingatan tentang kampung halaman, dan tekad untuk bangkit.
Proses kreatif buku ini melibatkan banyak tangan. Tata letak ditangani Ansar Salihin, sampul oleh Rasnaldy, dan ilustrasi gambar oleh Khairun Lisik. Di antara 39 penulisnya terdapat nama-nama seperti Ansar Salihin, Angga Prasetiya, Ardhiansyah Putra, Awaluddin Ishak, Awfia Nafisa, Elda Yani, hingga penulis muda yang masih duduk di bangku MTsN.
Sebagai buku pertama dalam sejarah yang menghimpun penulis dari lima wilayah Gayo, “Gayo Teger” menjadi penanda bahwa sastra daerah dapat menjadi arsip sosial. Ia merekam bencana bukan hanya sebagai peristiwa, tetapi sebagai pengalaman bersama yang perlu diingat, dipahami, dan dijadikan pelajaran dalam menjaga hutan, danau, dan sungai di masa depan.
Sumber: PortalSatu. Artikel ini ditulis ulang dari laporan PortalSatu. Baca laporan aslinya di: Penulis Lima Wilayah Gayo Ekspresikan Optimisme Hadapi Bencana Lewat Buku Puisi Dua Bahasa Indonesia-Gayo.


