Wednesday, 28 October 2026
Kesehatan

Deteksi Dini Kanker Payudara di Jawa Barat Masih Rendah, Pasien Dominan Stadium III

Deteksi Dini Kanker Payudara di Jawa Barat Masih Rendah, Pasien Dominan Stadium III

Kesadaran masyarakat Jawa Barat untuk deteksi dini kanker payudara masih rendah. Akibatnya, banyak pasien baru datang berobat ketika penyakitnya sudah lanjut, dengan mayoritas pasien pertama kali berobat pada stadium III.

Ketua Program Studi Subspesialis Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, dr. Monty P. Soemitro, menyampaikan hal itu dalam kegiatan PRCC Goes to Campus: Breast Cancer Unplugged di Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Bandung, Sabtu, 24 Oktober 2026. Kegiatan bertema From Awareness to Action for a Healthier Tomorrow itu digelar dalam rangka Bulan Kesadaran Kanker Payudara yang diperingati setiap Oktober.

Layanan deteksi dini di fasilitas kesehatan tingkat pertama dinilai belum optimal. Meskipun banyak puskesmas sudah memiliki peralatan USG, pemanfaatannya untuk skrining kanker payudara masih minim. Dokter umum pun belum banyak yang terlatih, sementara minat untuk melakukan skrining rendah karena beban program kesehatan puskesmas sangat tinggi, mulai dari stunting, kesehatan ibu dan anak, hingga penyakit degeneratif seperti hipertensi, diabetes, jantung, dan stroke. Program deteksi dini pun kerap tersisih dari prioritas utama.

Benjolan berukuran di bawah 2 sentimeter sering tidak terdeteksi secara mandiri oleh masyarakat. Padahal pada stadium III, benjolan biasanya sudah mencapai 5 sentimeter dan jelas teraba. Perbedaan itu berpengaruh besar pada peluang kesembuhan: stadium I sekitar 98 persen, stadium II 80 persen, stadium III 60 persen, dan stadium IV 40 persen.

Secara statistik, 1 dari 8 perempuan berisiko terkena kanker payudara. Dengan populasi perempuan Jawa Barat mencapai 24 juta jiwa, diperkirakan sekitar 3 juta perempuan berada pada kelompok risiko tinggi.

Yayasan Priangan Cancer Care (PrCC) merespons kondisi ini dengan memberikan pelatihan penggunaan USG bagi dokter umum di puskesmas dan dokter bedah di daerah, serta menggelar simposium untuk masyarakat. Paradigma lama pun didorong bergeser: pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) dinilai kurang efektif untuk deteksi dini yang akurat dibanding pemeriksaan klinis menggunakan peralatan medis.

Dekan Fakultas Kedokteran Unpar, Prof. Ramdan Panigoro, berharap kegiatan kampus seperti ini membekali calon dokter agar lebih peka terhadap masalah kanker di masyarakat dan siap menghadapi berbagai kondisi penyakit setelah mereka terjun ke dunia praktik.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *