BANDA ACEH — Mukti Rahmah, 20 tahun, menenun kain sekaligus memperkenalkan motif tenun Aceh kepada pengunjung di stan Tenun Kutaraja pada Meuseuraya Festival 2026 di Balai Meuseuraya Aceh, Banda Aceh. Ia diwawancarai di stan itu pada Kamis, 22 Oktober 2026.
Mukti adalah lulusan SMK Negeri 3 Banda Aceh jurusan tata busana. Ia mulai belajar di Tenun Kutaraja pada November 2025 setelah diajak seorang teman, belajar lewat praktik langsung, dan membutuhkan sekitar tiga bulan hingga semakin terampil. Sejak itu, ia mengaku sudah menghasilkan puluhan karya.
Foto: Waspada Aceh.
Bagaimana ia menenun? Kakinya menginjak pedal alat tenun, sementara kedua tangannya mengatur benang yang terentang. Susunan benang harus tetap rapi agar motif yang dikerjakan tidak berubah. Bila benang putus atau pola tidak terbentuk dengan baik, ia memeriksa hasil kerjanya, memperbaiki susunan benang, dan kadang mengulang tenunan.
Motif yang ia peragakan antara lain peluru dan pucuk rebung, motif yang menyerupai rebung muda. Motif lain yang sudah ia pelajari antara lain Lawang Pintu Aceh, Lawang Utok, zig-zag, dan panyot.
Mengapa ia menekuni tenun di usia muda? Mukti tidak ingin tenun Aceh hanya dipakai untuk acara adat. Ia membayangkan tenun hadir dalam pakaian sehari-hari anak muda, seperti rompi, atasan pendek, dan luaran dengan aksen tenun, dengan gaya sederhana yang tetap nyaman dipakai setiap hari tanpa kehilangan ciri khasnya.
Tenun Kutaraja sendiri dibentuk pada 2023 dengan dukungan Bank Indonesia Provinsi Aceh, karena kekhawatiran jumlah penenun Aceh yang terus berkurang dan regenerasi yang terbatas. Kelompok ini dikembangkan sekaligus sebagai ruang produksi dan tempat anak muda belajar menenun. Pemiliknya, Zulhelmi, menyampaikan kekhawatiran serupa: bila tidak ada regenerasi, kerajinan itu bisa hilang.
Bahan yang dipakai antara lain benang katun dan sutra, dengan pewarna alami dari tumbuhan lokal seperti bakau, ketapang, dan kopi. Selain kain dan songket, kelompok ini juga membuat pakaian jadi seperti kemeja dan rompi, serta merencanakan pengolahan sisa potongan kain menjadi suvenir dan aksesori agar bernilai jual.
Dukungan Bank Indonesia Provinsi Aceh meliputi pelatihan menenun, menyulam, dan mengembangkan motif, menghadirkan desainer tingkat nasional untuk berbagi pengetahuan dengan pelaku kreatif Aceh, serta membuka kesempatan wastra Aceh tampil di peragaan busana tingkat nasional lewat kolaborasi desainer. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, Agus Chusaini, menyampaikan bahwa wastra adalah bagian budaya Aceh yang harus terus dipromosikan agar warisannya tidak hilang.
Meuseuraya Festival 2026 sendiri berlangsung 22–25 Oktober dengan tema Meukarya Wastra Indatu dan diikuti sekitar 150 usaha mikro, kecil, dan menengah dari berbagai sektor. Penyelenggara menargetkan transaksi sekitar Rp5 miliar dan 1.200 kunjungan per hari — angka itu disampaikan sebagai target, bukan hasil yang sudah terealisasi. Pertanyaan yang tersisa, sebagaimana disorot artikel sumber, adalah apakah sorotan festival berubah menjadi pembelian, apakah permintaan konsumen bisa bertahan, dan apakah usaha ini mampu memberi penghasilan yang layak bagi penenun.
Sumber: Waspada Aceh — Penenun Muda Merawat Warisan Wastra Aceh.


