JAKARTA — Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman, meminta Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto untuk terus mempertahankan ritme “gas pol” dalam pemberantasan narkoba. Pernyataan itu disampaikan di Jakarta, Minggu (25/10/2026), sebagai bentuk dukungan terhadap kepemimpinan awal Kapolri yang dinilai agresif dan langsung turun ke lapangan.
Foto ilustrasi: ANTARA.
Apa yang diminta Komisi III? Habiburokhman meminta Polri menyikat habis seluruh jaringan narkoba hingga ke akar-akarnya dan para bandar besarnya. “Kami meminta Polri terus mempertahankan ritme ‘gas pol’ ini, menyikat habis seluruh jaringan hingga ke akar-akarnya dan para bandar besarnya,” ujarnya. Penegakan hukum, menurut dia, tidak boleh berhenti pada penyitaan barang bukti semata.
Mengapa pendekatan jaringan dinilai penting? Narkoba bekerja lewat jaringan: dari hulu hingga hilir, dari produsen dan penyelundup sampai pengedar jalanan. Bila hanya barangnya yang disita sementara jaringannya utuh, peredaran akan kembali berjalan. Karena itu, Habiburokhman menekankan penindakan tanpa pandang bulu dari hulu ke hilir, sekaligus memberi dorongan moral bagi jajaran kepolisian daerah untuk bertindak dengan ritme yang sama.
Apa konteksnya? Sejumlah pengungkapan besar belakangan ini menjadi latar pernyataan tersebut, antara lain perkara ketamin sekitar satu ton, 1,16 ton ketamin di perairan Sumatera Utara, dan laboratorium sabu 1,2 ton di Aceh. Rangkaian kasus itu menunjukkan skala peredaran yang dihadapi Polri, sekaligus alasan mengapa Komisi III menilai kecepatan dan konsistensi penindakan harus dijaga.
Apa langkah berikutnya? Pernyataan ini merupakan dukungan politik, bukan pengumuman operasi baru. Namun pesannya jelas: DPR berharap Polri menjaga ritme yang sama, memperluas pengejaran jaringan, dan memastikan setiap pengungkapan besar diikuti penuntasan hingga ke aktor-aktor di baliknya, agar pemberantasan narkoba tidak berhenti di permukaan.
Sumber: ANTARA. Baca berita asli di sini.


