Rocket Lab berencana meluncurkan satelit pengamat Bumi milik Jepang pada Senin, 2 November 2026, dalam sebuah misi yang diberi nama The Sea God Surveys. Peluncuran ini akan menggunakan roket Electron, roket andalan Rocket Lab yang memiliki tinggi sekitar 18 meter, dan dijadwalkan lepas landas dari Launch Complex 1 di Semenanjung Mahia, Selandia Baru.
Muatan yang dibawa dalam misi ini adalah QPS-SAR-15, satelit yang dijuluki TSUKUYOMI-II, milik perusahaan Jepang Institute for Q-shu Pioneers of Space atau iQPS. Satelit tersebut akan ditempatkan di orbit rendah Bumi dan bertugas mengumpulkan citra Bumi dari angkasa.
Satelit ini termasuk jenis synthetic aperture radar atau SAR, yakni satelit pengamat Bumi berbasis radar. Menurut iQPS, satelit semacam ini mampu menghasilkan citra Bumi beresolusi tinggi dan berkualitas tinggi tanpa bergantung pada kondisi cuaca maupun waktu, baik siang maupun malam. Kemampuan itu menjadi nilai penting bagi pengamatan Bumi, karena awan dan gelap malam sering membatasi citra dari satelit optik biasa.
Bagi Rocket Lab, penerbangan ini memiliki arti khusus dalam catatan misinya. Penerbangan The Sea God Surveys akan menjadi misi Electron yang ke-76 secara keseluruhan, sekaligus menjadi peluncuran Rocket Lab yang ke-19 sepanjang 2026. Angka tersebut menunjukkan ritme peluncuran perusahaan yang semakin padat dari tahun ke tahun.
Kerja sama Rocket Lab dengan iQPS sendiri sudah berjalan cukup panjang. QPS-SAR-15 akan menjadi satelit iQPS ke-12 yang diluncurkan oleh Rocket Lab. Perusahaan Jepang itu sedang membangun sebuah konstelasi yang terdiri dari 36 satelit, dengan target mengumpulkan data setiap 10 menit. Konstelasi sebesar itu dirancang agar pengamatan suatu wilayah bisa diulang dalam selang waktu yang singkat, sehingga perubahan di permukaan Bumi dapat dipantau lebih cepat.
Jadwal peluncuran telah diumumkan secara terbuka. Jendela peluncuran dibuka pada pukul 11.30 waktu New York pada 2 November, atau 15.30 GMT yang setara dengan 22.30 WIB. Siaran langsung peluncuran dijadwalkan dimulai setengah jam lebih awal, yakni pukul 11.00 waktu New York atau 22.00 WIB, melalui situs web Rocket Lab dan akun media sosial X perusahaan itu.
Perlu dicatat dengan jujur bahwa laporan yang menjadi dasar artikel ini disusun sebagai pratinjau sebelum peluncuran. Pada saat laporan itu ditulis, jendela peluncuran belum dibuka, sehingga hasil peluncuran belum dapat dilaporkan. Artikel ini karena itu memberitakan rencana dan jadwal peluncuran, bukan menyatakan peluncuran telah berhasil.
Konteks yang lebih luas juga melingkupi misi ini. Roket Electron pertama kali terbang pada Mei 2017 dan sejak itu menjadi tulang punggung bisnis peluncuran Rocket Lab. Di sisi lain, perusahaan tersebut juga sedang mengembangkan roket yang lebih besar dan dapat dipakai ulang, bernama Neutron. Debut Neutron diharapkan terjadi pada 2026, dan perusahaan menyebut roket itu mampu membawa muatan yang lebih besar serta mendukung penerbangan manusia dan misi antariksa jauh. Namun untuk misi kali ini, peran utama tetap dipegang Electron yang sudah terbukti dalam puluhan penerbangan.
Jika berjalan sesuai jadwal, misi The Sea God Surveys akan menambah satu lagi satelit radar ke konstelasi iQPS dan mempertegas posisi Rocket Lab sebagai salah satu penyedia peluncuran yang paling aktif di dunia saat ini.
Apa poin penting dari berita ini?
- Rocket Lab berencana meluncurkan satelit pengamat Bumi milik Jepang pada Senin, 2 November 2026, dalam misi The Sea God Surveys.
- Muatan yang dibawa adalah QPS-SAR-15 atau TSUKUYOMI-II, satelit radar milik perusahaan Jepang iQPS yang akan ditempatkan di orbit rendah Bumi.
- Satelit radar ini mampu menghasilkan citra Bumi beresolusi tinggi tanpa bergantung pada kondisi cuaca maupun waktu.
- Penerbangan ini akan menjadi misi Electron yang ke-76 dan peluncuran Rocket Lab yang ke-19 sepanjang 2026.
- Jendela peluncuran dibuka pukul 11.30 waktu New York dari Semenanjung Mahia, Selandia Baru, dengan siaran langsung mulai pukul 11.00 waktu New York.


