Jakarta World Cinema, festival film yang berbasis di Jakarta, berencana menghidupkan kembali kompetisi film pertama yang pernah menjadi bagian dari edisi perdananya. Rencana ini disampaikan dalam pemberitaan pada 1 November 2026, sebagai upaya untuk kembali memberi panggung bagi sutradara-sutradara baru di Indonesia dan kawasan sekitarnya.
Kompetisi film pertama tersebut terakhir kali digelar pada edisi pertama festival, tahun 2022. Kala itu, penghargaan dimenangkan oleh film Autobiography karya Makbul Mubarak. Setelah itu, kompetisi ini sempat dihentikan karena keterbatasan pendanaan. Keputusan tersebut disayangkan banyak pihak, karena kompetisi itu dinilai penting untuk menemukan dan mendukung bakat-bakat baru.
Festival ini dipimpin oleh pendirinya, Frederica, yang juga menjabat sebagai direktur festival. Dalam pemberitaan tersebut, sejumlah sineas turut menyampaikan pandangan mereka, antara lain Kamila Andini dan Yosep Anggi Noen, serta produser Gita Fara. Mereka sepakat bahwa ruang kompetisi bagi film pertama memiliki nilai strategis bagi ekosistem film Indonesia.
Alasan di balik rencana penghidupan kembali ini cukup jelas. Sutradara baru sering kali kesulitan menembus perhatian publik dan industri tanpa wadah yang memberi legitimasi. Kompetisi festival bisa menjadi pintu masuk: karya mereka ditonton kurator, jurnalis, dan penonton yang lebih luas, sekaligus membuka peluang kerja sama dan pendanaan berikutnya. Tanpa wadah semacam itu, banyak karya pertama berisiko tenggelam meski kualitasnya baik.
Untuk mewujudkan rencana tersebut, pihak festival kini mencari mitra dan pendanaan. Mereka juga membuka pendaftaran melalui platform FilmFreeway, yang umum dipakai festival film internasional. Selain kompetisi film pertama, festival merencanakan kategori baru untuk film pendek serta dokumenter, sehingga jangkauan dukungan kepada sineas muda menjadi lebih luas.
Edisi terbaru festival yang dibahas dalam pemberitaan itu menampilkan sekitar 180 film dari 47 negara. Angka ini menunjukkan skala Jakarta World Cinema sebagai festival dengan kurasi internasional yang cukup besar, sekaligus menegaskan posisinya sebagai salah satu etalase penting bagi film Indonesia di hadapan penonton dan pelaku industri dari berbagai negara.
Jika rencana ini terwujud, kompetisi film pertama diharapkan kembali pada edisi mendatang, setelah pendanaan dan mitra berhasil didapatkan. Kehadiran kembali kompetisi ini akan melengkapi peran festival, yang selama ini tidak hanya menayangkan film, tetapi juga membangun jejaring dan percakapan tentang arah perfilman.
Bagi sineas muda Indonesia, kabar ini patut dicatat. Persiapan karya sejak dini, pemahaman tentang proses seleksi festival, dan pemanfaatan jalur pendaftaran terbuka seperti FilmFreeway menjadi langkah awal yang realistis. Kompetisi film pertama, bila kembali digelar, bisa menjadi panggung pertama yang menentukan bagi karier seorang sutradara.
Pada akhirnya, rencana Jakarta World Cinema ini mengingatkan bahwa festival film bukan sekadar ajang tayang. Festival juga adalah infrastruktur bagi regenerasi: tempat sutradara baru ditemukan, diuji oleh penonton, dan didorong untuk membuat karya berikutnya. Dukungan semacam inilah yang membuat industri film tetap hidup dan terus melahirkan suara-suara baru.
Apa poin penting dari berita ini?
- Jakarta World Cinema berencana menghidupkan kembali kompetisi film pertama.
- Kompetisi itu terakhir digelar pada edisi pertama festival tahun 2022 dan dimenangi Autobiography karya Makbul Mubarak.
- Kompetisi sempat dihentikan karena keterbatasan pendanaan.
- Festival kini mencari mitra dan pendanaan, serta membuka pendaftaran lewat FilmFreeway.
- Edisi terbaru festival menampilkan sekitar 180 film dari 47 negara.


