Polisi Portugal membubarkan kamp protes krisis perumahan di Lisbon dan Porto pada Minggu (1/11/2026) sekitar pukul 04.30 waktu setempat. Operasi pembubaran itu berujung bentrokan, dengan 13 orang ditangkap dan puluhan orang dilaporkan mengalami luka-luka.
Apa yang terjadi, di mana saja operasinya, dan siapa yang ditangkap? Aparat antihuru-hara bergerak ke perkemahan di Alun-alun Rossio, Lisbon, dan Alun-alun Dom Joao I, Porto, dengan perisai dan tongkat pemukul. Menurut kepolisian, enam orang ditangkap di Lisbon dan tujuh lainnya di Porto karena menolak perintah untuk membubarkan diri. Polisi juga menyita 69 tenda di Lisbon dan 30 tenda di Porto.
Perkemahan itu didirikan pada Sabtu malam setelah demonstrasi damai menentang kenaikan biaya perumahan di kedua kota. Para pengunjuk rasa menuntut pemerintah membatalkan rancangan undang-undang sewa properti yang diajukan pemerintah minoritas berhaluan kanan-tengah. Rancangan itu dinilai akan mempermudah penggusuran dan menghapus batas sewa untuk kontrak baru, sehingga membuat biaya tempat tinggal semakin sulit dijangkau dan penyewa semakin rentan.
Bentrokan pecah ketika petugas mulai membongkar tenda. Sejumlah pengunjuk rasa disebut melemparkan botol dan cat ke arah petugas, sementara aparat dituding menggunakan kekuatan berlebihan. Kelompok aktivis Acampada Lisboa menyebut lebih dari 30 pengunjuk rasa terluka, termasuk 10 orang yang membutuhkan perawatan rumah sakit. Di sisi lain, kepolisian menyebut 13 petugas mengalami luka-luka, dengan delapan di antaranya harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.
Sebelum operasi, komandan kepolisian Iuri Rodrigues disebut telah tiga kali memperingatkan demonstran bahwa tenda yang didirikan tanpa izin akan dibongkar dan pihak yang melawan dapat dikenai tuduhan pembangkangan. Di Porto, polisi menyebut tiga petugas berpakaian preman yang memantau pengunjuk rasa diserang setelah terlihat oleh sekelompok massa.
Mengapa protes perumahan di Portugal memanas? Portugal menghadapi salah satu krisis perumahan terburuk di Eropa. Harga rumah di negara itu meningkat lebih dari dua kali lipat sejak 2017, sedangkan biaya sewa untuk kontrak baru hampir mengalami kenaikan dua kali lipat. Kelompok anak muda termasuk pihak yang paling terdampak, karena penghasilan mereka semakin jauh tertinggal dari harga tempat tinggal.
Para demonstran menuntut pembatasan harga sewa, penambahan perumahan publik, serta penghentian penggusuran tanpa penyediaan tempat tinggal alternatif. Mereka juga telah berulang kali mendirikan perkemahan di ruang publik dalam beberapa pekan terakhir, dan aparat berulang kali membongkarnya. Ricardo Sa Fernandes, pengacara yang mendampingi para pengunjuk rasa di lokasi perkemahan Lisbon, berencana mengambil langkah hukum atas operasi pembubaran tersebut.
Kelompok aktivis juga menyerukan aksi lanjutan di ibu kota pada sore harinya. Persoalan perumahan kini menjadi salah satu ujian politik terbesar bagi pemerintah Portugal, karena menyangkut kebutuhan dasar jutaan warga sekaligus stabilitas sosial di kota-kota besar seperti Lisbon dan Porto.
Apa poin penting dari berita ini?
- Polisi Portugal membubarkan kamp protes perumahan di Alun-alun Rossio, Lisbon, dan Alun-alun Dom Joao I, Porto, pada Minggu (1/11/2026) pukul 04.30 waktu setempat.
- Sebanyak 13 orang ditangkap, enam di Lisbon dan tujuh di Porto, karena menolak perintah membubarkan diri.
- Polisi menyita 69 tenda di Lisbon dan 30 tenda di Porto, sementara puluhan pengunjuk rasa dan 13 petugas dilaporkan terluka.
- Protes dipicu rancangan undang-undang sewa properti yang dinilai mempermudah penggusuran dan menghapus batas sewa kontrak baru.
- Harga rumah di Portugal meningkat lebih dari dua kali lipat sejak 2017, dan biaya sewa kontrak baru hampir naik dua kali lipat.


