Berawal dari rempeyek yang disukai banyak orang, Retno Wahyuningsih kini menjalankan restoran Indonesia Monggo Moro di Shinjuku, Tokyo, Jepang. Restoran yang mengusung konsep warteg Jawa itu menyajikan masakan Nusantara dengan cita rasa yang dipertahankan seperti di Indonesia, dan telah berdiri selama delapan tahun.
Monggo Moro, yang berarti silakan datang dalam bahasa Jawa, menyambut tamu dengan cara khas warteg. Pelanggan dapat menunjuk makanan yang dipilih di etalase, mengikuti cara memesan di warteg pada umumnya. Retno menangani urusan dapur, mulai dari menyusun menu harian dan berbelanja bahan hingga memasak sendiri setiap hidangan.
Menu yang disajikan mencakup makanan dari berbagai daerah di Indonesia. Menu bebek dan ayam tersedia, sedangkan hidangan lainnya disesuaikan dengan keinginan Retno. Bila ada tamu yang memesan hidangan seperti mi gomak, Retno akan mencari resepnya di internet dan mencoba memasaknya, sehingga dapur Monggo Moro selalu terbuka pada selera baru tanpa meninggalkan cita rasa rumahan.
Dalam wawancara di Tokyo, Retno mengatakan pelanggan yang datang dipersilakan menikmati cita rasa asli, termasuk tingkat kepedasan masakan Indonesia. Kisaran harga paket makan siang dimulai dari 1.500 yen atau sekitar Rp170 ribu, bergantung pada lauk yang dipilih. Paket makan siang mencakup nasi, sayur, dan sup.
Sejak awal, Monggo Moro mengusung konsep sesuai syariat Islam. Retno mengatakan restoran tidak menjual bir, sehingga pelanggan muslim dapat makan dengan tenang. Konsep ini membuat Monggo Moro menjadi salah satu tempat favorit bagi warga Indonesia yang merindukan masakan rumah, sekaligus menjadi pintu bagi warga Jepang untuk mengenal kuliner Nusantara.
Perjalanan usaha ini dimulai dari hal sederhana. Retno mulai membuat rempeyek yang disukai banyak orang, lalu menerima pesanan makanan, termasuk dari rombongan wisata. Dari pesanan demi pesanan itu, usaha rumahan tersebut tumbuh menjadi restoran yang kini melayani Tokyo, kota dengan jutaan penduduk dan ribuan pilihan kuliner dari seluruh dunia.
Kehadiran warteg Indonesia di Tokyo juga menunjukkan bahwa usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kuliner Indonesia memiliki peluang di pasar global. Kuncinya bukan pada kemewahan tempat, melainkan pada konsistensi rasa, kejujuran bahan, dan pelayanan yang membuat pelanggan merasa seperti di rumah sendiri. Monggo Moro membuktikan bahwa masakan rumahan seperti tempe orek, ikan balado, ayam cabai hijau, hingga lalapan dan sambal dapat menemukan penggemarnya bahkan di tengah persaingan kuliner internasional.
Bagi diaspora Indonesia di Jepang, Monggo Moro lebih dari sekadar tempat makan. Restoran ini menjadi ruang temu, pengobat rindu, dan pengingat bahwa cita rasa kampung halaman dapat dibawa ke mana pun, selama ada yang tekun meraciknya setiap hari.
Apa poin penting dari berita ini?
- Berawal dari rempeyek yang disukai banyak orang, Retno Wahyuningsih kini menjalankan restoran Indonesia Monggo Moro di Shinjuku, Tokyo, Jepang.
- Restoran yang mengusung konsep warteg Jawa itu menyajikan masakan Nusantara dengan cita rasa yang dipertahankan seperti di Indonesia.
- Pelanggan dapat menunjuk makanan yang dipilih di etalase, mengikuti cara memesan di warteg pada umumnya.
- Kisaran harga paket makan siang dimulai dari 1.500 yen atau sekitar Rp170 ribu, bergantung pada lauk yang dipilih.
- Sejak awal, Monggo Moro mengusung konsep sesuai syariat Islam dan restoran tidak menjual bir.


