Badan Pengelolaan Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) tengah menyelesaikan penyempurnaan rancangan sebuah sistem informasi terintegrasi bernama Sistem Analisis Gambut dan Mangrove Nusantara (SAGARA). Platform itu dirancang menjadi “satu pintu data” bagi seluruh pemangku kepentingan dalam pengelolaan ekosistem gambut dan mangrove di Indonesia.
Hal itu diungkapkan Mayjen TNI Sriyanto saat finalisasi rancangan SAGARA berlangsung di Hotel Swarna Dwipa, Palembang, pada Kamis, 30 Oktober 2026. Finalisasi ini menjadi tahap penting sebelum sistem tersebut benar-benar dapat digunakan sebagai rujukan bersama dalam pengelolaan gambut dan mangrove.
Sriyanto menjelaskan SAGARA bukan sekadar peta digital. Sistem ini dibangun berbasis teknologi spasial yang diperkuat dengan inovasi kecerdasan buatan (AI), sehingga mampu berfungsi sebagai pusat pertukaran data dan pengetahuan sekaligus sistem peringatan dini.
SAGARA akan menjadi clearing house sekaligus pusat pengetahuan pengelolaan ekosistem gambut dan mangrove. Artinya, data dari berbagai pihak dapat dihimpun, diverifikasi, dan disajikan dalam satu wadah yang sama, sehingga pengambilan keputusan tidak lagi bertumpu pada data yang tersebar dan sulit dipertemukan.
“Juga berfungsi sebagai deteksi dini kebakaran di lahan gambut dan kerusakan ekosistem mangrove,” ujar Mayjen Sriyanto.
Keunggulan utama SAGARA, kata dia, terletak pada kemampuannya menyajikan tidak hanya informasi kerawanan kebakaran, baik dari analisis pakar maupun laporan masyarakat yang terverifikasi, tetapi juga rekomendasi tindakan nyata. Dengan demikian, sistem ini tidak berhenti pada peringatan, melainkan membantu penggunanya menentukan langkah yang perlu dilakukan.
Fungsi tersebut sangat penting karena lahan gambut dan mangrove memiliki peran ekologis yang besar. Gambut menyimpan karbon dalam jumlah besar, sehingga kebakaran di lahan gambut sulit dipadamkan dan menghasilkan asap tebal yang mengganggu kesehatan serta aktivitas masyarakat. Mangrove melindungi pesisir dari abrasi dan menjadi habitat penting bagi biota laut.
Selama ini, pengelolaan gambut dan mangrove melibatkan banyak pihak, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, lembaga penelitian, hingga masyarakat di sekitar kawasan. Tanpa satu pintu data, informasi mengenai kondisi lahan, kerawanan kebakaran, dan kerusakan ekosistem sering kali tersebar di berbagai sistem yang berbeda.
Dengan SAGARA, seluruh pemangku kepentingan diharapkan dapat mengakses gambaran yang sama mengenai kondisi gambut dan mangrove, termasuk titik-titik rawan kebakaran dan kerusakan. Laporan masyarakat yang terverifikasi juga menjadi bagian dari sistem, sehingga pemantauan tidak hanya mengandalkan teknologi, tetapi juga pengetahuan warga di lapangan.
Penyempurnaan rancangan SAGARA menjadi bagian dari upaya yang lebih luas untuk memulihkan dan melindungi ekosistem gambut dan mangrove Indonesia. Ketika data akurat, peringatan dini berfungsi, dan rekomendasi tindakan tersedia, upaya pencegahan kebakaran dan kerusakan ekosistem berpeluang berjalan lebih cepat dan lebih tepat sasaran.
Apa poin penting dari berita ini?
- Badan Pengelolaan Gambut dan Mangrove Nasional tengah menyelesaikan penyempurnaan rancangan sistem informasi terintegrasi SAGARA.
- SAGARA dirancang menjadi satu pintu data bagi seluruh pemangku kepentingan dalam pengelolaan ekosistem gambut dan mangrove di Indonesia.
- Sistem ini berbasis teknologi spasial yang diperkuat kecerdasan buatan, dan berfungsi sebagai pusat pertukaran data serta sistem peringatan dini.
- SAGARA juga berfungsi sebagai deteksi dini kebakaran di lahan gambut dan kerusakan ekosistem mangrove, serta menyajikan rekomendasi tindakan nyata.


