Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyampaikan bahwa jumlah kawasan permukiman kumuh di ibu kota turun secara signifikan. Pernyataan itu disampaikan di Balai Kota DKI Jakarta pada Rabu (28/10/2026), dengan perbandingan angka antara 2017 dan 2026.
Pada 2017, jumlah kawasan kumuh di Jakarta tercatat 445 lokasi. Pada 2026, jumlahnya menjadi 211 lokasi, atau turun lebih dari 52 persen. Penurunan itu disampaikan Pramono dengan nada lega, karena ia mengaku sempat khawatir dengan kondisi permukiman kumuh di Jakarta pada tahun-tahun sebelumnya.
Mengapa penurunan ini bisa terjadi? Artikel tersebut mengaitkannya dengan optimalisasi infrastruktur sosial berbasis masyarakat, yakni Dasawisma (Dawis), Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), dan Juru Pemantau Jentik (Jumantik). Jaringan kader di tingkat rukun tetangga dan keluarga ini menjadi ujung tombak dalam memantau lingkungan, kebersihan, dan kesehatan warga di permukiman padat.
Selain itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga mengandalkan program Pasukan Putih dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Saat ini, sebanyak 584 personel Pasukan Putih bekerja di lapangan. Pramono mendukung penguatan program tersebut, termasuk untuk mendukung penanganan tuberkulosis (TBC) dan penemuan kasus di tengah masyarakat.
Bagaimana kaitan antara permukiman kumuh dan kesehatan? Lingkungan padat, lembap, dan kurang ventilasi memang lebih rentan terhadap penularan penyakit, termasuk TBC. Karena itu, upaya memperbaiki permukiman tidak bisa dilepaskan dari upaya kesehatan masyarakat, mulai dari pemantauan jentik, kebersihan lingkungan, hingga penemuan dini warga yang sakit agar segera mendapat pengobatan.
Meski angka penurunan sudah signifikan, pekerjaan rumah masih tersisa. Sebanyak 211 lokasi kumuh masih perlu ditangani secara bertahap, dengan perbaikan lingkungan, akses air bersih dan sanitasi, serta pemberdayaan warga agar perbaikan yang sudah dicapai tidak kembali memburuk.
Dengan capaian ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta diharapkan terus memperkuat peran Dasawisma, PKK, Jumantik, dan Pasukan Putih, agar penurunan kawasan kumuh beriringan dengan peningkatan kualitas hidup warga, bukan sekadar perubahan angka di atas kertas.
Apa poin penting dari berita ini?
- Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyampaikan jumlah kawasan kumuh di Jakarta turun dari 445 lokasi pada 2017 menjadi 211 lokasi pada 2026.
- Penurunan itu mencapai lebih dari 52 persen, dan disampaikan Pramono di Balai Kota DKI Jakarta pada Rabu (28/10/2026).
- Penurunan tersebut dikaitkan dengan optimalisasi Dasawisma, PKK, dan Juru Pemantau Jentik di tingkat masyarakat.
- Sebanyak 584 personel Pasukan Putih Dinas Kesehatan DKI Jakarta saat ini bekerja di lapangan, termasuk untuk mendukung penanganan TBC dan penemuan kasus di masyarakat.


