Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST) kembali memberi petunjuk baru tentang asal-usul komet antarbintang 3I/ATLAS. Dalam temuan yang dilaporkan pada 2 November 2026, para ilmuwan menemukan bahwa komet pengelana antarbintang itu tersusun dari butiran es mungil yang tercampur debu, dengan susunan yang cukup berbeda dari komet-komet asli tata surya kita.
Yang menarik, butiran es tersebut justru menunjukkan kemiripan yang mencolok dengan benda-benda es di tepi tata surya, yang berada jauh di balik orbit Neptunus dan dikenal sebagai objek trans-Neptunus. Kemiripan ini menjadi petunjuk penting tentang kondisi pembentukan planet di sekitar bintang lain, tempat komet semacam ini dilahirkan.
Komet 3I/ATLAS diketahui memasuki tata surya pada musim panas 2025. Ia menjadi objek ketiga yang terkonfirmasi datang dari luar tata surya, setelah 1I/Oumuamua yang terlihat pada 2017 dan 2I/Borisov yang terdeteksi pada 2019. Karena itu, komet ini memberi kesempatan langka untuk mengintip kondisi di sistem bintang lain.
Para peneliti meyakini 3I/ATLAS tidak lahir di tata surya. Komet ini kemungkinan besar terbentuk di dalam piringan gas dan debu pembentuk planet yang mengelilingi sebuah bintang muda, mungkin sudah 10 hingga 12 miliar tahun yang lalu, atau lebih dari dua kali usia tata surya kita. Setelah itu, entah bagaimana ia terlempar dari sistem asalnya dan mengembara di ruang antarbintang sebelum akhirnya melintasi tata surya kita. Bintang mana tepatnya tempat ia terbentuk, hingga kini masih belum diketahui.
Untuk menguak teka-teki itu, JWST mengamati 3I/ATLAS dengan instrumen spektrograf inframerah-dekat (NIRSpec) sebanyak tiga kali, sejak Agustus 2025 sebelum komet mencapai titik terdekatnya dengan matahari, hingga setelah titik terdekat itu pada April 2026. Seperti komet pada umumnya, 3I/ATLAS tersusun dari butiran es berukuran kurang dari satu mikron, atau sepersejuta meter. Ketika permukaan komet menghangat oleh matahari, gas menyembur keluar dan membawa butiran es tersebut ke dalam koma, yaitu awan es dan debu yang mengelilingi komet, serta ke ekornya, tempat JWST dapat mendeteksinya.
Hasil pengamatan itu justru menghadirkan teka-teki baru. Pada komet-komet asli tata surya, es air biasanya menghasilkan garis serapan yang kuat pada panjang gelombang tiga mikron, ditambah garis yang lebih lemah pada 1,5 dan dua mikron. Namun pada 3I/ATLAS, garis pada 1,5 dan dua mikron itu hilang, sementara garis tiga mikron tetap kuat. Kombinasi tersebut menjadi puzzle bagi tim peneliti yang dipimpin Silvia Protopapa dari Southwest Research Institute.
Temuan ini melengkapi studi terpisah pada 2025 yang dipimpin Martin Cordiner dari Pusat Antariksa Goddard NASA dan Catholic University of America, yang menemukan bahwa 3I/ATLAS memiliki salah satu kelimpahan karbon dioksida terbesar yang pernah terlihat pada sebuah komet. Cordiner, yang memimpin program JWST untuk mempelajari objek seperti ini, menyatakan teleskop tersebut memang dirancang agar siap begitu komet antarbintang yang aktif ditemukan, lalu mengikutinya dari waktu ke waktu. Dengan begitu, setiap petunjuk baru dari 3I/ATLAS membantu para ilmuwan memahami seperti apa kondisi pembentukan planet di sekitar bintang-bintang lain di galaksi kita.
Apa poin penting dari berita ini?
- Teleskop James Webb menemukan komet antarbintang 3I/ATLAS tersusun dari butiran es mungil yang tercampur debu.
- Butiran es itu berbeda dari komet tata surya, tetapi mirip dengan objek trans-Neptunus di balik orbit Neptunus.
- 3I/ATLAS adalah objek antarbintang ketiga yang terkonfirmasi, setelah Oumuamua pada 2017 dan Borisov pada 2019.
- Komet ini diduga terbentuk di piringan pembentuk planet sekitar bintang muda, mungkin 10 hingga 12 miliar tahun lalu.
- Pengamatan NIRSpec menemukan garis serapan 1,5 dan dua mikron hilang, sementara garis tiga mikron tetap kuat.
- Bintang asal 3I/ATLAS hingga kini masih belum diketahui secara pasti.


