Monday, 2 November 2026
Antariksa

Sampel Asteroid Ryugu Simpan Petunjuk Baru, Kontradiksi Lama soal Air Akhirnya Terjelaskan

Asteroid Ryugu yang dicitrakan wahana Hayabusa 2 milik Jepang

Tokyo — Sampel asteroid Ryugu yang dibawa pulang wahana Hayabusa 2 milik Jepang pada 2020 kembali menghasilkan temuan penting. Penelitian terbaru yang terbit di jurnal Nature Communications Earth and Environment pada November 2026 menawarkan penjelasan atas kontradiksi lama tentang bagaimana air mengubah batuan di dalam asteroid tersebut.

Asteroid seperti Ryugu sering disebut fosil dari pembentukan Tata Surya, sekitar 4,5 miliar tahun lalu. Berbeda dengan Bumi yang terus dibentuk gunung berapi, tektonik, dan cuaca, asteroid beserta benda induknya relatif tidak berubah sejak masa awal Tata Surya. Karena itulah misi pengembalian sampel dikirim: untuk membaca sejarah awal itu langsung dari material aslinya.

Hayabusa 2 milik Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) berhasil menyelesaikan misi pengambilan sampel Ryugu dan memulangkan kapsul berisi 16 kilogram material tersebut ke Bumi pada 2020. Hampir enam tahun setelah kedatangannya, sampel itu masih terus menghasilkan temuan ilmiah saat para peneliti meneliti komposisi mineral dan kimianya.

Kontradiksi yang dimaksud menyangkut alterasi basah, yakni perubahan mineral dan kimia pada batuan akibat kontak dengan air. Di Bumi, proses ini umum terjadi, misalnya saat tanah liat terbentuk dari batuan silikat di kerak Bumi karena paparan air. Pada Ryugu pun ada alterasi basah, tetapi matriks mineralnya tampak memiliki dua komponen yang masing-masing berubah dalam kondisi basah yang berbeda.

Hal itu menyiratkan matriks interior Ryugu tambal sulam, sesuatu yang sangat tidak mungkin. Sebuah asteroid bisa menggumpal pada skala besar, tetapi bagaimana mungkin dua komponen dalam matriks mineral yang sama mengalami alterasi dalam kondisi berbeda? Pertanyaan itu lama mengganggu bidang kosmokimia.

Penelitian terbaru yang dipimpin Reon Okumura dari Universitas Kanazawa, Jepang, meneliti sampel itu dengan fasilitas sinar-X kuat di Jepang, yakni fasilitas radiasi sinkrotron SPring-8 dan Photon Factory High Energy Accelerator. Para peneliti menemukan serpentine dan saponite seperti yang diperkirakan, tetapi juga menemukan sesuatu yang lain: magnesium silicate hydrate yang kurang kristalin, disingkat M-S-H.

Keistimewaan M-S-H, menurut penulis korespondensi Keisuke Fukushi dari Universitas Kanazawa, adalah kemampuannya menampung beragam rasio magnesium terhadap silikon. Fleksibilitas itu bisa menjadi kunci untuk memahami bagaimana interaksi air dan batuan berlangsung tanpa menghapus perbedaan kimia yang sudah ada di dalam asteroid induknya. Dengan kata lain, M-S-H bisa menjadi titik awal yang sama, yang kemudian berkembang menjadi fase serpentine dan saponite dengan hasil berbeda.

Temuan ini tidak hanya merapikan satu teka-teki mineralogi. Ia juga memberi gambaran lebih jelas tentang bagaimana air bekerja di benda-benda awal Tata Surya, dan bagaimana material pembentuk planet menyimpan jejak interaksi tersebut selama miliaran tahun tanpa terhapus sepenuhnya.

Apa poin penting dari berita ini?

  • Penelitian terbaru atas sampel asteroid Ryugu terbit di Nature Communications Earth and Environment pada November 2026.
  • Sampel itu dipulangkan wahana Hayabusa 2 milik JAXA pada 2020, dan masih terus diteliti hampir enam tahun kemudian.
  • Kontradiksi lamanya: matriks Ryugu tampak memiliki dua komponen yang berubah dalam kondisi basah berbeda, sesuatu yang sulit dijelaskan.
  • Para peneliti menemukan material M-S-H yang fleksibel, yang diduga menjadi titik awal yang sama sebelum berkembang menjadi serpentine dan saponite.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *