Misteri yang menggantung selama puluhan tahun di tata surya akhirnya terpecahkan. Tim astronom internasional yang dipimpin peneliti Queen’s University Belfast berhasil menemukan populasi asteroid Trojan milik Neptunus yang selama ini luput dari pengamatan, berkat data awal dari Observatorium Vera C. Rubin di Chili.
Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal The Astrophysical Journal Letters itu mengidentifikasi dua asteroid dan satu kandidat sebagai anggota permanen awan Trojan pengikut Neptunus, yang dikenal sebagai titik Lagrange L5. Objek-objek tersebut merupakan sisa-sisa purba dari masa pembentukan tata surya, sehingga keberadaannya memberi petunjuk penting tentang sejarah awal planet-planet raksasa.
Asteroid Trojan adalah kelompok batuan angkasa yang berbagi orbit dengan sebuah planet, berkumpul di titik-titik stabil gravitasi di depan dan di belakang planet itu. Populasi semacam ini pertama kali dikenali pada 1906 di orbit Jupiter, yang kemudian dijuluki populasi Trojan dan Yunani. Setelah itu, keluarga serupa ditemukan mengiringi Saturnus dan Uranus, tetapi Neptunus tetap menjadi pengecualian yang membingungkan para astronom selama puluhan tahun.
Tim yang dipimpin Dr. Meg Schwamb, astronom dan dosen di Pusat Penelitian Astrofisika Queen’s University Belfast, menganalisis data pengamatan awal Rubin. Observatorium tersebut memadukan teleskop survei Simonyi berdiameter 8,4 meter dengan Kamera LSST, kamera digital terbesar yang pernah dibuat, dan mulai beroperasi pada Juni 2025. Dengan optik yang tajam dan kemampuan memotret langit dengan sangat cepat, Rubin menjadi teleskop survei darat tercepat yang pernah ada.
Alasan Neptunus begitu sulit ditemukan Trojan-nya bukan karena objeknya tidak ada, melainkan karena letaknya. Selama sepuluh tahun terakhir, awan Trojan Neptunus berada di wilayah langit yang dari Bumi tampak berhimpitan dengan pusat Galaksi Bima Sakti, kawasan yang sangat padat dan terang sehingga cahaya redup asteroid kecil di depannya tertutup. Kini awan pengikut itu mulai bergerak keluar dari kawasan tersebut, dan kedalaman pengamatan Rubin akhirnya memungkinkan para peneliti menggandakan jumlah objek yang diketahui berada di orbit jangka panjang dalam populasi itu.
Pengamatan Rubin dengan berbagai filter cahaya juga menunjukkan bahwa permukaan Trojan yang mendahului dan yang mengikuti Neptunus memiliki kemiripan. Hal ini menguatkan dugaan bahwa keduanya berasal dari populasi purba yang sama. Seiring survei Legacy Survey of Space and Time berjalan selama sembilan tahun ke depan, para astronom memperkirakan Rubin akan menemukan puluhan hingga ratusan Trojan Neptunus baru, ditambah puluhan ribu benda es di wilayah trans-Neptunus dan Sabuk Kuiper.
Schwamb menegaskan bahwa data awal Rubin sudah memperluas pengetahuan tentang benda-benda kecil tata surya, termasuk asteroid dan komet, dan temuan ini baru permulaan. Bagi para peneliti, setiap Trojan baru adalah fosil langit yang membantu merekonstruksi bagaimana planet-planet raksasa bermigrasi dan menata tata surya miliaran tahun lalu.
Apa poin penting dari berita ini?
- Tim pimpinan Queen’s University Belfast menemukan asteroid Trojan Neptunus yang selama puluhan tahun luput dari pengamatan.
- Dua asteroid dan satu kandidat diidentifikasi sebagai anggota permanen awan Trojan pengikut Neptunus di titik L5.
- Penemuan ini berasal dari data awal Observatorium Vera C. Rubin di Chili, yang mulai beroperasi pada Juni 2025.
- Trojan Neptunus sulit ditemukan karena selama sepuluh tahun terakhir posisinya berhimpitan dengan pusat Bima Sakti yang terang dan padat.
- Survei Rubin selama sembilan tahun ke depan diperkirakan menemukan puluhan hingga ratusan Trojan Neptunus tambahan.


