Tuesday, 3 November 2026
Lingkungan

BNPB: 742 Hektare Lahan Masih Terbakar, Kalimantan Tengah Terluas

Api membakar lahan dengan asap tebal membubung di atas pepohonan

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat masih ada 742 hektare lahan yang terbakar di empat provinsi hingga Senin, 2 November 2026. Angka itu menurun tajam dibanding 31 Oktober 2026, ketika luas lahan yang masih terbakar mencapai 3.014 hektare, dan BNPB menargetkan seluruh titik api itu dapat dipadamkan pada 4 November 2026.

Data tersebut disampaikan Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari. Kalimantan Tengah menjadi provinsi dengan luas lahan terbakar terbesar, yakni 430,23 hektare yang tersebar di empat kabupaten: Barito Utara 250,26 hektare, Gunung Mas 106,12 hektare, Barito Selatan 54,25 hektare, dan Barito Timur 19,60 hektare.

Di luar Kalimantan Tengah, Jambi mencatat 133,53 hektare lahan masih terbakar, dengan rincian Tanjung Jabung Barat 76,28 hektare, Muaro Jambi 46,37 hektare, dan Tanjung Jabung Timur 10,88 hektare. Riau menyusul dengan 99,16 hektare, terdiri dari Siak 76,68 hektare dan Indragiri Hulu 22,48 hektare. Sementara itu, Kalimantan Selatan mencatat 79,55 hektare, yakni Barito Kuala 67,70 hektare dan Banjar 11,85 hektare.

Penurunan dari 3.014 hektare menjadi 742 hektare dalam dua hari menunjukkan upaya pemadaman di lapangan membuahkan hasil, meski ratusan hektare yang masih menyala tetap menjadi pekerjaan rumah. Kebakaran hutan dan lahan tidak hanya merusak tutupan lahan, tetapi juga menghasilkan asap yang mengganggu kesehatan dan aktivitas warga, serta mengancam kawasan permukiman dan lahan usaha di sekitarnya.

Kota Palangka Raya, ibu kota Kalimantan Tengah, sebelumnya memperpanjang status tanggap darurat kebakaran hutan dan lahan hingga 9 November 2026. Perpanjangan status itu menggambarkan bahwa ancaman karhutla di wilayah tersebut belum sepenuhnya berlalu, bahkan ketika luas area terbakar secara nasional sudah menyusut.

Target pemadaman pada 4 November 2026 menjadi penanda penting berikutnya. Bila tercapai, maka seluruh 742 hektare yang masih terbakar pada 2 November itu harus sudah padam. Namun cuaca, ketersediaan air, dan akses menuju titik api di lapangan akan sangat menentukan apakah target tersebut realistis, terutama di kabupaten-kabupaten dengan titik api terluas seperti Barito Utara.

Bagi masyarakat di sekitar kawasan rawan karhutla, informasi ini sekaligus menjadi pengingat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. Satu titik api yang dibiarkan dapat meluas dengan cepat pada musim kemarau dan angin kencang, dan biaya pemadamannya jauh lebih besar dibanding upaya pencegahan sejak awal.

Apa poin penting dari berita ini?

  • BNPB mencatat 742 hektare lahan masih terbakar di empat provinsi hingga 2 November 2026, turun dari 3.014 hektare pada 31 Oktober 2026.
  • BNPB menargetkan seluruh titik api itu dipadamkan pada 4 November 2026.
  • Kalimantan Tengah terluas dengan 430,23 hektare, disusul Jambi 133,53 hektare, Riau 99,16 hektare, dan Kalimantan Selatan 79,55 hektare.
  • Di Kalimantan Tengah, Barito Utara mencatat 250,26 hektare, Gunung Mas 106,12 hektare, Barito Selatan 54,25 hektare, dan Barito Timur 19,60 hektare.
  • Data disampaikan Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari.
  • Kota Palangka Raya memperpanjang status tanggap darurat karhutla hingga 9 November 2026.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *