Monday, 2 November 2026
Antariksa

Satelit Militer dan Sipil Kini Mengawasi Bola Api, Perkuat Pertahanan Planet dari Batuan Antariksa

Bola api Perseid melintas di atas padang rumput pada malam hari

Satelit militer, sipil, dan ilmiah kini bekerja bersama untuk mengawasi bola api yang melintas di atmosfer Bumi. Pengamatan gabungan ini memperkuat pertahanan planet, yaitu upaya melindungi Bumi dari batuan antariksa yang bisa jatuh dan menimbulkan kerusakan.

Penjelasan itu disampaikan dalam laporan yang mengutip Elizabeth Silber, fisikawan riset senior di Sandia National Laboratories, Departemen Energi Amerika Serikat, di New Mexico. Silber menjelaskan bahwa deteksi dari pemerintah Amerika Serikat melalui pusat data CNEOS milik NASA di Jet Propulsion Laboratory, California, memberi titik awal berupa lokasi, waktu, dan perkiraan energi sebuah peristiwa. Setelah itu, sistem sipil dan ilmiah memvalidasi serta mempertajam data tersebut.

Tidak ada satu sensor pun yang bisa menjelaskan semuanya. Sensor seismik dan infrasonik merekam gelombang kejut dan membantu membatasi lintasan, fragmentasi, serta energi benda yang jatuh. Pengamatan optik memberi pandangan independen atas penerbangan bercahaya benda itu, sementara radar cuaca Doppler mendeteksi material yang bertahan setelah melambat di atmosfer.

Sejumlah peristiwa menjadi contoh bagaimana pengamatan gabungan ini bekerja. Peristiwa pada 1 April di Samudra Atlantik Selatan, lepas pantai Argentina, diamati sensor militer dan sipil Amerika Serikat. Kecerahan puncaknya tercatat pada ketinggian hampir 60 mil atau sekitar 90,5 kilometer di atas Atlantik Selatan. Peristiwa itu juga ditangkap satelit GOES-E milik NOAA serta satelit Meteosat Third Generation Imager-1 Eropa melalui pencitra petir dari orbit geostasioner.

Peristiwa lain terjadi pada 24 April 2025 di Alaska selatan-tengah. Peristiwa ini direkam 37 stasiun seismik, 16 sensor infrasonik tunggal, dan empat array infrasonik, dengan 30 kedatangan balistik dan beberapa kedatangan fragmentasi, ditambah radar cuaca Doppler dan video optik. Menariknya, peristiwa ini tidak dilaporkan oleh sensor pemerintah Amerika Serikat dalam basis data CNEOS, sehingga menunjukkan pentingnya jaringan pengamatan sipil dan ilmiah sebagai pelengkap.

Contoh ketiga datang dari Queensland barat laut, Australia, pada 20 Mei 2023. Batuan antariksa berukuran sekitar 12 kaki atau 3,7 meter mengalami fragmentasi dahsyat dan termasuk dalam 20 peristiwa paling energetik yang dilaporkan CNEOS sejak 1988, sekaligus yang paling energetik di Australia, setara ledakan bom 7,1 kiloton.

Rob Landis, spesialis pertahanan planet NASA yang kini menjadi manajer integrasi kendaraan kunjungan untuk Stasiun Luar Angkasa Internasional di Johnson Space Center NASA, mengingatkan satu hal penting: sistem harus bisa membedakan peristiwa alam dan peristiwa buatan manusia. Salah tafsir terhadap sebuah ledakan di atmosfer sebagai serangan pendahuluan akan menjadi tragedi yang mengerikan.

Dengan kata lain, pertahanan planet bukan hanya soal menemukan objek sebelum mencapai Bumi, tetapi juga memahami apa yang terjadi selama objek itu memasuki atmosfer. Kombinasi sensor militer, sipil, dan ilmiah inilah yang membuat pemahaman itu semakin lengkap.

Apa poin penting dari berita ini?

  • Satelit militer, sipil, dan ilmiah bekerja bersama mengawasi bola api di atmosfer Bumi untuk memperkuat pertahanan planet.
  • Deteksi pemerintah AS lewat CNEOS memberi lokasi, waktu, dan perkiraan energi awal, lalu sistem sipil dan ilmiah memvalidasi dan mempertajamnya.
  • Peristiwa di Atlantik Selatan, Alaska, dan Queensland menunjukkan peran gabungan sensor seismik, infrasonik, optik, dan radar cuaca Doppler.
  • Penting untuk membedakan peristiwa alam dan buatan manusia, karena salah tafsir bisa berakibat fatal.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *