Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Bandung menggelar soft launching Lamoria Pavilijoen, sebuah etalase karya tangan narapidana mulai dari produk kuliner hingga busana. Kegiatan yang berlangsung di Sport Jabar ini mengundang kerumunan warga pada pagi hari, dan antusiasme masyarakat terlihat dari ramainya pengunjung yang datang untuk melihat dan membeli produk karya warga binaan.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jawa Barat, Ika Yusanti, bersyukur melihat antusiasme masyarakat. Menurutnya, dukungan masyarakat yang sangat luar biasa itu dapat diartikan sebagai dukungan besar terhadap pembinaan melalui kreativitas warga binaan dalam menghasilkan produk yang bernilai ekonomi.
Ika menjelaskan etalase karya narapidana ini juga menjadi ruang interaksi antara warga binaan, petugas, dan masyarakat. Ruang interaksi itu penting karena pada sejatinya warga binaan akan kembali ke masyarakat, sehingga dukungan kuat dari masyarakat sangat dibutuhkan untuk proses reintegrasi mereka kelak.
Ika lalu berterima kasih kepada Dinas Pemuda dan Olahraga Jawa Barat yang mendukung acara ini lewat fasilitas tempat. Pihak Dinas Pemuda dan Olahraga Jawa Barat yang diwakili Sekretaris Dinas Pemuda dan Olahraga, Gilang Sailendra, menilai ramainya warga yang berkunjung sebagai bentuk antusiasme yang luar biasa. Gilang mengaku bangga dengan warga Bandung yang mendukung Lamoria dan kegiatan di Sport Jabar, selain memberikan apresiasi terhadap produk-produk warga binaan Lamoria.
Lapas Perempuan Bandung membuka acara dengan senam Zumba, cek kesehatan gratis, dan pameran produk Lamoria mulai dari batik, ecoprint, rajutan, craft, pakaian, hingga produk-produk kuliner. Rangkaian acara itu membuat soft launching tidak hanya menjadi ajang pameran, tetapi juga ruang kebersamaan antara warga binaan dan masyarakat luas.
Lapas Perempuan Bandung memperkenalkan dua produk kuliner unggulan mereka, yakni Puff Tape dengan delapan varian rasa dan kue soes dengan lima varian rasa. Kepala Lapas Perempuan Bandung, Rika Aprianti, menyebut kue soes memperkenalkan empat rasa baru, yaitu butterscotch coffee, coconut cloud, cokelat, dan matcha. Ia berharap dua produk kuliner buatan narapidana ini menjadi opsi oleh-oleh khas Bandung.
Rika menyebutkan bahwa Puff Tape diusung untuk membangkitkan kenangan lama Kota Bandung yang terkenal dengan peuyeum. Dengan mengolah peuyeum menjadi produk modern yang dikemas menarik, warga binaan tidak hanya belajar keterampilan produksi, tetapi juga belajar mengemas cerita dan identitas daerah ke dalam produk yang bernilai jual.
Antusiasme itu terlihat dari jumlah pengunjung: lebih dari 500 warga Bandung berkunjung dan rela mengantre untuk melihat serta membeli produk Lamoria. Angka itu menjadi bukti bahwa produk karya warga binaan mampu bersaing dan diterima pasar, asalkan diberi ruang, pendampingan, dan kepercayaan dari masyarakat.
Melalui Lamoria Pavilijoen, Lapas Perempuan Bandung menunjukkan bahwa pembinaan di dalam lapas tidak berhenti pada pembinaan kepribadian semata, tetapi juga membekali warga binaan dengan keterampilan nyata yang dapat menjadi bekal ekonomi setelah mereka kembali ke masyarakat. Etalase ini diharapkan menjadi jembatan antara karya warga binaan dan pasar yang lebih luas.
Apa poin penting dari berita ini?
- Lapas Perempuan Bandung menggelar soft launching Lamoria Pavilijoen, etalase karya tangan narapidana dari kuliner hingga busana.
- Acara berlangsung di Sport Jabar dan dihadiri kerumunan warga pada pagi hari.
- Kepala Kanwil Ditjen Pemasyarakatan Jawa Barat Ika Yusanti menyebut antusiasme masyarakat sebagai dukungan besar terhadap pembinaan lewat kreativitas.
- Dua produk kuliner unggulan diperkenalkan, yakni Puff Tape dengan delapan varian rasa dan kue soes dengan lima varian rasa.
- Lebih dari 500 warga Bandung berkunjung ke acara soft launching tersebut.


