Indeks Harga Saham Gabungan diprediksi masih berada dalam tren bearish dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Senin, 2 November 2026. Proyeksi itu muncul setelah pada penutupan Jumat, 30 Oktober 2026, IHSG melemah 0,80 persen atau turun 41,01 poin ke level 5.057,05, di tengah tekanan sentimen seputar MSCI dan nilai tukar rupiah.
Analis Henan Putra Rahmadi menilai IHSG akan bergerak dengan kecenderungan melemah karena tekanan dari dinamika MSCI dan rupiah, sementara potensi kenaikan dinilai terbatas. Ia memproyeksikan koreksi di area support 5.057 hingga 5.000, dengan resistance di 5.133 hingga 5.200 pada perdagangan Senin.
Pandangan senada disampaikan Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, yang memperkirakan IHSG masih berada dalam kondisi bearish momentum. Menurutnya, peluang pelemahan dengan penurunan terbatas masih terbuka lebar, sedangkan penguatan yang terjadi kemungkinan hanya berupa dead cat bounce atau pantulan sesaat di tengah tren turun.
Tekanan terhadap IHSG dikaitkan dengan aksi jual bersih investor asing yang dipicu dinamika usulan MSCI untuk mengklasifikasikan Indonesia menjadi standalone market. Wacana klasifikasi tersebut membuat sebagian investor global menahan diri dan menyesuaikan eksposur mereka terhadap pasar saham Indonesia.
Di tengah proyeksi pelemahan itu, analisis yang beredar turut menyebut sejumlah saham dengan rekomendasi speculative buy, yakni PT Bukit Asam Tbk dengan target Rp3.500, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk dengan target Rp2.600, dan PT Medco Energi Internasional Tbk dengan target Rp1.550. Rekomendasi semacam ini bersifat pandangan analis dan bukan jaminan keuntungan, sehingga investor tetap perlu mempertimbangkan profil risikonya masing-masing.
Pelaku pasar juga diminta mencermati sejumlah agenda penting pada awal pekan. Mulai 2 November berlaku kebijakan baru Bursa Efek Indonesia yang mengecualikan saham-saham yang tergolong dalam HSC dari perhitungan IHSG. Selain itu, investor menanti data PMI manufaktur Oktober, inflasi Oktober, dan neraca perdagangan September sebagai petunjuk arah ekonomi berikutnya.
Secara teknikal, Nafan memproyeksikan support IHSG di level 4.969 dan 4.907, serta resistance di 5.246 dan 5.326. Rentang tersebut memberi gambaran bahwa ruang gerak IHSG pada pekan ini masih dibayangi tekanan, meski pantulan teknikal tetap mungkin terjadi bila sentimen membaik.
Apa poin penting dari berita ini?
- IHSG diprediksi masih bearish dan cenderung melemah pada Senin, 2 November 2026, setelah Jumat, 30 Oktober 2026, melemah 0,80 persen ke level 5.057,05.
- Analis Henan Putra Rahmadi memproyeksikan support 5.057–5.000 dan resistance 5.133–5.200, dengan tekanan dari dinamika MSCI dan nilai tukar rupiah.
- Analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai pelemahan terbatas masih terbuka dan penguatan kemungkinan hanya dead cat bounce.
- Tekanan dikaitkan dengan net foreign sell akibat usulan MSCI mengklasifikasikan Indonesia menjadi standalone market.
- Investor diminta mencermati kebijakan baru BEI per 2 November serta data PMI manufaktur, inflasi, dan neraca perdagangan.


