Tim rekayasa sistem NASA memaparkan tiga konsep arsitektur awal untuk Habitable Worlds Observatory, teleskop antariksa yang dirancang untuk memotret langsung planet mirip Bumi di sekitar bintang seperti Matahari. Konsep-konsep itu dibahas dalam studi yang terbit pada Juni 2026 di jurnal Journal of Astronomical Telescopes, Instruments, and Systems. Meski peluncurannya baru dijadwalkan pada dekade 2040-an, perancangan sejak sekarang menentukan apakah misi ini kelak bisa menjawab pertanyaan apakah Bumi satu-satunya planet layak huni dan apakah manusia sendirian di alam semesta.
Menemukan planet mirip Bumi di luar tata surya adalah cita-cita besar riset eksoplanet. Sejak eksoplanet pertama di sekitar bintang mirip Matahari dikonfirmasi pada 1995, teknologi pendeteksian berkembang pesat, termasuk teleskop berbasis darat dan antariksa seperti Teleskop Antariksa James Webb. Para astronom memang sudah memotret langsung sejumlah eksoplanet, tetapi memotret planet mirip Bumi di sekitar bintang mirip Matahari masih menjadi tantangan teknologi besar. Planet-planet itu sangat redup dibandingkan bintang induknya dan tampak sangat dekat dengan bintang tersebut di langit, sehingga cahayanya mudah tertutup silau bintang.
Mengapa Habitable Worlds Observatory penting? Karena misi ini dirancang khusus untuk mengatasi masalah silau itu. Teleskop ini kelak diharapkan menggantikan James Webb sebagai teleskop antariksa utama, dengan tujuan utama memotret langsung eksoplanet mirip Bumi. Untuk itu, para peneliti memperkenalkan konsep rekayasa yang disebut Exploratory Analytic Cases, atau EAC, yang menyeimbangkan tuntutan target sains dengan kebutuhan rekayasa. Studi ini membahas tiga dari lima EAC pertama, dengan fokus pada jenis teleskop, ukuran cermin, dan apakah desainnya memakai sumbu optik di tengah atau di luar jalur cahaya.
Bagaimana ketiga desain itu berbeda? EAC1 dirancang dengan cermin 6 meter terinskripsi dan 7,2 meter tersirkumskripsi dalam desain off-axis, yaitu seluruh komponen berada di luar jalur pandang cahaya yang masuk sehingga pandangannya tidak terhalang. EAC2 memakai cermin bundar 6 meter, juga off-axis. EAC3 memakai cermin berdiameter luar 8 meter dalam desain on-axis, yaitu komponennya berada di dalam jalur pandang cahaya sehingga sebagian pandangan terhalang. Pada akhirnya para peneliti lebih mengutamakan desain off-axis karena memungkinkan pengumpulan cahaya yang lebih besar, disertai bukaan yang lebih besar untuk memperluas area pengumpul cahaya.
Pertimbangan penting lainnya adalah sifat suhu, yang memengaruhi pengumpulan cahaya dan operasi teleskop secara keseluruhan. Hal ini terutama relevan bagi instrumen koronagraf, perangkat yang memblokir silau bintang sehingga planet yang mengorbit di sekitarnya bisa dipotret langsung. Tim yang menyusun studi ini, yang terdiri dari anggota berbagai pusat NASA dan Jet Propulsion Laboratory, berhasil menyelesaikan arsitektur desain untuk EAC1 hingga EAC3 serta mengembangkan pemodelan ujung ke ujung untuk EAC1. Dengan praktik berbasis model yang mewarisi pengalaman James Webb dan diperkaya pengalaman teleskop Roman, tim mengembangkan berbagai perangkat untuk studi desain parametrik, lalu membagikan modelnya kepada mitra industri guna mendukung pematangan teknologi dan studi arsitektur independen.
Habitable Worlds Observatory sendiri sudah digarap selama sekitar sepuluh tahun, tetapi jadwal peluncurannya yang masih pada 2040-an membuat pekerjaan rekayasa hari ini terasa jauh dari sorotan. Justru di situlah pentingnya studi ini: desain dan tujuan yang digariskan sekarang akan memengaruhi target sains serta cara teleskop beroperasi puluhan tahun mendatang. Jika berhasil, teleskop ini tidak hanya memotret titik cahaya redup di samping bintang, melainkan membuka jalan untuk menguji apakah planet-planet itu benar-benar bisa mendukung kehidupan.
Apa poin penting dari berita ini?
- Tim rekayasa sistem NASA memaparkan tiga konsep arsitektur awal untuk Habitable Worlds Observatory, teleskop yang dirancang memotret langsung planet mirip Bumi.
- Tantangan terbesarnya adalah planet mirip Bumi sangat redup dan tampak sangat dekat dengan bintang induknya, sehingga mudah tertutup silau bintang.
- Studi Juni 2026 di Journal of Astronomical Telescopes, Instruments, and Systems membahas tiga Exploratory Analytic Cases dengan fokus jenis teleskop, ukuran cermin, dan desain on-axis atau off-axis.
- Para peneliti mengutamakan desain off-axis dan bukaan lebih besar karena memberi pengumpulan cahaya yang lebih baik, serta memperhatikan sifat suhu untuk kerja koronagraf.
- Habitable Worlds Observatory baru dijadwalkan meluncur pada 2040-an dan diharapkan menggantikan James Webb sebagai teleskop antariksa utama.


