Direktur Jenderal Pesantren Kementerian Agama (Kemenag), Basnang Said, secara resmi membuka program Santri Matic (Santri Melek Teknologi) di Pondok Pesantren Al-Muayyad, Solo, Sabtu (31/10). Program ini dirancang untuk membekali santri dengan keterampilan teknis dan digital agar mampu berdaya saing di dunia kerja serta membuka peluang usaha mandiri.
Program Santri Matic merupakan kolaborasi strategis antara Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif, Kementerian Agama, dan Masyarakat Ekonomi Syariah wilayah Surakarta, dengan dukungan dari Shopee Indonesia. Acara peluncuran ini turut dihadiri oleh Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya dan Wali Kota Surakarta Respati Achmad Ardianto.
Pada tahap perdana, sebanyak 200 santri dari 22 pesantren di wilayah Solo Raya berpartisipasi dalam pelatihan intensif. Materi yang diberikan mencakup pembuatan konten video, strategi berjualan di marketplace, hingga mekanisme menjadi afiliator digital. Materi-materi tersebut dipilih karena langsung bersentuhan dengan peluang ekonomi digital yang kini terbuka lebar bagi siapa pun yang menguasai keterampilan praktisnya.
Dalam sambutannya, Basnang Said menekankan bahwa santri telah memiliki fondasi soft skill dan karakter yang kuat. Namun, penguatan keterampilan praktis di bidang teknologi menjadi kebutuhan mendesak agar santri tidak sekadar menjadi penonton di era kecerdasan buatan (AI) dan perdagangan elektronik.
“Kita ingin santri tidak hanya pandai membaca kitab, tetapi juga mampu membaca perkembangan zaman. Santri harus dipersiapkan menjadi pengguna yang cerdas, kreator produktif, inovator kreatif, sekaligus pelaku ekonomi digital yang berdaya saing,” ujar Basnang. Pernyataan itu merangkum arah baru pembinaan santri: tradisi keilmuan yang kuat dipadukan dengan keterampilan zaman yang nyata manfaatnya.
Meski mendorong modernisasi, Basnang menegaskan bahwa penguatan teknologi tidak boleh mengikis jati diri pesantren. Ia berharap tradisi keilmuan pesantren tetap menjadi fondasi kokoh dalam menghadapi arus modernitas, sehingga santri yang melek teknologi tetap berakar pada nilai-nilai yang diajarkan di pesantren.
Basnang mengungkapkan bahwa pesantren sebenarnya telah memiliki modal infrastruktur untuk melatih keterampilan santri. Berdasarkan data Kemenag, terdapat sekitar 4.000 pesantren yang memiliki Balai Latihan Kerja (BLK) dan 800 SMK berbasis pesantren. “Fasilitas tersebut dapat dioptimalkan untuk pelatihan berbagai bidang, mulai dari fesyen, membatik, hingga pembuatan mesin. Kami mengajak kementerian lain untuk bersama-sama menghidupkan kembali BLK di pesantren yang belum berjalan maksimal,” jelasnya.
Tujuan utama dari Santri Matic, menurut Basnang, adalah membangun ekosistem kewirausahaan digital. Dengan demikian, lulusan pesantren diharapkan tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi mampu menciptakan lapangan kerja baru bagi dirinya dan lingkungannya.
Di tengah penguasaan teknologi, Basnang mengingatkan pentingnya etika. Ia menekankan bahwa teknologi harus digunakan untuk kebaikan dan penyebaran manfaat, bukan kebencian. Dalam ekonomi digital, santri wajib menjunjung tinggi nilai kejujuran, amanah, tanggung jawab, profesionalitas, dan keadilan. Pesan ini menjadi penyeimbang penting: keterampilan digital tanpa etika hanya akan melahirkan pelaku ekonomi yang cakap secara teknis tetapi rapuh secara nilai.
Apa poin penting dari berita ini?
- Dirjen Pesantren Kemenag Basnang Said membuka program Santri Matic (Santri Melek Teknologi) di Ponpes Al-Muayyad, Solo, pada Sabtu (31/10).
- Program ini merupakan kolaborasi Kemenekraf/Bekraf, Kemenag, dan Masyarakat Ekonomi Syariah Surakarta dengan dukungan Shopee Indonesia, dan dihadiri Menekraf Teuku Riefky Harsya serta Wali Kota Surakarta Respati Achmad Ardianto.
- Tahap perdana diikuti 200 santri dari 22 pesantren di Solo Raya dengan materi pembuatan konten video, strategi berjualan di marketplace, dan menjadi afiliator digital.
- Basnang menekankan santri harus menjadi pengguna cerdas, kreator produktif, inovator kreatif, dan pelaku ekonomi digital yang berdaya saing, tanpa meninggalkan jati diri pesantren.
- Kemenag mencatat sekitar 4.000 pesantren memiliki BLK dan 800 SMK berbasis pesantren yang dapat dioptimalkan, dengan tujuan lulusan pesantren mampu menciptakan lapangan kerja baru dan menjunjung etika digital.


