Monday, 2 November 2026
Ekonomi

Bahlil Minta Pengusaha Nikel Tahan Produksi demi Jaga Harga yang Kini Sekitar 15 Ribu Dolar per Ton

Menteri Koordinator Bahlil Lahadalia saat memberikan sambutan dalam pembukaan Minerba Convex 2026 di Jakarta

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, meminta pengusaha nikel untuk menahan produksinya guna menjaga harga komoditas tambang tersebut di pasar internasional. Permintaan itu disampaikan dalam pembukaan Mineral and Batubara Convention and Exhibition (Minerba Convex) 2026 yang digelar di Jakarta, Senin, 2 November 2026.

Dalam sambutannya, Bahlil menyampaikan bahwa harga nikel saat ini berada di bawah 16 ribu dolar Amerika Serikat per ton, yakni berkisar di level 15 ribu dolar Amerika Serikat per ton. Menurut dia, rendahnya harga nikel di pasar internasional disebabkan oleh produksi Indonesia yang surplus.

Oleh karena itu, Bahlil yang juga menjabat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memerintahkan Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM, Tri Winarno, untuk mengendalikan suplai nikel dalam pemberian persetujuan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB).

Bahlil menegaskan bahwa strategi pengendalian suplai dan permintaan lewat RKAB untuk nikel harus dilakukan, dan ia menyatakan siap bertanggung jawab atas kebijakan tersebut. Menurut dia, langkah itu perlu diambil demi kebaikan bangsa dan negara, sehingga tidak perlu ada keraguan dalam pelaksanaannya.

Langkah pengendalian suplai tersebut dilakukan untuk menyesuaikan tingkat kebutuhan nikel dunia dengan produksi nikel yang dilakukan di Indonesia. Dengan kata lain, produksi dalam negeri diarahkan agar sejalan dengan permintaan global, sehingga harga tidak terus tertekan oleh kelebihan pasokan.

Bahlil juga mengingatkan bahwa nikel bukan merupakan sumber daya alam yang dapat diperbarui. Jika diambil, nikel akan habis dan tidak dapat tumbuh kembali, sehingga pengelolaannya harus dilakukan dengan bijaksana dan berorientasi jangka panjang.

Pernyataan Bahlil ini menjadi sorotan karena Indonesia merupakan salah satu produsen nikel terbesar di dunia, dan kebijakan pasokan dari Indonesia berpengaruh langsung terhadap harga global. Pengendalian lewat RKAB menjadi instrumen pemerintah untuk mengatur seberapa besar produksi yang diizinkan, sekaligus menjaga keberlanjutan cadangan tambang nasional.

Ke depan, pelaku industri nikel diharapkan menyesuaikan rencana produksinya dengan arahan pemerintah tersebut. Pemerintah menilai penahanan produksi sementara merupakan langkah yang lebih baik dibanding membiarkan harga terus jatuh akibat surplus, yang pada akhirnya juga merugikan pengusaha dan penerimaan negara.

Apa poin penting dari berita ini?

  • Bahlil Lahadalia meminta pengusaha nikel menahan produksi guna menjaga harga, yang saat ini berkisar 15 ribu dolar AS per ton, di bawah level 16 ribu dolar AS per ton.
  • Permintaan disampaikan dalam pembukaan Minerba Convex 2026 di Jakarta pada Senin, 2 November 2026, dengan alasan produksi Indonesia yang surplus menekan harga internasional.
  • Bahlil memerintahkan Dirjen Minerba Tri Winarno mengendalikan suplai nikel lewat persetujuan RKAB, dan menyatakan siap bertanggung jawab atas kebijakan itu.
  • Bahlil mengingatkan nikel bukan sumber daya yang dapat diperbarui, sehingga pengelolaannya harus bijaksana dan disesuaikan dengan kebutuhan dunia.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *