Jakarta — Tanggal 6 Oktober 2026, Francis Halzen menerima Hadiah Nobel Fisika untuk kontribusinya pada Observatorium IceCube Neutrino. Yang lebih menarik, sang penggagas menjadi penerima tunggal Nobel Fisika tersebut.
Terakhir kali Nobel Fisika diberikan pada penerima tunggal terjadi pada tahun 1992, saat Georges Charpak menerima penghargaan tersebut. Sebelumnya, pada tahun 1991, Pierre-Gilles de Gennes juga menjadi penerima tunggal.
Halzen adalah fisikawan yang memperoleh penghargaan Nobel Fisika untuk kontribusinya pada observatorium IceCube Neutrino dan neutrino berenergi tinggi yang datang dari sumber astrofisika. Singkatnya, ini adalah observatorium yang mendeteksi partikel neutrino berenergi tinggi yang datang dari kedalaman alam semesta, dari lokasi yang berada jauh di luar Tata Surya.
Sebuah observatorium yang berada dua kilometer di bawah permukaan es Antarktika, di Kutub Selatan. Di kedalaman tersebut ada ribuan mata yang menanti kilatan biru dari partikel paling pemalu di alam semesta. Partikel itu kita kenal dengan nama neutrino.
Pencapaian ini dimulai oleh fisikawan Francis Louis Halzen yang lahir pada 23 Maret 1944 di Tienen, kota kecil di Brabant Flandria, Belgia. Halzen yang dibesarkan di Belgia mendalami Fisika di Universitas Louvain, dan menyelesaikan pendidikan doktor di universitas tersebut dengan minat pada fisika partikel, khususnya teori hamburan partikel berenergi tinggi.
Ia kemudian bekerja di CERN, laboratorium fisika partikel Eropa, pada 1969 hingga 1971. Pada tahun 1970-an dan 1980-an, Halzen bekerja dengan data dari akselerator partikel yang mempercepat partikel untuk saling bertabrakan.
Sementara itu, pada saat yang sama, para astronom mendeteksi sinar kosmik berenergi ekstrem yang menghujani Bumi. Partikel-partikel alami ini memiliki energi jutaan kali lebih tinggi daripada partikel mana pun yang bisa dihasilkan oleh mesin Large Hadron Collider (LHC) milik CERN saat ini.
Hal ini membuat Halzen menyadari kalau akselerator partikel buatan manusia terbesar sekalipun memiliki batas kemampuan. Untuk memahami alam semesta, manusia harus bisa membangun akselerator berukuran sangat masif, bahkan mungkin sebesar ukuran Tata Surya, sesuatu yang mustahil secara finansial dan teknologi.
Sementara itu, alam semesta menyediakan akselerator alami yang jauh lebih kuat secara gratis, seperti blazar dan supernova. Pertanyaannya, bagaimana melihat ke jantung akselerator alami di alam semesta itu. Inilah yang kelak membawa Halzen ke kutub selatan, ke kedalaman es Antarktika.
Ketika para astronom meneliti benda-benda dan peristiwa di alam semesta, kurir pembawa informasi itu biasanya berupa cahaya. Tapi, cahaya bisa terhalang debu dan gas. Sementara itu, sinar kosmik yang merupakan proton dan inti atom berenergi tinggi bermuatan listrik, sehingga medan magnet galaksi membelokkan lintasannya saat bergerak melintasi angkasa. Akibatnya, saat partikel itu sampai ke Bumi, para astronom tidak bisa melacak asal-usulnya dengan tepat.
Satu-satunya cara untuk melihat langsung ke jantung akselerator kosmik adalah dengan mencari kurir lain di alam semesta. Neutrino menjadi jawabannya: partikel ini nyaris tidak berinteraksi dengan materi, sehingga bisa melintasi alam semesta tanpa terhalang dan menunjuk langsung ke sumbernya. Dari sinilah gagasan IceCube lahir, sebuah teleskop raksasa dari es yang menunggu kilatan biru neutrino di kedalaman Antarktika.
Apa poin penting dari berita ini?
- Francis Halzen menerima Nobel Fisika pada 6 Oktober 2026 sebagai penerima tunggal, pertama sejak Georges Charpak pada 1992.
- Penghargaan diberikan atas kontribusinya pada Observatorium IceCube Neutrino, dua kilometer di bawah es Antarktika.
- IceCube mendeteksi neutrino berenergi tinggi dari sumber astrofisika di luar Tata Surya, yang tidak bisa dilacak lewat cahaya atau sinar kosmik.
- Halzen lahir 23 Maret 1944 di Tienen, Belgia, belajar di Universitas Louvain, dan bekerja di CERN pada 1969 hingga 1971.


