Saturday, 31 October 2026
Ekonomi

Mesin Pengering Gabah Dua Ton Pangkas Waktu Pengeringan Petani Oransbari Jadi Belasan Jam

Sejumlah pejabat meninjau peralatan pengolahan beras di kawasan transmigrasi

Petani transmigran di Distrik Oransbari, Kawasan Transmigrasi Momiwaren, Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat, kini tidak lagi sepenuhnya bergantung pada terik matahari untuk mengeringkan gabah. Sebuah mesin pengering berkapasitas dua ton yang dikembangkan Tim Ekspedisi Patriot Institut Teknologi Sepuluh Nopember (TEP ITS) hadir sebagai jawaban atas persoalan lama yang selama ini membayangi masa panen di kawasan tersebut.

Selama ini, petani membutuhkan waktu tiga hingga tujuh hari untuk mengeringkan gabah dengan cara dijemur. Dengan mesin baru ini, proses yang sama bisa dipangkas menjadi belasan jam saja. Perbedaan waktu yang sangat besar itu bukan sekadar soal kecepatan, melainkan soal kepastian: petani tidak perlu lagi menunggu berhari-hari cuaca cerah, sementara gabah yang menumpuk justru berisiko menurun kualitasnya.

Masalah penjemuran manual juga menyentuh ruang publik. Praktik menjemur gabah di badan jalan, yang selama ini terpaksa dilakukan karena keterbatasan lahan jemur, ikut mengganggu kelancaran lalu lintas. Kehadiran mesin pengering membuat penanganan pascapanen bisa dilakukan di tempat yang semestinya, sehingga jalan kembali berfungsi sebagaimana mestinya dan hasil panen tetap tertangani dengan baik.

Agar mesin dapat beroperasi di kawasan yang pasokan listriknya masih terbatas, pengoperasiannya didukung Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Pilihan energi surya ini penting karena kawasan transmigrasi tidak selalu memiliki jaringan listrik yang stabil. Dengan dukungan PLTS, mesin pengering tetap bisa bekerja tanpa harus menunggu perbaikan atau penambahan jaringan listrik konvensional.

Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara, yang meninjau langsung karya Tim Ekspedisi Patriot pada Minggu (1/11/2026), menegaskan bahwa teknologi yang dibawa ke kawasan transmigrasi harus menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Menurutnya, transmigrasi pada hari ini bukan lagi sekadar memindahkan penduduk dari satu daerah ke daerah lain, melainkan membangun satu kawasan ekonomi yang mampu menopang kehidupan warganya.

Nilai tambah dari teknologi ini tidak berhenti pada pengeringan. Pengolahan pascapanen yang dilengkapi pemilahan beras membuka peluang bagi petani untuk menjual produk dengan kualitas dan harga yang lebih baik. Dengan kata lain, mesin pengering bukan hanya alat untuk mempercepat pekerjaan, tetapi juga pintu bagi petani untuk memperoleh penghasilan yang lebih layak dari hasil panen yang sama.

Kehadiran mesin pengering di Oransbari menjadi contoh bagaimana teknologi tepat guna dapat mengubah cara kerja petani transmigran. Ketika waktu pengeringan terpangkas, ketergantungan pada cuaca berkurang, dan kualitas produk meningkat, petani memiliki ruang lebih besar untuk merencanakan penjualan dan mengembangkan usahanya. Itulah makna pembangunan kawasan ekonomi yang ditekankan dalam kunjungan tersebut: teknologi yang benar-benar bekerja untuk kebutuhan warga.

Apa poin penting dari berita ini?

  • Petani transmigran di Distrik Oransbari, Manokwari Selatan, kini memiliki mesin pengering gabah berkapasitas dua ton dari Tim Ekspedisi Patriot ITS.
  • Mesin tersebut memangkas waktu pengeringan gabah dari tiga hingga tujuh hari menjadi belasan jam.
  • Pengoperasiannya didukung PLTS untuk mengatasi kendala pasokan listrik di kawasan transmigrasi.
  • Teknologi ini mengurangi ketergantungan pada cuaca dan penjemuran di jalan yang mengganggu lalu lintas.
  • Pengolahan pascapanen dengan pemilahan beras membuka peluang kualitas dan harga jual yang lebih baik bagi petani.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *