Lomba Kreasi Mangga yang menjadi bagian dari rangkaian Mango Carnival of Indonesia 2026 di Kota Probolinggo, Jawa Timur, tidak sekadar menjadi ajang unjuk kreativitas. Sebanyak 29 kelurahan di kota tersebut berpartisipasi mengolah buah mangga menjadi beragam produk kuliner, dan dari dapur-dapur warga itulah tumbuh harapan baru bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat.
Ketua Tim Penggerak PKK Kota Probolinggo Evariani Aminuddin menyampaikan apresiasi atas beragam inovasi yang dihadirkan peserta. Menurutnya, kreativitas masyarakat dalam mengolah mangga menjadi produk kuliner memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai produk unggulan Kota Probolinggo. Penilaian dalam lomba itu sendiri mencakup tampilan, cita rasa, kandungan bahan, hingga nilai jual produk, karena semua unsur tersebut menentukan apakah sebuah produk bisa diterima pasar atau hanya berhenti sebagai kreasi lomba.
Di balik kemeriahan lomba, ada persoalan ekonomi yang hendak dijawab. Mangga merupakan komoditas unggulan daerah yang selama ini lebih banyak dijual dalam bentuk buah segar. Padahal, ketika diolah menjadi kudapan basah dan minuman, nilai ekonominya bisa meningkat jauh lebih tinggi. Lomba ini dirancang untuk menggali potensi pengolahan mangga di setiap kelurahan, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui nilai tambah komoditas lokal.
Kabid Perikanan Budidaya sekaligus Plt. Kabid Ketahanan Pangan DKPPP Kota Probolinggo Hoirul Arifin menjelaskan bahwa peserta diberi keleluasaan berkreasi melalui kudapan basah dan minuman berbahan mangga. Kombinasi kedua jenis produk itu menjadi bagian yang diperhatikan juri, dengan harapan pelaku usaha dapat mengembangkan produk olahan yang benar-benar menjadi produk lokal kota tersebut, bukan sekadar meniru produk yang sudah beredar.
Tampilan produk dan kemasan menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya tarik konsumen. Cita rasa pun harus diperhatikan agar produk dapat diterima pasar. Perpaduan kualitas rasa, penyajian yang menarik, serta kemasan yang tepat diharapkan mampu meningkatkan daya saing produk olahan mangga di tengah persaingan kuliner yang semakin ketat.
Namun Evariani mengingatkan bahwa inovasi tidak boleh berhenti pada perlombaan. Produk yang potensial perlu mendapatkan pendampingan, mulai dari pengembangan usaha, pemasaran, hingga akses permodalan. Kolaborasi dengan pemilik kafe, restoran, dan pelaku usaha kuliner juga dapat menjadi jalan untuk memperluas pasar. Kendala yang kerap dihadapi masyarakat, seperti modal, tempat usaha, dan pemasaran, perlu dijawab dengan pendampingan yang berkelanjutan agar produk olahan mangga benar-benar bisa berkembang.
Melalui Mango Carnival of Indonesia 2026, Pemerintah Kota Probolinggo berupaya memperkuat posisi mangga sebagai identitas daerah. Pengembangan produk olahan diharapkan dapat memperpanjang masa pemasaran komoditas musiman tersebut, sekaligus membuka peluang lahirnya produk oleh-oleh khas yang dapat dipasarkan sepanjang tahun. Dengan begitu, mangga tidak hanya menjadi kebanggaan musiman, tetapi juga penopang ekonomi warga sepanjang tahun.
Apa poin penting dari berita ini?
- Sebanyak 29 kelurahan di Kota Probolinggo mengikuti Lomba Kreasi Mangga dalam rangkaian Mango Carnival of Indonesia 2026.
- Lomba ini bertujuan meningkatkan nilai tambah mangga sebagai komoditas unggulan daerah dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
- Penilaian mencakup tampilan, cita rasa, kandungan bahan, dan nilai jual produk olahan mangga.
- Ketua TP PKK Kota Probolinggo Evariani Aminuddin menilai kreasi olahan mangga berpeluang menjadi produk unggulan kota.
- Produk potensial perlu pendampingan usaha, pemasaran, dan akses permodalan agar tidak berhenti pada perlombaan.


