Saturday, 31 October 2026
Kesehatan

IDAI: Anak Terpapar Asap Karhutla Berisiko Stunting dan Gangguan Paru

Kabut asap pekat menyelimuti kota dengan jarak pandang yang terbatas

Ikatan Dokter Anak Indonesia, atau IDAI, mengingatkan dampak paparan asap kebakaran hutan dan lahan terhadap anak, termasuk gangguan pertumbuhan paru dan risiko stunting. Peringatan ini disampaikan pada Sabtu, 31 Oktober 2026, di tengah masih maraknya kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Indonesia yang menimbulkan kabut asap.

Anak-anak menjadi kelompok paling rentan terhadap asap kebakaran hutan dan lahan. Saluran napas mereka masih berkembang, frekuensi napas mereka lebih cepat dibandingkan orang dewasa, dan mereka lebih banyak menghabiskan waktu beraktivitas di luar rumah. Ketika asap pekat menyelimuti permukiman, partikel halus di dalam asap dapat masuk jauh ke dalam paru-paru anak dan memicu gangguan pernapasan, mulai dari batuk dan sesak napas hingga infeksi saluran napas yang berulang.

Dampak yang dikhawatirkan IDAI tidak berhenti pada gangguan pernapasan sesaat. Paparan asap yang berulang dan berkepanjangan dapat mengganggu pertumbuhan paru anak, sehingga kapasitas paru tidak berkembang optimal. Gangguan pertumbuhan ini berisiko terbawa hingga dewasa dan memengaruhi kualitas hidup jangka panjang. Selain itu, paparan asap juga dikaitkan dengan risiko stunting, yakni kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang yang menghambat pertumbuhan.

Kaitan antara asap dan stunting dapat dipahami melalui rantai yang saling menguatkan. Anak yang sering sakit akibat paparan asap cenderung kehilangan nafsu makan dan menyerap nutrisi dengan kurang optimal, sementara tubuhnya harus mengeluarkan energi lebih besar untuk melawan infeksi. Bila kondisi ini berlangsung lama dan berulang, pertumbuhan anak dapat tertinggal dari standar usianya. Stunting sendiri bukan sekadar soal tinggi badan, melainkan juga berkaitan dengan perkembangan otak dan kemampuan belajar anak di masa depan.

Karena itu, perlindungan anak saat kabut asap menjadi prioritas yang tidak boleh ditawar. Orang tua diimbau membatasi aktivitas anak di luar rumah saat kualitas udara memburuk, memastikan anak memakai masker yang sesuai bila harus keluar, dan menjaga udara di dalam rumah tetap bersih dengan menutup celah dan mengurangi sumber polusi tambahan. Sekolah dan tempat penitipan anak pun perlu menyesuaikan kegiatan, misalnya memindahkan aktivitas ke dalam ruangan dan menunda kegiatan luar saat asap pekat.

Di sisi lain, peringatan IDAI ini juga menunjuk akar persoalan yang lebih besar: kebakaran hutan dan lahan harus dicegah dan dipadamkan secepat mungkin, bukan hanya karena merusak hutan, tetapi juga karena asapnya mengancam kesehatan generasi muda. Penegakan hukum terhadap pembakar lahan, pemadaman yang cepat, dan pemulihan lahan yang terbakar menjadi bagian dari perlindungan kesehatan anak dalam jangka panjang.

Bagi keluarga yang anaknya mengalami batuk berkepanjangan, sesak napas, atau gangguan pertumbuhan setelah terpapar asap, pemeriksaan ke fasilitas kesehatan menjadi langkah penting. Deteksi dini memungkinkan dokter memberikan penanganan yang tepat sebelum gangguan berkembang lebih jauh, dan menjadi catatan penting bagi pemantauan tumbuh kembang anak pada masa berikutnya.

Apa poin penting dari berita ini?

  • IDAI mengingatkan dampak paparan asap karhutla pada anak, termasuk gangguan pertumbuhan paru dan risiko stunting.
  • Anak paling rentan karena saluran napasnya masih berkembang dan lebih banyak beraktivitas di luar rumah.
  • Infeksi berulang akibat asap dapat menghambat penyerapan nutrisi dan pertumbuhan anak.
  • Perlindungan anak saat kabut asap meliputi pembatasan aktivitas luar, masker yang sesuai, dan udara dalam rumah yang bersih.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *