Sutradara Rumania-Belgia Teodora Ana Mihai akhirnya memulai peluncuran internasional film terbarunya, Heysel 85, lewat Festival Film Internasional Tokyo. Film tersebut menjalani tayang perdana Asia di Tokyo pada pekan ini, setelah debutnya yang mencuri perhatian di Festival Film Berlin hampir delapan bulan lalu. Kehadiran Mihai di Tokyo menandai babak baru bagi film yang sejak awal sudah diperbincangkan kalangan festival.
Heysel 85 disutradarai Mihai dari sebuah naskah yang mengangkat peristiwa nyata di balik tragedi stadion Heysel pada 1985. Peristiwa tersebut merupakan salah satu tragedi paling kelam dalam sejarah sepak bola Eropa, ketika kerusuhan penonton sebelum final Piala Champions di Brussels menewaskan puluhan suporter. Dengan mengangkat kisah ini, Mihai tidak sekadar membuat film olahraga, melainkan menggali ingatan kolektif tentang tragedi yang masih membekas hingga kini.
Sebagai film panjang terobosan Mihai, Heysel 85 menjadi tolok ukur penting dalam kariernya. Debut di Berlin yang ramai dibicarakan memberi modal awal yang kuat, tetapi perjalanan festival sebuah film tidak berhenti di satu kota. Tayang perdana Asia di Tokyo membuka peluang film ini menjangkau penonton dan distributor baru di kawasan yang memiliki budaya sinema dan sepak bola yang sama-sama kuat.
Tokyo sendiri menjadi panggung yang strategis bagi film-film Eropa yang ingin memperluas jangkauannya. Festival ini mempertemukan sineas, kritikus, dan pelaku industri dari Asia dan seluruh dunia, sehingga sebuah film bisa mendapatkan sorotan yang berbeda dibandingkan saat tayang di Eropa. Bagi Mihai, kehadiran langsung di Tokyo juga menjadi kesempatan untuk berdialog dengan penonton Asia tentang tema tragedi, ingatan, dan tanggung jawab kolektif.
Di sela peluncuran Heysel 85, Mihai juga sudah menyiapkan rencana untuk film berikutnya. Sikap ini menunjukkan bahwa bagi seorang sineas festival, satu film bukanlah titik akhir, melainkan bagian dari perjalanan panjang berkarya. Setiap film membuka pintu baru, baik dalam bentuk jejaring, kepercayaan produser, maupun keberanian untuk mengangkat tema yang lebih menantang.
Perjalanan Heysel 85 dari Berlin menuju Tokyo pun menggambarkan denyut kehidupan film festival masa kini, di mana sebuah karya terus bergerak dari satu kota ke kota lain untuk menemukan penontonnya. Bagi penonton Indonesia yang mengikuti perfilman dunia, kisah Mihai menjadi pengingat bahwa di balik setiap film festival ada kerja panjang, dari riset peristiwa nyata hingga perjuangan membawa kisah tersebut ke layar di berbagai belahan dunia.
Apa poin penting dari berita ini?
- Sutradara Rumania-Belgia Teodora Ana Mihai memulai peluncuran internasional Heysel 85 lewat Festival Film Internasional Tokyo.
- Film ini menjalani tayang perdana Asia di Tokyo, setelah debutnya yang mencuri perhatian di Festival Film Berlin hampir delapan bulan lalu.
- Heysel 85 mengangkat peristiwa nyata tragedi stadion Heysel 1985, salah satu tragedi paling kelam dalam sejarah sepak bola Eropa.
- Sebagai film panjang terobosan Mihai, Heysel 85 menjadi tolok ukur penting dalam kariernya.
- Di sela peluncuran, Mihai sudah menyiapkan rencana untuk film berikutnya.


