Monday, 2 November 2026
Hollywood

Fuxi: Four Tales of Feasting, Film Kompetisi Tokyo yang Lahir dari Kerinduan Berkumpul di Masa Pandemi

Para kru film Fuxi Four Tales of Feasting dalam sebuah adegan perjamuan

Kerinduan untuk berkumpul di masa pandemi menjadi benih lahirnya film Fuxi: Four Tales of Feasting karya sineas Tiongkok Qiu Jiongjiong. Film tersebut kini berkompetisi di Festival Film Internasional Tokyo 2026, membawa kisah tentang makan bersama sebagai ritual kehidupan yang sempat hilang ketika dunia dipaksa berhenti. Bagi Qiu, yang juga dikenal sebagai pelukis, film ini berangkat dari pengalaman personal yang dirasakan banyak orang di seluruh dunia.

Qiu mulai membentuk film ini ketika pandemi membuat kehidupan sehari-hari mendadak terhenti. Orang-orang tidak bisa lagi duduk bersama di satu meja, berbagi hidangan, dan bercengkerama seperti biasa. Dari kegelisahan itulah muncul keinginan mendesak untuk kembali ke kehidupan normal dan berkumpul di sekeliling meja makan. Gagasan sederhana itu kemudian berkembang menjadi empat kisah tentang perjamuan yang merangkai mitos, sejarah, dan kehidupan sehari-hari.

Sebagai film kompetisi di Tokyo, Fuxi menempatkan Qiu di antara sineas internasional yang karyanya dinilai memiliki suara khas. Festival Film Internasional Tokyo sendiri merupakan salah satu festival film tertua dan paling bergengsi di Asia, yang setiap tahunnya menjadi etalase bagi film-film dari berbagai belahan dunia. Kehadiran Fuxi di program kompetisi menandakan bahwa kisah yang berangkat dari pengalaman lokal Tiongkok ini memiliki gema yang universal.

Judul film ini merujuk pada Fuxi, tokoh mitologis Tiongkok yang dalam legenda dikenal sebagai pembawa peradaban. Dengan memilih judul tersebut, Qiu mengajak penonton melihat makan bersama bukan sekadar aktivitas mengisi perut, melainkan warisan budaya yang menghubungkan manusia dengan leluhur dan sesamanya. Setiap hidangan dalam film menjadi medium untuk bercerita tentang keluarga, komunitas, dan sejarah.

Latar belakang Qiu sebagai pelukis turut memengaruhi bahasa visual film ini. Komposisi gambar, warna, dan perhatian terhadap detail menjadi bagian penting dari cara film bercerita. Penonton tidak hanya diajak mengikuti alur, tetapi juga merasakan suasana perjamuan lewat gambar yang kaya dan penuh tekstur, seolah-olah mereka ikut duduk di meja yang sama dengan para tokohnya.

Di tengah dunia yang kembali bergerak cepat setelah pandemi, Fuxi hadir sebagai pengingat tentang hal-hal kecil yang pernah dirindukan, yaitu berkumpul, berbagi makanan, dan saling hadir secara utuh. Lewat kompetisi di Tokyo, film ini mengajak penonton dari berbagai negara untuk kembali menghargai ritual sederhana tersebut, yang ternyata menyimpan makna jauh lebih besar dari sekadar makan bersama.

Apa poin penting dari berita ini?

  • Film Fuxi: Four Tales of Feasting karya Qiu Jiongjiong berkompetisi di Festival Film Internasional Tokyo 2026.
  • Film ini lahir dari kerinduan berkumpul di masa pandemi, ketika orang tidak bisa lagi duduk bersama di satu meja makan.
  • Qiu, yang juga pelukis, mengembangkan gagasan itu menjadi empat kisah tentang perjamuan yang merangkai mitos, sejarah, dan kehidupan sehari-hari.
  • Judul Fuxi merujuk pada tokoh mitologis Tiongkok pembawa peradaban, sehingga makan bersama dimaknai sebagai warisan budaya.
  • Latar belakang Qiu sebagai pelukis memengaruhi bahasa visual film yang kaya komposisi dan detail.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *