Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) bersama PT Pema Global Energi (PGE) resmi memulai pengeboran sumur eksplorasi Rayeu D-1 di Kabupaten Aceh Utara. Tajak sumur atau spud in sumur tersebut dilaksanakan pada Sabtu (31/10/2026), menandai dimulainya upaya pembuktian potensi hidrokarbon baru di Wilayah Kerja (WK) B, Provinsi Aceh.
Sumur Rayeu D-1 berlokasi di Desa Alue Serdang, Kecamatan Baktiya, Kabupaten Aceh Utara. Pengeboran ini menjadi salah satu langkah untuk mengonfirmasi hasil survei seismik tiga dimensi yang telah dilaksanakan sebelumnya, sekaligus membuktikan potensi hidrokarbon pada prospek Rayeu D.
Pengeboran dilakukan secara berarah atau directional drilling menggunakan rig BMA-16 berkapasitas 1.500 HP yang dioperasikan oleh PT Bina Mitra Artha (BMA). Sumur ini ditargetkan mencapai kedalaman akhir 6.953 kaki terukur berarah atau 6.894 kaki kedalaman vertikal sebenarnya.
Target utama dan sekunder pengeboran berada pada reservoir batupasir Formasi Lower Seurula, khususnya lapisan LS-1 dan LS-2. Dari pengeboran ini, PGE menargetkan potensi produksi awal sebesar 300 barel kondensat per hari dan gas sebesar 11,4 juta standar kaki kubik per hari. Pengembangan struktur Lower Seurula diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap keberlanjutan produksi hidrokarbon di Blok B.
Kepala BPMA, Mawardi Nur, menyampaikan bahwa dimulainya pengeboran sumur eksplorasi Rayeu D-1 merupakan langkah penting dalam mendorong kegiatan eksplorasi dan pengembangan potensi migas di Aceh. Menurutnya, pengeboran ini merupakan bagian dari upaya untuk terus membuka peluang penemuan cadangan migas baru di Aceh.
“Pengeboran Rayeu D-1 merupakan bagian dari upaya kita untuk terus membuka peluang penemuan cadangan migas baru di Aceh. Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan hasil yang positif sehingga mampu menambah potensi cadangan minyak dan gas bumi, sekaligus memperkuat keberlanjutan operasi hulu migas di Wilayah Kerja Blok B,” ujar Mawardi.
Mawardi juga menekankan pentingnya sinergi antara BPMA, PGE, dan seluruh pihak yang terlibat agar kegiatan pengeboran dapat berjalan sesuai target dengan tetap mengutamakan aspek keselamatan dan perlindungan lingkungan. Ia mengingatkan bahwa setiap kegiatan eksplorasi memiliki tantangan dan risiko tersendiri, sehingga standar keselamatan kerja harus diterapkan secara konsisten, operasi berjalan efektif, dan setiap tahapan dilaksanakan sesuai ketentuan yang berlaku.
“Keberhasilan pengeboran ini tidak hanya diukur dari pencapaian target teknis, tetapi juga dari pelaksanaan operasi yang aman dan bertanggung jawab,” tambahnya.
Berdasarkan Authorization for Expenditure (AFE) yang telah disetujui sebesar 17,5 juta dolar Amerika Serikat, kegiatan pengeboran Rayeu D-1 diperkirakan membutuhkan waktu 50 hari operasi rig dengan total durasi kegiatan sampai dengan penyelesaian sumur mencapai 74 hari. Jangka waktu tersebut mencakup seluruh tahapan pekerjaan, mulai dari pengeboran, komplesi, pembersihan sumur, hingga pengujian sumur.
Seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan dengan mengacu pada pedoman manajemen keselamatan dan standar operasional yang berlaku. Penerapan prinsip keselamatan, efektivitas biaya, serta pengelolaan risiko menjadi perhatian utama dalam memastikan kegiatan pengeboran berjalan dengan baik.
BPMA akan terus menjalankan fungsi pengawasan dan pengendalian terhadap kegiatan usaha hulu migas di Aceh, termasuk memastikan pelaksanaan program kerja dan komitmen investasi kontraktor kontrak kerja sama berjalan sesuai ketentuan dan kontrak kerja yang telah ditetapkan.
Dimulainya pengeboran Rayeu D-1 diharapkan menjadi momentum penting dalam mendorong kegiatan eksplorasi di Aceh. Keberhasilan pengeboran ini nantinya diharapkan tidak hanya menambah potensi cadangan dan produksi migas, tetapi juga memberikan kontribusi bagi penerimaan daerah, perekonomian masyarakat, serta mendukung ketahanan energi nasional.
Apa poin penting dari berita ini?
- BPMA bersama PT Pema Global Energi resmi memulai pengeboran sumur eksplorasi Rayeu D-1 pada Sabtu (31/10/2026).
- Sumur Rayeu D-1 berlokasi di Desa Alue Serdang, Kecamatan Baktiya, Kabupaten Aceh Utara, di Wilayah Kerja B.
- Pengeboran berarah menggunakan rig BMA-16 berkapasitas 1.500 HP menargetkan kedalaman akhir 6.953 kaki terukur berarah.
- Target pengeboran adalah reservoir batupasir Formasi Lower Seurula, lapisan LS-1 dan LS-2, untuk mengonfirmasi survei seismik 3D.
- PGE menargetkan potensi produksi awal 300 barel kondensat per hari dan gas 11,4 juta standar kaki kubik per hari.
- Anggaran pengeboran yang disetujui sebesar 17,5 juta dolar AS, dengan 50 hari operasi rig dan total 74 hari sampai penyelesaian sumur.
- Kepala BPMA Mawardi Nur menekankan keselamatan kerja, efektivitas operasi, dan pelaksanaan yang aman serta bertanggung jawab.

