Film horor misteri Indonesia Bisikan Desa Gringsing masih tercatat dalam jadwal sejumlah bioskop pada awal November 2026. Film ini tayang di bioskop Indonesia mulai 24 September 2026, dengan durasi sekitar 108 menit dan klasifikasi penonton dewasa 17 tahun ke atas.
Cerita film ini mengikuti Hesti, yang diperankan Aghniny Haque. Hesti datang ke Desa Gringsing untuk mencari ayahnya yang hilang. Pencarian itu tidak berjalan seperti yang ia bayangkan, karena desa tersebut ternyata dikurung oleh teror arwah Fatimah, yang diperankan Fatmah Nahdi. Arwah itu digambarkan mengurung seluruh warga dan membunuh siapa pun yang mencoba keluar dari desa.
Semakin jauh Hesti menelusuri jejak ayahnya, semakin banyak rahasia yang tersingkap. Setiap tokoh yang ia temui menyimpan potongan cerita, dan jawaban yang ia temukan justru menuntunnya makin dalam ke misteri desa tersebut. Lapisan misteri itu juga berkaitan dengan trauma masa lalu Hesti sendiri, sehingga pencariannya bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan emosional.
Film ini ditulis dan disutradarai Ivander Tedjasukmana. Jajaran pemainnya antara lain Aghniny Haque, Fatmah Nahdi, Surya Saputra, Kiki Narendra, Hesti Putri, Khiva Iskak, Nina Tamam, dan Iyang Darmawan. Produser Mandela Pictures, Manoj Samtani, menggambarkan film ini sebagai pengalaman sinematik di mana penonton diajak mencari jawaban bersama Hesti, lalu terus membicarakannya setelah keluar dari bioskop.
Sisi produksi film ini menjadi pembeda. Bisikan Desa Gringsing disebut sebagai film panjang horor Indonesia pertama yang memanfaatkan teknologi virtual production dalam proses produksinya. Sejumlah adegan dikerjakan di panggung LED volumetrik, sehingga lingkungan digital yang fotorealistik dapat ditampilkan secara langsung di hadapan para pemain. Adegan lain dibangun di set nyata, lalu keduanya dipadukan untuk menciptakan dunia Desa Gringsing, mulai dari jalanan berkabut, bangunan yang mengancam, hingga rangkaian peristiwa supernatural.
Penggabungan dua pendekatan itu bukan tanpa tantangan. Pengambilan gambar di studio virtual production dilakukan lebih dahulu, kemudian berlanjut di set nyata. Detail ruang, tata cahaya, komposisi, hingga pergerakan pemain dirancang presisi agar lingkungan digital dan fisik tetap terasa berada dalam satu semesta yang sama. Bagi Aghniny Haque, tantangan itu terasa langsung, karena ia harus menjaga keyakinan bahwa semua yang dialami Hesti benar-benar terjadi di satu dunia yang sama, meski teknik syutingnya berbeda.
Produksi film ini merupakan kolaborasi internasional antara Indonesia, Singapura, dan Malaysia. Prosesnya memanfaatkan studio virtual production milik Oceanus Media Global di Iskandar Malaysia Studios, Johor, Malaysia. Sebelum tayang serentak, film ini juga diperkenalkan lewat penayangan khusus pada 12 sampai 13 September 2026 di sejumlah bioskop, serta kunjungan ke sejumlah sekolah kejuruan dan universitas lewat diskusi film.
Film ini sebelumnya debut di Cannes Film Market 2026. Setelah penayangan di Indonesia, film ini juga dijadwalkan hadir di Malaysia, Singapura, Turki, serta Azerbaijan. Lagu Perjalanan Menawar Racun karya Kunto Aji turut dihadirkan untuk melengkapi pengalaman menonton film ini.
Dengan perpaduan cerita pencarian, teror desa terkutuk, dan teknologi produksi yang tidak biasa untuk horor Indonesia, Bisikan Desa Gringsing menawarkan horor yang bertumpu pada misteri yang terungkap lapis demi lapis, bukan sekadar kejutan sesaat.
Apa poin penting dari berita ini?
- Bisikan Desa Gringsing adalah film horor misteri Indonesia yang tayang di bioskop mulai 24 September 2026, berdurasi sekitar 108 menit, dan diklasifikasikan untuk penonton usia 17 tahun ke atas.
- Cerita berpusat pada Hesti, yang diperankan Aghniny Haque, yang datang ke Desa Gringsing untuk mencari ayahnya yang hilang.
- Pencarian Hesti berujung pada teror arwah Fatimah, yang diperankan Fatmah Nahdi, yang mengurung warga dan membunuh siapa pun yang mencoba keluar dari desa.
- Film ditulis dan disutradarai Ivander Tedjasukmana, dan disebut sebagai film panjang horor Indonesia pertama yang memakai teknologi virtual production.
- Produksi film ini merupakan kolaborasi Indonesia, Singapura, dan Malaysia, dengan studio virtual production di Iskandar Malaysia Studios, Johor.


