Sutradara Angga Dwimas Sasongko menyoroti pertumbuhan minim jumlah penonton film Indonesia di tengah peningkatan jumlah produksi film lokal yang cukup pesat dalam setahun terakhir. Melalui unggahan di media sosial pada Minggu, 1 November 2026, Angga menjabarkan ketimpangan antara pertumbuhan jumlah film dan jumlah penonton yang menurutnya perlu dijawab oleh para pemangku kepentingan industri film.
Berdasarkan data penghitungan yang ia paparkan, jumlah penonton film Indonesia pada 2025 hanya tumbuh 0,07 persen dibanding tahun sebelumnya. Pada 2024, jumlah penonton tercatat sebanyak 80,21 juta orang, sementara pada 2025 mencapai 80,27 juta orang. “2025: rekor penonton, tapi pertumbuhannya nol,” tulis Angga dalam salah satu materi unggahannya.
Di sisi lain, jumlah film Indonesia yang tayang di bioskop meningkat 39 persen, dari 145 judul pada 2024 menjadi 201 judul pada 2025. Peningkatan jumlah film itu tidak diikuti pertumbuhan rata-rata penonton per judul. Pada 2024, rata-rata penonton film Indonesia mencapai 553 ribu orang per judul, lalu turun menjadi 399 ribu penonton pada 2025.
Angga juga menyoroti ketergantungan jumlah penonton terhadap sejumlah film hit. Menurut data yang ia paparkan, sekitar 25 persen penonton film Indonesia pada 2025 berasal dari dua judul, yakni “Jumbo” dan “Agak Laen 2”. Tanpa kedua film tersebut, rata-rata penonton dari 199 judul film Indonesia lainnya diperkirakan hanya sekitar 300 ribu orang.
Ia menilai industri film Indonesia perlu menjawab sejumlah tantangan strategis untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan penonton dan produksi film. “Ada 3 pilar strategis saat ini yang harus dijawab stakeholder film Indonesia, di luar faktor eksternal lainnya. Akuisisi penonton baru seberapa banyak? Penambahan dan penyebaran layar seagresif apa? Kurasi film yang masuk bioskop seselektif apa?” tulis Angga.
Situasi tersebut, menurut proyeksi Angga, berpotensi semakin memburuk pada 2026. Ia mencatat jumlah penonton bioskop pada semester pertama tahun ini turun 16,7 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Hingga 23 Oktober 2026, jumlah penonton bioskop diperkirakan mencapai 47,8 juta orang, dan Angga memproyeksikan jumlah penonton dapat berakhir di kisaran 59 juta orang apabila tren saat ini berlanjut, atau turun sekitar 27 persen dibandingkan 2025.
Dalam skenario penurunan sebesar 12 persen, jumlah penonton pada akhir 2026 diproyeksikan mencapai 70,6 juta orang. Untuk mencapai angka tersebut, industri bioskop masih membutuhkan tambahan 22,8 juta penonton dalam 69 hari tersisa, dengan laju penonton harian dua kali lipat dibandingkan rata-rata periode Januari hingga Oktober.
Jumlah penonton film Indonesia yang dipaparkan Angga selaras dengan data yang disampaikan Kementerian Kebudayaan pada Jumat, 23 Oktober 2026, sebanyak 47.813.476 orang tercatat menyaksikan film Indonesia di bioskop. Meski tidak diketahui secara resmi jumlah film Indonesia yang tayang di bioskop, setidaknya sudah ada 139 judul film Indonesia yang tayang hingga 23 Oktober 2026, sehingga rata-rata satu film Indonesia ditonton sekitar 343.982 orang. Angka itu masih jauh dari capaian penonton film Indonesia 2025 yang menyentuh 80,27 juta penonton, saat diumumkan oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon pada Januari 2026.
Angga kemudian memaparkan proyeksi kondisi industri film Indonesia hingga 2031 dengan sejumlah asumsi, termasuk pertumbuhan jumlah film sebesar 15 persen per tahun, peningkatan biaya produksi 5 hingga 10 persen per tahun, serta penurunan jumlah penonton 12 persen pada tahap awal, lalu 7 persen per tahun. Dalam skenario tersebut, jumlah film Indonesia yang tayang diperkirakan meningkat dari 201 judul pada 2025 menjadi 465 judul pada 2031, sementara jumlah penonton diproyeksikan turun menjadi 61 persen dari tingkat 2025.
Angga juga memperkirakan rata-rata penonton per film akan semakin jauh dari titik impas. Jika pada 2026 rata-rata penonton ideal untuk mencapai titik impas diperkirakan sebanyak 415 ribu orang, maka angka tersebut meningkat menjadi 596 ribu orang pada 2031. Sebaliknya, rata-rata penonton aktual dalam skenario tersebut diproyeksikan menyusut dari 306 ribu orang pada 2026 menjadi 106 ribu orang pada 2031. Peluang film Indonesia untuk menembus satu juta penonton pun diperkirakan semakin tipis, dari 14,5 persen pada 2024 menjadi 2,7 persen pada 2031.
Untuk menjaga keberlanjutan industri, Angga mengusulkan sejumlah gagasan, salah satunya mendorong pertumbuhan penonton sebesar 23,6 persen per tahun apabila jumlah film terus bertambah 15 persen per tahun dan biaya produksi meningkat 7,5 persen per tahun. Alternatif lainnya adalah menyesuaikan jumlah produksi film dengan kondisi pasar: dalam proyeksinya, hanya sekitar 82 judul film yang berpotensi mencapai titik impas pada 2031 apabila jumlah penonton terus menyusut 7 persen per tahun. “We are dancing on the fire. The-winner-will-take-it-all playbook will be happening, kalau kita tidak berbenah,” tulisnya.
Apa poin penting dari berita ini?
Ringkasan singkat dari isi artikel di atas:
- Jumlah penonton film Indonesia pada 2025 hanya tumbuh 0,07 persen, dari 80,21 juta orang pada 2024 menjadi 80,27 juta orang, meski jumlah film yang tayang melonjak 39 persen dari 145 menjadi 201 judul.
- Rata-rata penonton per judul turun dari 553 ribu orang pada 2024 menjadi 399 ribu orang pada 2025, dan sekitar 25 persen penonton 2025 berasal dari dua film, “Jumbo” dan “Agak Laen 2”.
- Angga menilai tiga pilar strategis harus dijawab pemangku kepentingan: akuisisi penonton baru, penambahan dan penyebaran layar, serta kurasi film yang masuk bioskop.
- Proyeksi Angga untuk 2026 memperkirakan penonton berakhir di kisaran 59 juta orang bila tren berlanjut, atau 70,6 juta orang dalam skenario penurunan 12 persen.
- Dalam model hingga 2031, jumlah film bisa mencapai 465 judul sementara rata-rata penonton aktual menyusut ke 106 ribu orang, sehingga hanya sekitar 82 judul yang berpotensi mencapai titik impas bila produksi tidak disesuaikan.

