Sebuah bintang yang tampak biasa saja bisa saja menyimpan masa lalu yang tidak biasa. Studi baru dari Institute of Science and Technology Austria menunjukkan bahwa bintang yang pernah mencuri massa dari bintang pendampingnya, atau bahkan bergabung dengan bintang lain, akan jauh lebih peka terhadap medan magnet di dalamnya. Akibatnya, perkiraan kekuatan medan magnet bintang semacam itu bisa meleset jika para astronom menganggap bintang itu berevolusi sendirian sejak lahir.
Penelitian ini dikerjakan kelompok asisten profesor Lisa Bugnet di Institute of Science and Technology Austria, bersama Universitas La Laguna di Tenerife dan Universitas Paris Cite, dan dipublikasikan di jurnal Astronomy and Astrophysics pada 2026. Fokusnya adalah bintang-bintang raksasa merah, yaitu bintang-bintang seukuran Matahari yang sudah memasuki fase akhir hidupnya, serta pola getaran khusus yang disebut mode campuran dipol.
Medan magnet ada di banyak bintang, termasuk Matahari, tetapi para ilmuwan masih belum cukup memahaminya untuk memasukkannya secara andal ke dalam model evolusi bintang. Kekuatan medan itu, letaknya, dan bentuknya sering kali tidak jelas, sehingga model yang mengabaikan atau menyederhanakan medan magnet menjadi kurang akurat. Padahal, model evolusi bintang yang akurat dibutuhkan untuk menentukan usia bintang dengan tepat.
Para astronom tidak bisa mengintip langsung ke dalam bintang karena bintang terlalu jauh dan terlalu pekat. Sebagai gantinya, mereka mengukur perubahan kecerahan yang sangat kecil dan teratur, yang disebabkan oleh getaran atau osilasi bintang. Setiap bintang memiliki pola getarannya sendiri, tergantung pada struktur bagian dalamnya. Cabang ilmu yang mempelajari hal ini disebut asteroseismologi, yang bekerja mirip seperti seismologi di Bumi: gelombang seismik mengungkap isi Bumi, sedangkan getaran bintang mengungkap isi bintang.
Pada sebagian raksasa merah, mode campuran dipol yang menyelidiki wilayah dekat inti bintang hampir tidak terlihat. Para peneliti menyebut kondisi ini sebagai penekanan mode dipol. Penelitian-penelitian terbaru menduga medan magnet yang kuat di dekat inti bintang menjadi penyebabnya, karena medan itu membuat mode getaran tertentu menghilang dari spektrum pengamatan.
Masalahnya, menurut model yang ada, medan magnet yang dibutuhkan untuk menjelaskan penekanan itu pada sebagian bintang harus luar biasa kuat, dan belum jelas bagaimana medan sebesar itu bisa terbentuk. Di sinilah hipotesis baru itu masuk. Seorang raksasa merah mungkin pernah mencuri massa dari bintang pendamping selama evolusinya, atau bergabung dengan bintang lain. Peristiwa semacam itu akan mengubah hubungan antara inti dan selubung bintang, sehingga bintang menjadi jauh lebih rentan terhadap pengaruh medan magnet dibandingkan bintang bermassa sama yang berevolusi secara normal.
Untuk menguji hipotesis tersebut, mahasiswa doktoral Nicolas Muntean dari kelompok Bugnet mensimulasikan model bintang dengan dan tanpa peristiwa penambahan massa, menggunakan kode evolusi bintang sumber terbuka yang disebut MESA. Ia kemudian membandingkan seberapa peka masing-masing model terhadap medan magnet. Hasilnya menunjukkan perbedaan besar: bintang-bintang yang pernah mendapat tambahan massa jauh lebih peka terhadap medan magnet.
Dengan bukti teoretis itu, Muntean mencari kandidat di alam semesta yang sudah dikenal dalam literatur ilmiah. Ia menemukan raksasa-raksasa merah yang sudah menunjukkan bukti medan magnet kuat, dan bintang-bintang itu dapat dijelaskan dengan model baru yang mengasumsikan peristiwa pencurian massa atau penggabungan bintang di masa lalu. Dengan kata lain, sinyal getaran yang sama bisa dijelaskan oleh medan magnet yang jauh lebih lemah, asalkan bintang itu diasumsikan pernah mencuri massa.
Bugnet menekankan bahwa penafsiran lama bisa bias karena mengasumsikan bintang berevolusi sendirian. Jika sebaliknya diasumsikan bintang itu pernah mendapat tambahan massa, getaran yang teramati menjadi lebih peka terhadap medan magnet, dan skenario alternatif pun terbuka untuk menjelaskan sinyal yang sama. Temuan ini menjadi langkah menuju model evolusi bintang yang lebih realistis, karena medan magnet selama ini hanya dimasukkan secara sangat sederhana ke dalam model.
Implikasinya cukup luas. Banyak bintang yang medan magnetnya teramati, terutama raksasa merah yang lebih besar, mungkin ternyata merupakan hasil penggabungan dengan bintang lain. Karena itu, untuk menentukan medan magnet di dalam bintang secara andal, para peneliti perlu memperhitungkan pula riwayat hidup bintang itu, bukan hanya massa dan usianya saat ini.
Apa poin penting dari berita ini?
- Studi Institute of Science and Technology Austria di jurnal Astronomy and Astrophysics menunjukkan bintang yang pernah mencuri massa dari pendampingnya jauh lebih peka terhadap medan magnet.
- Para astronom membaca isi bintang lewat asteroseismologi, yaitu pola getaran kecerahan yang mengungkap struktur bagian dalam bintang.
- Pada sebagian raksasa merah, mode campuran dipol yang menyelidiki wilayah dekat inti hampir tidak terlihat, yang diduga disebabkan medan magnet kuat di dekat inti.
- Simulasi dengan kode MESA menunjukkan bintang yang pernah mendapat tambahan massa dapat dijelaskan dengan medan magnet yang jauh lebih lemah daripada perkiraan model lama.
- Raksasa merah yang sudah menunjukkan bukti medan magnet kuat dapat dijelaskan dengan model baru yang mengasumsikan peristiwa penggabungan atau pencurian massa di masa lalu.


