Banjir susulan merendam 18 gampong di lima kecamatan Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, pada Minggu (1/11/2026) dini hari. Banjir dipicu hujan berintensitas tinggi yang mengguyur wilayah itu pada Sabtu (31/10/2026), dan datang belum genap setahun setelah banjir besar yang melanda daerah yang sama pada November 2025.
Air setinggi di atas lutut orang dewasa masuk ke rumah-rumah warga. Genangan itu kembali membangkitkan kecemasan masyarakat yang belum sepenuhnya bangkit dari dampak bencana besar tahun lalu, ketika banyak rumah dan lingkungan permukiman juga terendam air.
Di Kecamatan Meurah Dua, enam gampong terdampak, yakni Geunteng, Blang Cut, Dayah Usen, Meunasah Mancang, Pante Beurene, dan Dayah Kruet. Di Kecamatan Meureudu, enam gampong terendam, meliputi Berawang (SP3), Meunasah Lhok (Pulo), Manyang Cut, Mesjid (Tuha Lhoknga), Grong-Grong Beuracan, serta Dayah Upanek (Tutu Sirong).
Di Kecamatan Bandar Dua, banjir melanda Gampong Juelanga. Di Kecamatan Bandar Baru, tiga gampong terdampak, yakni Blang Sukon, Sagoe Langien, dan Blang Glong. Adapun di Kecamatan Panteraja, banjir merendam Gampong Lhok Puuk dan Muka Blang.
Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pidie Jaya, Okta Handipa, mengatakan banjir susulan tersebut berdampak pada 18 gampong yang tersebar di lima kecamatan itu. Hingga Minggu pagi, air masih menggenangi Gampong Dayah Usen, Kecamatan Meurah Dua, sementara di gampong lainnya air mulai surut, meski masih menyisakan genangan dan lumpur.
Banjir yang kembali terjadi ini memperlihatkan persoalan kerentanan kawasan permukiman terhadap bencana belum sepenuhnya teratasi. Hampir setahun berlalu sejak banjir besar November 2025, ancaman serupa ternyata masih membayangi kehidupan warga Pidie Jaya, dan masyarakat harus kembali menghadapi kerugian serta pekerjaan membersihkan sisa-sisa banjir.
Penanganan bencana tidak cukup berhenti pada pendataan korban, evakuasi, penyaluran bantuan, dan pembersihan lumpur setelah air surut. Evaluasi menyeluruh terhadap sistem drainase, kapasitas aliran sungai, kondisi tanggul, serta perlindungan kawasan permukiman rawan banjir menjadi kebutuhan mendesak. Program rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana pun perlu berjalan seiring dengan upaya pengurangan risiko bencana, sebab membangun kembali rumah dan infrastruktur tanpa memperkuat perlindungan kawasan rawan banjir berpotensi membuat masyarakat terus terjebak dalam siklus bencana yang sama.
Bagi warga Pidie Jaya, banjir November 2025 mungkin telah berlalu hampir setahun. Namun air yang kembali mengepung 18 gampong pada awal November 2026 menjadi bukti bahwa ancaman bencana belum benar-benar menjauh dari kehidupan mereka.
Apa poin penting dari berita ini?
- Banjir susulan merendam 18 gampong di lima kecamatan Kabupaten Pidie Jaya pada Minggu (1/11/2026) dini hari.
- Banjir dipicu hujan berintensitas tinggi pada Sabtu (31/10/2026) dan datang belum genap setahun setelah banjir besar November 2025.
- Air setinggi di atas lutut orang dewasa masuk ke rumah-rumah warga.
- Hingga Minggu pagi, air masih menggenangi Gampong Dayah Usen, Kecamatan Meurah Dua, sementara di gampong lainnya air mulai surut meski masih menyisakan genangan dan lumpur.
- Evaluasi menyeluruh terhadap sistem drainase, kapasitas aliran sungai, kondisi tanggul, serta perlindungan kawasan permukiman rawan banjir menjadi kebutuhan mendesak.


